Mother&Baby Indonesia
Craniosynostosis, Kelainan Tulang Tengkorak Kepala Bayi

Craniosynostosis, Kelainan Tulang Tengkorak Kepala Bayi

Setiap ibu tentu ingin memiliki bayi yang lahir dengan sehat dan sempurna. Karenanya, selama kehamilan, Moms akan berusaha untuk fokus pada kondisi kesehatan diri sendiri serta tumbuh kembang janin agar selalu berjalan dengan baik.

Namun, risiko bayi lahir dengan kondisi tidak normal atau kecacatan masih mungkin terjadi. Salah satunya adalah craniosynostosis, atau kelainan tulang tengkorak bayi saat lahir akibat ubun-ubun yang tertutup lebih cepat sewaktu Si Kecil dilahirkan.



Penyebab dan Gejala Craniosynostosis

Kondisi cacat lahir seperti ini membuat kepala bayi tampak tidak normal. Selain itu, otak menjadi kurang bisa berkembang dengan maksimal. Penyebabnya sendiri dipicu oleh sindrom Crouzon, sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, dan sindrom lain yang memengaruhi perkembangan tengkorak.

Faktor lingkungan serta genetika dari riwayat keluarga juga menjadi faktor lainnya. Apabila Moms pernah menggunakan obat penyubur kandungan sebelum hamil, hal tersebut juga menjadi pemicu bayi baru lahir mengalami craniosynostosis. Kondisi cacat ini sendiri baru bisa dideteksi setelah bayi lahir.

Melansir dari Healthline, ada beberapa tanda-tanda yang dapat Moms perhatikan untuk mendeteksi craniosynostosis usai Si Kecil lahir, antara lain:

• Bentuk kepala berkembang tidak normal, seperti lebih pipih, memanjang, atau terlihat datar saat diperhatikan dari salah satu sisi.

• Bentuk kepala bayi terlihat lebih kecil dibandingkan usianya.

• Bagian ubun-ubun atau bagian lunak di kepala bayi tidak terasa sama sekali saat dipegang.



• Posisi salah satu telinga lebih tinggi daripada telinga yang lain.

• Bentuk dahi terlihat seperti segitiga dengan bagian belakang kepala yang lebar.

Jika Si Kecil memiliki tanda-tanda tersebut, konsultasikan segera dengan dokter, agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter akan melihat riwayat kesehatan keluarga serta kondisi Moms sebelum dan selama masa kehamilan. Selain itu, pemeriksaan dengan CT scan juga akan dilakukan untuk melihat kondisi tengkorak bayi dengan lebih detail.

Risiko Komplikasi Akibat Craniosynostosis


Apabila craniosynostosis tidak segera ditangani, akan muncul masalah atau komplikasi pada tumbuh kembang Si Kecil. Tak hanya menghambat perkembangan otak, bentuk wajah bayi juga akan mengalami gangguan seiring bertambahnya usia Si Kecil. Risiko kesehatan lain yang juga bisa terjadi di antaranya:

• Bayi mengalami kejang secara tiba-tiba.

• Adanya gangguan pergerakan bola mata hingga risiko kebutaan.

• Muncul gangguan kognitif, terutama pada sistem belajar serta cara berpikir anak.

• Bisa membuat Si Kecil mengalami keterlambatan perkembangan di setiap pertambahan usianya.

Bisakah Disembuhkan?

Craniosynostosis sendiri bisa terjadi pada bayi dengan tingkatan yang berbeda-beda. Pada kasus yang tidak terlalu parah, dokter akan menyarankan orang tua untuk memakaikan bayi helm khusus. Alat ini berguna untuk memperbaiki struktur tengkorak, sekaligus membantu perkembangan otak Si Kecil menjadi optimal.

Sedangkan pada kondisi yang lebih serius, tindakan pembedahan mungkin saja dilakukan. Metode bedah endoskopi dijalankan jika kelainan pada kepala diketahui saat bayi berusia di bawah 6 bulan. Pembedahan ini tidak membutuhkan transfusi darah, namun membutuhkan waktu hingga bentuk tulang tengkorak bayi rapi kembali.

Metode lainnya adalah bedah terbuka, yang dilakukan pada bayi dengan usia di atas 6 bulan. Prosesnya akan lebih kompleks, seperti memerlukan transfusi darah dan Si Kecil akan dirawat inap selama 3-4 hari. Penting untuk dipahami Moms, bahwa tindakan ini tidak hanya untuk memperbaiki bentuk tulang tengkorak, tapi juga untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   bayi baru lahir,   craniosynostosis,   kepala bayi