Mother&Baby Indonesia
Breastfeeding Jaundice, saat Bayi Kuning Karena Kurang ASI

Breastfeeding Jaundice, saat Bayi Kuning Karena Kurang ASI

Setelah lahir, bayi akan mengalami kondisi tubuh yang memproduksi lebih banyak bilirubin daripada yang dapat diproses oleh hati. Bilirubin sendiri adalah pigmen berwarna kuning kecokelatan, hasil dari proses destruksi sel darah merah. Kondisi ini membuat Si Kecil mengalami penyakit kuning atau dikenal juga dengan jaundice. Umumnya, bayi yang memiliki risiko terkena penyakit kuning adalah bayi prematur dan bayi yang kekurangan cairan.

Berlebihnya pigmen bilirubin ini akan mengalir dan masuk ke dalam aliran darah serta sel-sel tubuh. Hal tersebutlah yang membuat tubuh bayi menjadi menguning. Normalnya, bilirubin akan larut dalam air, lalu masuk ke dalam usus untuk dibuang saat Si Kecil BAB. Namun pada bayi kuning, sebagian bilirubin yang ada di dinding usus terserap kembali oleh tubuh menjadi lemak.



Penyakit kuning pada bayi sering dikaitkan dengan pemberian ASI, bahkan ada mitos yang menyebutkan Moms perlu berhenti menyusui sebagai solusi. Padahal, jumlah ASI yang diproduksi dan frekuensi menyusui menjadi pengaruh bayi mengalami penyakit kuning. Hal ini disebut dengan breastfeeding jaundice.

Mengenal Breastfeeding Jaundice

Breastfeeding jaundice disebabkan bayi tidak mendapatkan asupan susu yang mencukupi. Biasanya, masalah ini terjadi karena belum banyaknya produksi ASI ibu atau karena adanya masalah menyusui sehingga bayi tidak mendapatkan cukup asupan ASI. Untuk itu, Moms perlu melatih cara perlekatan yang baik dan benar agar menyusui Si Kecil dapat berlangsung dengan nyaman dan lancar.

Pemberian ASI penting untuk bayi, karena dapat membantu menurunkan tingkat bilirubin. Jika asupan ASI Si Kecil cukup, maka buang air besarnya pun akan lebih sering. Kadar bilirubin juga bisa ikut keluar melalui feses bayi tersebut.



ASI juga memiliki peran untuk meningkatkan pergerakan usus Si Kecil, sehingga membantu tumpukan bilirubin dalam tubuh dan mencegahnya terserap kembali ke dalam sirkulasi darah. Breastfeeding jaundice tergolong wajar dan umumnya terjadi pada minggu pertama sejak bayi lahir.

Kondisi penyakit kuning ini akan menghilang dengan sendirinya apabila Si Kecil mendapatkan asupan ASI yang cukup. Bahkan, pemberian ASI yang semakin sering akan meningkatkan produksi susu pada ibu, sehingga kebutuhan kalori bayi juga terpenuhi. Dengan cukupnya jumlah ASI yang dibutuhkan Si Kecil, ia pun tidak akan mengalami dehidrasi yang berperan penting untuk mengurangi kondisi kuning pada kulit dan matanya.

Moms disarankan untuk memberikan ASI pada bayi sekitar 8 sampai 12 kali dalam waktu 24 jam, atau menyusui setiap 2 jam sekali sebagai solusi mengatasi penyakit kuning yang dialami bayi Anda. Untuk membantu menambah asupan nutrisi dalam ASI, Moms bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai suplemen tambahan yang mungkin perlu Anda konsumsi.

Berbeda dengan Breastmilk Jaundice

Bayi yang mengalami penyakit kuning karena kekurangan ASI nyatanya berbeda dengan bayi yang mengalami penyakit kuning disebabkan oleh ASI itu sendiri. Kondisi ini disebut breastmilk jaundice atau mata dan tubuh bayi akan menjadi kuning, meski bayi sehat dan mendapatkan asupan ASI yang cukup. Breastmilk jaundice bisa terjadi setelah tiga minggu usai Si Kecil lahir.

Sayangnya, belum diketahui pasti penyebab terjadinya kondisi ini. Para ahli menduga adanya substansi di dalam ASI yang menghambat pemecahan bilirubin pada tubuh bayi. Kondisi ini pun lebih sering dialami oleh bayi dengan riwayat kesehatan keluarga yang pernah mengalami hal serupa.

Walaupun kondisi kuning ini dapat menetap selama 2 sampai 12 minggu, namun hal ini tidak membahayakan. Selama kadar bilirubin terkontrol dengan tetap memberikan ASI yang mengandung cukup nutrisi, maka bayi akan bisa tetap sehat dan kondisi kuning ini akan menghilang dengan sendirinya. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: ibu menyusui,   asi,   bayi kuning,   jaundice