Mother&Baby Indonesia
Awas PAS! Sindrom Pengasingan Orang Tua pada Keluarga Broken Home

Awas PAS! Sindrom Pengasingan Orang Tua pada Keluarga Broken Home

Bagi pasangan yang baru berpisah, situasi tidak tinggal serumah lagi dengan Si Kecil tentu menjadi bagian terberat. Ketika Si Kecil sedang tinggal bersama salah satu orang tuanya, Moms atau Dads yang ditinggalkan mungkin punya pikiran negatif: Apakah mantan pasanganku akan mencuci otak anakku untuk membenciku? Jika hal ini benar terjadi, maka Anda sedang berhadapan dengan PAS atau parental alienation syndrome atau sindrom pengasingan orang tua.

PAS adalah situasi di mana salah satu orang tua melakukan berbagai strategi untuk menjauhkan anaknya dari orang tua satunya. Mari ketahui lebih lanjut mengenai PAS!



Apa Itu PAS?


Singkatan dari parental alienation syndrome, ini adalah kondisi di mana salah satu orang tua berusaha menjelekkan orang tua lainnya agar tidak disukai Si Kecil. Ini terjadi ketika mantan pasangan Anda secara terus-menerus membuat opini tidak menyenangkan mengenai Anda, agar citra Anda berubah menjadi negatif di mata anak.

Istilah PAS ini pertama kali digunakan pada 1985 oleh seorang psikolog anak bernama Richard Gardner. Sebenarnya, PAS tidak tergolong sindrom resmi di bidang kesehatan mental atau secara ilmiah, dan ini bukan sesuatu yang bisa didiagnosis. Namun bukan berarti PAS tidak memberi dampak pada kesehatan mental anak lho, Moms.

Tanda PAS


Ketika Gardner membicarakan soal PAS, ia mengindentifikasikan 8 tanda atau kriteria ini:

• Anak terus-menerus mengkritik secara tidak adil mengenai orang tua yang diasingkan. Ini sering disebut dengan istilah kampanye penolakan.

• Anak tidak punya bukti kuat atas hal-hal yang ia kritik dari orang tua yang diasingkan.

• Perasaan anak tentang orang tua yang diasingkan tidak bercampur, semuanya negatif dan serba bertentangan. Ini sering disebut dengan lack of ambivalence atau dua perasaan yang bertentangan.



• Anak bilang kritiknya untuk orang tua berasal dari kesimpulan dan pemikiran dirinya sendiri. Padahal, salah satu orang tuanya telah “memprogram” anaknya untuk berpikir buruk tentang orang tua lainnya.

• Anak memiliki dukungan tanpa henti untuk alienator (orang tua yang membuatnya mengasingkan orang tua lainnya).

• Anak tidak merasa salah untuk membenci atau memberikan sikap buruk pada orang tua yang diasingkan.

• Ketika anak menggambarkan situasi yang pernah atau tidak pernah terjadi tentang orang tua yang diasingkan, anak sering menggunakan istilah atau kalimat yang sepertinya diambil dari istilah orang dewasa.

• Kebencian anak pada orang tua yang diasingkan bisa melebar hingga membenci keluarga besarnya juga, seperti membenci sepupu, kakek nenek, dan keluarga lainnya.

Gardner kemudian menambahkan bahwa untuk didiagnosis PAS, anak harus punya ikatan hubungan yang erat dengan alienator, dan dulunya punya ikatan yang kuat juga dengan orang tua yang diasingkan. Gardner juga menyebutkan bahwa anak harus memiliki sikap negatif dengan orang tua yang diasingkan, dan mengalami kesulitan dengan transisi pengalihan pengasuh.

Contoh PAS


Apakah Anda atau mantan pasangan Anda ternyata adalah seorang alienator? Atau korban alienator? Ketahui contoh PAS berikut ini:

• Mencegah anak bertemu dengan orang tua yang diasingkan, dan bilang orang tuanya sedang sibuk atau tidak mau bertemu Si Kecil. Hati anak pasti kesal mendapat penolakan seperti ini kan, Moms.

• Memberi detail hubungan romantis antara orang tua yang diasingkan dengan orang lain. Anak akan merasa disakiti dan ditinggalkan oleh orang tua yang diasingkan, sehingga kemudian membencinya.

Alienator memaksa untuk menyimpan semua barang anak di rumah alienator, walau anak jarang menghabiskan waktu di sana.

Alienator mungkin merencanakan aktivitas super seru saat anak sedang menghabiskan waktu bersama orang tua yang diasingkan. Ini agar anak tidak menikmati waktu bersama orang tua yang satunya, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama alienator.

Alienator sering melanggar panduan atau batasan pembagian pengasuhan.

• Perampasan kerahasiaan. Ini bisa jadi alienator menyimpan catatan kesehatan anak, rapor, informasi teman-teman anak, dan banyak hal penting lainnya.

Alienator sering menanyakan kehidupan pribadi orang tua yang diasingkan, atau bahkan membahas gosip tentangnya. “Benar nggak Mama kamu sekarang sudah punya pacar? Kamu pasti enggak disayang lagi, ya?”

Alienator sangat mengendalikan hubungan anak dengan orang tua yang diasingkan. Ia akan memantau ponsel, interaksi, hadiah, dan semua hal yang menghubungkan anak dengan orang tuanya.

Alienator sering membandingkan orang tua lain dengan pasangan baru dari orang tua yang diasingkan. Tentunya membandingkan agar bisa dijelek-jelekkan ya, Moms.

Dalam kasus yang lebih serius, alienator dalam PAS bahkan bisa bersikap lebih agresif lagi. Alienator bisa menyembunyikan fakta, bahkan mulai menggunakan kekerasan dan ancaman agar anak membenci dan menjauhi orang tua yang diasingkan. Ini adalah situasi serius dan sudah bersifat kriminal! Pastikan ini tidak terjadi pada Si Kecil ya, Moms dan Dads. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   perceraian,   anak,   parental alienation syndrome,   parenting