Mother&Baby Indonesia
Orang Tua Sering Bertengkar, Ini 8 Dampak Negatifnya pada Anak

Orang Tua Sering Bertengkar, Ini 8 Dampak Negatifnya pada Anak

Sedikit konflik dalam pernikahan mungkin sesuatu yang sulit dihindari. Hal ini wajar saja terjadi, asalkan tidak berlebihan dan terus-menerus. Pertengkaran Anda dan pasangan tidak hanya berdampak pada kesehatan rumah tangga, tetapi juga memberi banyak dampak negatif bagi kesehatan mental Si Kecil. Dampak negatif ini semakin besar jika Anda dan pasangan sering bertengkar di depan anak.

Jangankan anak yang sudah besar, dampak pertengkaran orang tua juga bisa menyerang bayi lho, Moms. Menurut sebuah penelitian, adu argumen di depan anak bisa memberi dampak negatif pada anak mulai usia 6 bulan. Bahkan remaja 19 tahun pun bisa sangat sensitif karena konflik orang tua.



Untuk mewaspadai risiko yang mungkin terjadi pada anak jika sering melihat orang tua bertengkar, mari ketahui dampak-dampak negatifnya, ya.

1. Merasa tidak aman

Keluarga harusnya menjadi wadah yang memberikan rasa aman pada anak. Jika orang tua sering bertengkar, rasa aman berada di tengah keluarga pun memudar. Akibatnya, anak merasa tidak aman dan kesulitan mengenai situasi normal pada suatu keluarga atau pernikahan. Tidak mau anak menilai pernikahan penuh amarah sebagai sesuatu yang normal kan, Moms?

2. Merusak hubungan orang tua dan anak

Konflik rumah tangga membuat orang tua stres! Ini membuat Moms dan Dads tidak tertarik untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama anak atau melakukan quality time. Anak tumbuh dengan orang tua yang suasana hatinya lebih sering buruk dibandingkan bahagia. Tentunya jadi sulit bonding, ya.



3. Suasana penuh ketegangan

Anak butuh lingkungan yang positif agar tumbuh kembangnya optimal. Jika orang tua sering bertengkar di hadapan anak, maka hal itu menjadi pemicu stres bagi anak yang sangat mengganggu kesehatannya, baik fisik maupun psikis. Stres juga bisa menjadi pemicu kurang optimalnya tumbuh kembang anak lho, Moms.

4. Mengurangi kecerdasan kognitif

Mengutip Very Well Family, sebuah studi pada tahun 2013 yang dipublikasikan di jurnal Child Development menguak fakta bahwa stres karena tingginya konflik rumah tangga dapat mengganggu kecerdasan kognitif anak. Ini karena pertengkaran orang tua membuat anak kesulitan mengontrol perhatian dan emosinya. Jangan kaget kalau masalah ini membuat perangai anak menjadi kurang bersahabat di kemudian hari, ya.

5. Sulit berteman

Seringnya mendengar atau melihat langsung pertengkaran orang tua membuat anak kelak kesulitan bersikap baik dan berteman. Jangan heran juga kalau anak menggunakan cara orang tuanya dalam menyelesaikan masalah, yaitu dengan bertengkar, untuk mengatasi masalahnya. They will fight fire with fire!

6. Masalah makan

Pertengkaran orang tua berkaitan erat dengan masalah makan anak lho, Moms! Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh emosi bisa mengalami anoreksia, bulimia, dan masalah makan lainnya. Tumbuh di lingkungan yang penuh tekanan juga bisa membuat anak sulit mengontrol emosi, membuatnya mudah berkelahi dengan teman sebaya. Kalau ini sampai terjadi, sudah pasti anak bisa mengalami berbagai masalah fisik.

7. Kenakalan remaja

Banyak yang mengira anak remaja sudah lebih mudah menghadapi pertengkaran orang tua. Wah, padahal ini salah total, Moms. Tumbuh di lingkungan pemicu stres membuat anak lebih rentan melakukan kenakalan remaja di kemudian hari. Parahnya lagi, anak lebih rentan bermasalah dengan hal-hal merugikan, seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, mariyuana, dan zat berbahaya lainnya.

8. Merusak pandangan hidup anak

Selain akan kesulitan bersosial dan berbaur di lingkungan baru, anak yang tumbuh dengan melihat konflik orang tua sebagai rutinitas bisa memandang hidup dan keluarga dengan lebih negatif. Sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Youth and Adolescence menemukan fakta bahwa anak yang sering melihat orang tuanya bertengkar akan memiliki rasa percaya diri lebih rendah dibandingkan anak yang orang tuanya jarang bertengkar.

Setiap pernikahan tentu punya masalahnya masing-masing, namun bukan berarti Anda harus menyelesaikannya dengan adu argumen sengit di depan anak. Ingat, sikap Anda hari ini sangat menentukan kehidupan anak hingga dewasa kelak. Anak berhak hidup aman dan bahagia lho, Moms. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   kesehatan mental,   konflik pernikahan