Mother&Baby Indonesia
Mom of the Month: Anjar Delfawood

Mom of the Month: Anjar Delfawood

Ada rasa bersalah terselip di relung hati Anjar Delfawood (29) kala ia tak berada dekat dengan kedua buah hatinya. Di sisi lain, wanita asal Sukabumi ini enggan berdiam diri saja di rumah dan merasa tak berdaya. Ia ingin tetap berkarya serta menghasilkan sesuatu di tengah usahanya menjadi ibu terbaik bagi Adelle Afaf Alani (6) dan Abraham Alfatih Wirawan (4).

Menjadi seorang ibu bagaikan berada di lintasan lomba. Masing-masing berusaha menunjukkan kepada ibu lain, bahwa mereka adalah yang terbaik melalui pola asuh dan cara mengurus keluarganya. Namun terkadang seorang ibu lupa bahwa dirinya tak perlu menjadi yang terbaik di mata ibu lain, melainkan terbaik bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Hal inilah yang disadari betul oleh Anjar. Menjadi penjual tanaman bukan sekadar profesi yang dipilih Anjar, melainkan sebagai cara untuk menjadi ibu yang baik versi dirinya sendiri di mata putra dan putrinya.

Sudah cukup lama Anjar mulai berkecimpung di dunia bisnis tanaman. Perjalanannya tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun segala lika-liku yang ia jalani berhasil menjadikannya sebagai sosok ibu yang sukses sebagai pengusaha sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri kedua anaknya. Hal inilah yang membuat Anjar, pemilik Delfawood Plantshop, terpilih sebagai Mom of the Month Mei 2021. Simak wawancara seru Mother&Baby dengan Anjar Delfawood berikut ini.



Sejak kapan memulai bisnis tanaman? Dan mengapa memilih bisnis tanaman?

Saya memulai bisnis tanaman pada 2016, tapi menyadari bahwa bisnis ini perlu dijalani secara serius pada 2017. Kala itu saya sudah resign dari pekerjaan lama. Lalu berpikir, “Saya harus melakukan apa ya, untuk bisa berdaya?” Saya ingin punya penghasilan meski hanya di rumah sambil mengurus anak. Awalnya saya menjadi reseller barang-barang kerajinan kayu, tapi ternyata tidak jalan. Dan karena suka tanaman, ya saya pun memulai usaha di dunia tanaman.

Bagaimana awal perjalanan Anda di dunia bisnis tanaman hingga bisa sukses seperti saat ini?

Saya memulai bisnis tanaman ketika tengah mengandung anak kedua. Kala itu, saya lagi hamil besar dan dokter menyarankan saya untuk lebih banyak di rumah saja. Nah, karena lebih sering di rumah, mengurus tanaman dan sering posting di media sosial, orang-orang jadi berpikir saya berjualan tanaman. Padahal saat itu, saya menjual produk lain. Tanaman hanya saya gunakan sebagai background foto. Tapi ternyata banyak yang menanyakan harga tanaman tersebut. Akhirnya saya mulai menjual tanaman. 

Pada 2017, anak kedua saya lahir. Saya mulai berpikir, sepertinya seru ya, kalau bisnis tanaman ini dijalani secara serius. Berawal dari tanaman di rumah yang saya pecah, lantas saya jual. Dan pada 2021, usaha saya sudah menyandang status sebagai perusahaan. Saya juga punya karyawan.

Tetapi harus diakui, prosesnya tidak mudah. Dahulu saya sempat berjualan tanaman keliling komplek. Belajar memecah tanaman pun dilakukan secara otodidak. Saya coba-coba sendiri saja. Tapi dengan cara seperti itu, saya benar-benar belajar banyak hal.


Apa saja suka duka menjalankan bisnis tanaman sendiri?

Sukanya tentunya saja karena saya bisa full time bersama anak-anak. Terkadang anak-anak juga ikut ke kebun, sehingga mereka juga punya hobi berkebun. Jadi tanpa harus ke playground dan lain sebagainya, mereka sudah kepanasan, berkeringat, dan bersenang-senang. Dukanya, mungkin saat dahulu saya suka membawa anak-anak berjualan tanaman menggunakan motor. Jadi ya, mereka sering batuk atau pilek yang membuat saya merasa bersalah. Namun saat ini sih, lebih banyak sukanya.  

Pernah mengalami kesulitan dalam berbisnis tanaman sehingga membuat Anda merasa ingin menyerah?

Kalau ingin menyerah mungkin tidak, tapi pernah merasa sedih saat harus berpura-pura. Jadi dulu suami saya berdinas di Yogyakarta dan libur pada Sabtu-Minggu saja. Saat suami di Yogyakarta, ia rajin menanyakan usaha saya. laku atau tidak. Ya, saya jawab saja laku. Banyak yang beli.

Lalu ketika suami pulang, dia bertanya “Mana uang hasil jualan?” Saya jawab, “Sudah habis dipakai makan dan beli baju anak-anak.” Padahal saat itu tidak ada yang beli tanaman. Itu saja hal tersulit yang harus saya hadapi. Membohongi suami untuk menunjukkan bahwa saya dan anak-anak baik-baik saja, sehingga ia merasa tenang.

Apakah sejak awal suami mendukung keinginan Anda melakoni bisnis tanaman?

Suami adalah orang yang paling mendukung. Suami saya tuh, orang yang pertama kali mengatakan bahwa saya pasti bisa melakukan usaha ini karena dia menganggap saya adalah sosok yang nekat dan pekerja keras. Waktu awal-awal memulai, kami hanya memiliki satu mobil dan dibawa suami ke Yogyakarta. Jadi untuk beli tanaman dalam jumlah banyak, kami hanya menggunakan motor. Dan saya pun harus duduk di antara tumpukan karung di motor.



Suami saya juga mendukung bukan hanya dengan kata-kata. Pernah saya membeli pot dari Yogyakarta. Akhirnya suami saya yang mengantar menggunakan mobil pulang pergi dari Yogyakarta. Suami tidak pernah melarang karena sebelum berbisnis tanaman, saya telah mencoba berbagai usaha lainnya. Sejak masih bekerja kantoran, saya sudah mulai ikut bazaar berjualan kerudung dan lain-lain. Jadi suami sudah tahu betul bahwa berbisnis sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya.


Bagaimana mengatur kesibukan berbisnis dengan kesibukan mengurus anak-anak?

Kalau saya, diawali dengan membatasi penggunaan gadget! Jika memang ada pekerjaan, lebih baik dihubungi langsung via telepon karena saya tidak selalu memegang handphone. Saat saya menghabiskan waktu dengan gadget dan tidak bersama anak-anak, saya akan merasa bersalah karena masa kecil mereka tak akan terulang lagi.

Selain itu, saya juga melibatkan anak-anak di hampir semua kegiatan. Misalnya, saya harus bertemu orang untuk wawancara, maka saya akan ajak mereka. Dengan begitu mereka tahu apa yang dikerjakan mamanya. Bahkan masak pun biasanya bareng anak-anak.

Dan saat ini, anak-anak saya sudah punya tanggung jawab sendiri. Mereka merapikan kamar sendiri dan saya yang membantunya. Bukan mereka yang membantu saya, tapi saya yang membantu mereka. Bisa dibilang, saya sangat menikmati masa-masa sekarang ini. Saya merasa bahwa saya telah menjadi sosok ibu yang saya inginkan. Jadi versi terbaik dari seorang ibu sudah berhasil saya lakukan. Versi terbaik menurut diri saya sendiri, ya.

Ibu terbaik versi Anda sendiri, maksudnya?

Terkadang ibu-ibu punya definisi ibu terbaik dengan versi yang berbeda. Tak jarang juga mereka melihat orang lain dan ingin seperti dia. Tapi sesungguhnya tidak selalu bisa seperti itu.

Jadi kalau saya ingin seperti ibu yang lain yang jago masak, jago baking, jago membereskan rumah, rasanya saya tidak akan pernah selesai. Jadi lebih baik, saya membuat versi ibu terbaik bagi diri saya sendiri. Ibu yang punya waktu 24 jam untuk anak-anak saya, melakukan segalanya bersama-sama, dan anak-anak sudah mampu untuk punya tanggung jawab sendiri. Saya bisa membantu anak-anak mengerjakan tanggung jawab mereka, dan mereka membantu saya mengerjakan tanggung jawab saya.

Anda selalu bersama anak-anak. Apakah anak-anak juga mengikuti jejak Anda di bidang tanaman?

Anak-anak saya punya tanaman sendiri. Seperti mamanya, anak saya juga suka mengikuti gaya hidup terkini. Seperti si kakak misalnya, dia punya usaha sendiri juga. Dia berjualan kaus kaki dan topi. Paling saya membantunya untuk pengiriman ke luar kota. Nah, dia menggunakan hasil usahanya itu untuk membeli barang yang diinginkannya.

Saya selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa kita tidak selalu bisa mendapatkan segalanya dengan cara meminta. Jadi mereka punya anggaran masing-masing untuk membeli mainan, tanaman, dan sebagainya. Kalau anggaran “belanja” mereka sudah habis dan ingin membeli sesuatu, saya akan bilang “Kakak kerja dulu. Kakak bisa kasih mama apa?”

Saya membuat versi ibu terbaik bagi diri saya sendiri. Ibu yang punya waktu 24 jam untuk anak-anak, yang melakukan segalanya bersama-sama. Saya bisa membantu anak-anak mengerjakan tanggung jawab mereka, dan mereka membantu saya mengerjakan tanggung jawab saya.

Anda mengajarkan anak untuk berusaha sejak usia berapa?

Sebenarnya sih, lebih karena melihat orang tuanya. Selain itu, saya juga sering bercerita ke mereka. Misalnya, kami lagi ke mal, lalu saya ingin membeli baju. Maka saya akan bilang ke anak-anak, “Mama ingin membeli baju itu, tapi mau usaha dulu untuk dapatkan uangnya.” Jadi saya selalu menyampaikan hal seperti itu kepada mereka. Saya tidak pernah berkata “Tidak ada uang”, melainkan mengajarkan untuk berusaha terlebih dahulu.

Beruntung, saya memiliki anak-anak yang sangat pengertian. Saking pengertiannya anak-anak, bahkan mereka yang sering menghibur saya ketika diserang netizen. Saat dikatakan jelek atau apa, mereka akan bilang, “Sudah jangan didengarkan. Mama tetap cantik.” Mereka juga melarang saya membaca komentar orang yang tidak enak.

Mungkin menurut orang tua lain, tidak sepantasnya seorang ibu menceritakan masalahnya kepada anak-anak. Tapi ibu terbaik versi saya adalah dengan cara terbuka kepada anak-anak. Kalau saya lagi lelah atau ingin sendiri dahulu, saya juga akan bilang kepada anak-anak. Intinya ada komunikasi.


Saat ini Delfawood Plantshop sudah cukup sukses. Apakah ada rencana-rencana lain dalam usaha Anda?

Saat ini saya memiliki dua cabang Delfawood. Yang satu untuk perusahaan, dalam arti untuk memenuhi kebutuhan finansial saya dan karyawan, sedangkan yang kedua untuk membangun rumah bagi lansia dan saat ini sudah berjalan. Belum sampai setahun, kami sudah membangun tiga rumah. Kami juga ingin membangun masjid. Jadi kami ingin, toko Delfawood yang satu lagi memang khusus untuk kegiatan sosial. Selain itu, saya juga ada bisnis kuliner online juga. Menurut saya, risiko usaha online lebih kecil untuk saat ini.

Ada tips bagi Moms yang ingin memulai memelihara tanaman atau bahkan memulai bisnis tanaman?

Untuk Moms yang ingin mulai memelihara tanaman, pertama jangan hanya terbuai dengan tren. Karena semua tren, baik fashion, makanan, maupun tanaman pasti ada masa redupnya. Kalau hanya mengikuti tren, kita tidak akan pernah selesai.

Kedua, pastikan Anda memang sehati dengan tanaman itu. Terkadang kita beli hanya karena ingin ikut-ikutan. Memelihara tanaman sama seperti memelihara hewan. Jika kita suka atau sayang, pasti tanaman itu akan dipelihara dan dirawat dengan baik.

Ketiga berhubungan dengan budget. Sebenarnya, Moms tidak perlu membeli semua jenis tanaman yang lagi tren. Tapi Moms bisa mengakalinya dengan cara plant swap atau saling bertukar tanaman, dan patungan yang tentunya lebih murah.

Sedangkan bagi Moms yang ingin memulai bisnis apa pun juga, pastinya Anda perlu jeli melihat peluang karena tidak semua orang berada di lingkungan yang sama. Bisa jadi di lingkungannya ada yang lebih tertarik dengan fashion, kuliner, atau tanaman. Yang kedua tentu saja adanya niat. Dan yang ketiga, harus berani menunjukkan potensi kepada orang lain. 

Dalam bisnis, saya meyakini, selain potensi juga dibutuhkan keberuntungan. Jika memang usaha Anda tak berhasil selama dua atau tiga bulan, mungkin lebih baik mencoba usaha lain. Sesuatu hal yang dipaksakan biasanya tidak berjalan dengan baik. Setiap orang tentunya pernah mengalami kegagalan, termasuk saya sendiri. Saya pernah berjualan baju menggunakan nama Delfawood yang sudah besar, ternyata bisa gagal juga.

(Wieta Rachmatia/SW/Foto: Insan Obi/MUA: Rezy Andriati)



Tags: anjar delfawood,   delfawood plantshop,   mom of the month,   keluarga