Mother&Baby Indonesia
Ketika Haid, Pakai Pembalut, Tampon, atau Menstrual Cup?

Ketika Haid, Pakai Pembalut, Tampon, atau Menstrual Cup?

Suka tidak suka, menstruasi adalah tamu yang perlu Anda sambut setiap bulannya. Apa yang Moms gunakan saat haid? Zaman dahulu, perempuan memanfaatkan berbagai hal untuk menadah darah haid, mulai dari serabut rumput kering hingga bulu domba.

Untungnya, kini produk saniter untuk haid semakin beragam dan nyaman digunakan. Nah, kali ini M&B mengupas tuntas berbagai macam produk yang bisa digunakan saat haid, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Yuk, ketahui mana yang paling cocok untuk Anda!



1. Pembalut Sekali Pakai

Pembalut sekali pakai awalnya terinspirasi dari para perawat Prancis yang merawat tentara saat Perang Dunia I. Waktu itu, pembalut dibuat dari bahan yang sama dengan perban. Kini, pembalut dibuat dengan mengolah kapas dan bahan kimia lainnya.

Pembalut sekali pakai, bisa dibilang, adalah produk perawatan haid yang paling banyak dipilih oleh perempuan. Soalnya, penggunaannya mudah, harganya murah, serta terdapat banyak variasi. Sesuai dengan namanya, pembalut sekali pakai perlu langsung dibuang setelah dipakai.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pembalut perlu diganti setiap 4-6 jam agar bakteri tidak menumpuk di dalam tubuh dan mencegah kebocoran. Hindari memilih pembalut yang harum atau mengandung deodoran, karena bisa menyebabkan iritasi. Jangan buang pembalut ke dalam toilet, karena tidak dapat langsung terurai sehingga bisa menyebabkan saluran toilet tersumbat. Kekurangannya, kabarnya, pembalut sekali pakai baru bisa terurai setelah 500-800 tahun, jadi tidak ramah lingkungan.

2. Celana Pembalut

Seperti namanya, celana pembalut adalah pembalut sekali pakai yang berbentuk celana. Produk ini dibuat dengan bahan yang relatif sama dengan pembalut sekali pakai biasa. Yang membedakan, biasanya celana pembalut dapat menampung lebih banyak darah, sehingga cocok bagi Anda yang mengalami menstruasi yang deras, aktif bergerak, atau usai melahirkan. Penggunaannya pun lebih praktis dan nyaman, karena bentuknya celana jadi tak lagi perlu diselipkan di celana dalam. Sayangnya, celana pembalut juga tidak ramah lingkungan.



Namun, ada juga kok celana pembalut yang terbuat dari kain. Namun celana pembalut kain biasanya tidak mampu menyerap atau menampung banyak darah, sehingga hanya cocok jika Moms mengalami haid yang sedikit.

3. Menstrual Cup

Meski terdengar trendi, menstrual cup pertama kali ditemukan tahun 1970-an, lho. Bentuknya seperti cangkir dan terbuat dari bahan yang lentur, seperti karet ataupun silikon. Cara penggunaannya, Moms perlu memasukkan menstrual cup ke dalam vagina. Meski terkesan ngilu, jika dimasukkan dengan benar maka penggunaan menstrual cup nyaman dan tidak menyakitkan.

Menstrual cup tidak menyerap darah, melainkan menampungnya. Maka, Moms perlu mengeluarkannya sebelum penuh. Menurut laman organisasi New Zealand Family Planning, menstrual cup perlu dikeluarkan setiap 8-12 jam.

Menstrual cup juga perlu dibersihkan dan dirawat dengan baik agar tidak menjadi sumber bakteri bagi tubuh. Mencuci dengan sabun dan merebusnya dengan air hangat ampuh untuk mematikan bakteri. Maka, penggunaan menstrual cup dapat merepotkan jika Moms sedang bepergian, kecuali Moms membawa menstrual cup cadangan.

Karena dimasukkan ke dalam vagina, Moms bisa lebih fleksibel saat beraktivitas, terutama saat berolahraga. Menstrual cup juga ramah lingkungan, karena bisa dipakai berkali-kali sehingga tidak menimbun sampah dalam jangka waktu dekat. Namun, proses memasukkan dan mengeluarkan menstrual cup dapat menjadi tantangan tersendiri, terlebih lagi jika Moms takut atau jijik dengan darah.

4. Tampon

Bagi perempuan Indonesia, tampon mungkin bukan produk haid yang umum digunakan. Tampon dibuat dari bahan yang mirip dengan pembalut sekali pakai yang berbentuk tabung, dan berfungsi menyerap darah sebelum keluar dari vagina. Daya serap tampon juga bervariasi sesuai dengan jenisnya. Untuk penggunaannya, tampon perlu dimasukkan ke dalam vagina. Salah satu ujung tampong berbentuk bundar agar mudah dimasukkan, dan ujung lainnya dilengkapi tali agar mudah dikeluarkan.

Seperti pembalut sekali pakai, tampon perlu diganti setiap 4-6 jam untuk menghindari penumpukan bakteri di dalam tubuh dan kebocoran. Jangan buang tampon ke dalam toilet, karena sulit terurai sehingga bisa membuat toilet mampat. Hindari pemilihan tampon yang wangi, karena sebenarnya tidak bermanfaat dan justru bisa menyebabkan iritasi.

5. Pembalut Kain

Sebelum ada pembalut sekali pakai, menstrual cup, serta tampon, perempuan umumnya menggunakan kain yang diselipkan di pakaian dalam untuk menampung darah menstruasi. Kini, Moms kembali bisa menggunakan produk ini dalam bentuk pembalut kain. Seperti namanya, pembalut ini terbuat dari beberapa lapis kain dengan kancing yang diselipkan di celana dalam.

Kelebihannya, tentunya lebih hemat biaya karena bisa digunakan berkali-kali asalkan dicuci dan dirawat dengan baik. Umumnya, usia pembalut kain yang dirawat baik bisa mencapai 5 tahun. Dengan menggunakan pembalut kain, Moms juga bisa membantu merawat lingkungan dengan menghemat produksi sampah pembalut sekali pakai. Pembalut kain juga bisa mengurangi risiko ruam di selangkangan, karena terbuat dari kain yang lembut.

Penting untuk diperhatikan, penggunaan pembalut kain juga perlu diganti setiap 4-6 jam.  Pembalut juga perlu dicuci dengan bersih, lalu dikeringkan dengan sempurna agar bakteri atau jamur tidak tumbuh pada pembalut. Namun, hal ini tentu dapat merepotkan jika Moms sedang bepergian atau memiliki mobilitas yang tinggi. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: haid,   menstruasi,   pembalut,   menstrual cup,   tampon,   kesehatan,   perempuan