Mother&Baby Indonesia
Waspada Tifus pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya!

Waspada Tifus pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya!

Wajar jika hari-hari belakangan ini, Moms sebagai orang tua, merasa khawatir virus corona menyerang anak Anda, terutama setelah mendengar kabar bahwa banyak anak yang terpapar dan positif COVID-19. Meskipun begitu, tak hanya COVID-19 yang patut mendapat perhatian lebih. Anda juga mesti waspada dengan penyakit tifus, biasa dikenal juga dengan istilah tipes.

Ya, selain demam berdarah dengue (DBD), tifus atau demam tifoid merupakan penyakit yang umum dialami anak-anak dan menjadi masalah kesehatan serius yang kerap ada di negara-negara berkembang. tifus merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhii. Penyakit ini menyebar melalui makanan dan air yang telah terkontaminasi bakteri serta melalui kontak langsung dengan penderita.



Penyebab dan gejala tifus pada anak

Seperti telah disebutkan, tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini sangat mudah menyebar di tempat yang memiliki kondisi sanitasi buruk. Bakteri ini pun berkembang dengan cepat di genangan air kotor, makanan yang tidak sehat, dan lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya.

Umumnya tifus dialami anak-anak yang sering jajan di sembarang tempat. Selain melalui makanan, penularan tifus juga bisa melalui tangan penderita yang tidak dicuci bersih. Misalnya, jika Moms atau anggota keluarga terserang tifus dan menyiapkan makanan untuk Si Kecil padahal tangan belum bersih, kuman tifus bisa menular kepada Si Kecil.

Dibandingkan pada orang dewasa, gejala tifus pada anak lebih sulit terdeteksi karena tidak spesifik. Namun, Anda perlu waspada jika Si Kecil mengalami demam yang naik-turun lebih dari 5 hari. Demam biasanya naik di sore hingga malam dan turun menjelang pagi sampai siang hari. Selain demam, berikut beberapa gejala yang umumnya muncul saat anak menderita tifus:

• Sakit perut 

• Gangguan buang air besar, misalnya diare atau susah BAB



• Mual dan muntah

• Lemas dan pegal-pegal 

• Sakit kepala atau pusing

• Nyeri tenggorokan 

• Selera makan menurun

• Lidah tampak memutih dengan ujung dan tepi kemerahan.

Pengobatan tifus pada anak

Pemberian antibiotik adalah pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi tifus. Namun, Anda tidak boleh sembarangan memberikannya dan harus sesuai dengan anjuran dokter. Untuk mempercepat penyembuhan tifus Si Kecil, jaga asupan cairannya agar ia tidak mengalami dehidrasi. Hal ini juga berguna untuk mencegah terjadinya demam berkepanjangan dan diare. Jangan lupa berikan makanan sehat tinggi kalori untuk menggantikan nutrisi Si Kecil yang hilang saat sakit.

Rawat inap untuk mengatasi penyakit ini tidak selalu diperlukan. Anak masih dapat berobat jalan selama ia masih dapat minum. Namun, bila Si Kecil sama sekali tidak mau minum dan lemas, maka ia harus dirawat inap.

Tifus juga penyakit yang bisa menyerang anak walaupun Si Kecil sudah pernah mengalaminya. Karena itu, Moms mesti memperhatikan pola makan dan kebersihan lingkungan sekitar. Agar terhindar dari makanan yang terkontaminasi kuman Salmonella typhi, biasakan untuk membawakan masakan Anda sendiri sebagai bekal Si Kecil. Juga jangan lupa, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkannya.

Beda antara tifus dan paratifus

Selain tifus, Moms juga pernah mendengar tentang penyakit paratifus, bukan? Sebenarnya tidak ada beda signifikan antara tifus dan paratifus. Yang membedakan hanyalah jenis kumannya, yaitu kuman paratyphi dan Salmonella typhi, sedangkan gejala penyakitnya pun sama.

Untuk mengetahui apakah demam dan gejala lain itu adalah tifus atau paratifus, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium (tes darah) melalui tes widal, tetapi tes ini ternyata belum 100 persen benar. Tes lain yang lebih akurat dan spesifik adalah tes Salmonella Imuno Globulin M (Salmonella IGM), sayangnya tes ini hanya ada di rumah sakit-rumah sakit tertentu. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: tifus,   tipes,   paratifus,   anak,   balita