Mother&Baby Indonesia
Waspada Plasenta Previa, Ini Bahayanya bagi Ibu Hamil

Waspada Plasenta Previa, Ini Bahayanya bagi Ibu Hamil

Moms, ketika Anda hamil, selain janin, di dalam rahim juga tumbuh organ penting yang disebut plasenta. Organ satu ini punya banyak manfaat bagi janin. Plasenta merupakan organ yang menghubungkan janin di dalam rahim dengan tubuh ibunya. Melalui plasenta, janin mendapatkan nutrisi, oksigen, membuang residu yang dihasilkan oleh janin, serta melindungi janin dari infeksi bakteri.

Karena fungsinya yang penting bagi perkembangan janin, bumil tentu saja wajib menjaga kesehatan plasenta. Gangguan yang terjadi pada plasenta saat kehamilan dapat membawa dampak buruk terhadap tumbuh kembang dan kesehatan janin. Salah satu jenis masalah terkait plasenta yang dialami bumil adalah plasenta previa. Kenali lebih jauh masalah kesehatan ini, Moms.



Apa Itu Plasenta Previa?

Plasenta previa adalah kondisi di mana plasenta berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Ini merupakan permasalahan plasenta yang umum dijumpai di awal kehamilan, tetapi seiring dengan bertambahnya usia kehamilan dan pertumbuhan rahim, plasenta biasanya bergerak ke atas dan menjauh dari mulut rahim.

Plasenta yang tidak bergerak ke atas dan menutupi sebagian mulut rahim disebut plasenta previa parsial dan plasenta yang menutupi seluruh mulut rahim disebut plasenta previa total. Hanya sedikit kasus wanita hamil dengan diagnosis plasenta previa sebelum usia kehamilan menginjak 20 minggu yang tetap memiliki kondisi ini di trimester akhir kehamilan.

Plasenta previa yang ditemukan di akhir masa kehamilan dapat menyebabkan perdarahan yang parah sebelum atau saat melahirkan. Kondisi ini dapat berujung pada sejumlah permasalahan lain, termasuk persalinan prematur.

Penyebab Plasenta Previa

Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti. Walaupun begitu, ada sejumlah faktor yang bisa membuat bumil berisiko mengalami masalah ini, seperti:

• Berusia lebih dari 35 tahun



• Bukan kehamilan yang pertama, atau kehamilan sebelumnya juga mengalami plasenta previa

• Hamil bayi kembar dua atau lebih

• Gemar merokok saat hamil

• Memiliki riwayat pernah menjalani operasi pada rahim

• Posisi janin yang tidak normal, seperti sungsang

• Memiliki bentuk rahim yang tidak normal.

Gejala Plasenta Previa

Plasenta previa lebih sering diketahui tidak dalam bentuk gejala-gejala, tetapi dapat dideteksi melalui USG pada trimester kedua, meski masalah yang timbul akibat plasenta previa biasanya baru muncul pada trimester ketiga. Plasentia previa yang terjadi pada trimester kedua dan ketiga dapat terjadi pada 1 dari 200 kasus kehamilan. Berikut ini gejalanya:

• Perdarahan tanpa disertai rasa sakit pada akhir trimester kedua atau awal trimester ketiga kehamilan. Perdarahan bisa banyak atau sedikit, dan berulang dalam beberapa hari. Perdarahan juga bisa muncul setelah berhubungan intim.

• Kontraksi atau kram perut.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika plasenta previa terjadi di awal kehamilan, tidak ada yang perlu dilakukan hingga trimester ketiga, sebab hampir semua kasus plasenta previa dapat memperbaiki posisinya sendiri. Tidak perlu dilakukan kondisi medis apa pun jika Anda tidak mengalami perdarahan yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

Namun, jika Anda mengalami perdarahan dan setelah didiagnosis memiliki plasenta previa, tindakan penanganan yang umum dilakukan adalah istirahat total. Tindakan lain yang juga sering disarankan adalah tidak melakukan aktivitas seksual selama hamil. Selain itu, tes USG secara berkala juga penting dilakukan untuk mengontrol kondisi plasenta.

Apabila terjadi perdarahan hebat, maka persalinan dengan metode caesar yang dilakukan dengan segera bisa menjadi tindakan penanganan. Untuk itu, konsultasi dengan dokter kandungan harus dilakukan untuk mendapatkan tindakan penanganan yang tepat berdasarkan kondisi ibu dan janin. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   plasenta,   plasenta previa