Mother&Baby Indonesia
Bolehkah Bayi Baru Lahir Tidur dengan Posisi Tengkurap?

Bolehkah Bayi Baru Lahir Tidur dengan Posisi Tengkurap?

Posisi tidur menjadi hal yang penting untuk menyamankan sekaligus membuat bayi tidur lebih pulas. Dan dibandingkan tidur telentang, bayi justru tampak menyukai posisi tengkurap yang membuatnya tidur lebih lama dan lelap.

Namun, secara medis posisi tengkurap bisa meningkatkan risiko SIDS (sudden infant deaths syndrome) atau kematian mendadak, khususnya pada bayi yang baru lahir hingga berusia 6 bulan. Mengapa hal ini bisa terjadi?



Dampak Buruk Tidur Tengkurap pada Bayi Baru Lahir

Setidaknya, ada tiga alasan bayi baru lahir tidak boleh tidur dalam posisi tengkurap, antara lain:

• Posisi tengkurap membuat perut bawah tertekan, sehingga menghambat saluran napas dan peredaran oksigen ke seluruh tubuh.

• Posisi tengkurap dapat membuat bayi menghirup kembali udara yang telah diembuskan (karbondioksida) sebelumnya.



• Posisi tengkurap meningakatkan risiko bayi terpapar bakteri yang menempel di tempat tidur saat ia bernapas.

Tak hanya saat tidur, Moms juga tidak dianjurkan memosisikan bayi tengkurap di atas dada atau tubuh Anda saat menyusui. Hal ini bisa membuatnya tersedak oleh ASI hingga kesulitan mengambil napas. Selain itu, posisi tengkurap juga dapat membuat bayi kegerahan. Pasalnya, suhu tubuhnya akan meningkat dan tertahan sehingga menjadi tidak seimbang. Hal ini bisa menyebabkannya terserang dehidrasi dan memicu demam yang berbahaya bagi Si Kecil.

Masalah pada tulang belakang juga bisa dirasakan oleh bayi baru lahir jika tidur dalam posisi tengkurap. Hal ini disebabkan oleh lengkung alami tulang belakang yang berubah menjadi kaku dan menegang. Kondisi tersebut membuat saraf-saraf ikut terpengaruh dan membuat Si Kecil mengalami mati rasa atau kesemutan di area tertentu.

Fungsi otak juga bisa terpengaruh jika Si Kecil tidur tengkurap. Organ tubuhnya seperti wajah, dada, hingga ujung kaki akan tertekan oleh berat badannya. Hal ini menyebabkan pasokan darah bayi ke otak akan terganggu. Kinerja jantung pun dapat menjadi lebih berat karena posisi tengkurap membuat tekanan pada bagian dada. Apabila berlangsung dalam waktu lama dan terus-menerus, maka hal ini dapat menyebabkan Si Kecil lemah jantung.

Saat tidur tengkurap, bayi juga akan memiringkan kepalanya ke satu sisi untuk bisa bernapas yang justru membuat tulang leher dan tulang belakang tidak sejajar. Jika hal ini terus terjadi, sendi pada leher akan menegang, kaku, hingga timbul nyeri karena sendi yang bergeser secara perlahan.

Membiasakan Bayi Tidur Telentang

Sebagai tambahan, Moms juga perlu mengetahui milestones posisi tidur bayi sesuai usia. Dimulai dari usia 0-3 bulan, Si Kecil tidur dengan posisi telentang. Lalu pada usia 3 bulan ke atas, ia sudah tidur dalam posisi miring samping juga tengkurap.

Sejak awal, akan lebih baik jika Moms membiasakan Si Kecil untuk tidur dengan posisi telentang. Posisi ini akan meningkatkan aliran udara, serta mencegah bayi mengalami GERD (gastroesophageal reflux) dan tersedak. Maka, meski rewel dan sulit di awal, sebisa mungkin Anda bisa mengubah posisi tidur bayi menjadi telentang.

Tidur tengkurap sendiri baru dibolehkan jika bayi sudah cukup kuat menopang kepala dan lehernya sendiri, setidaknya saat ia berusia 6 bulan. Anda bisa melakukan tummy time sebagai langkah melatih Si Kecil untuk bisa berguling, sehingga ia lebih aman dan nyaman ketika tidur telentang maupun tengkurap. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   bayi tidur,   bayi tidur tengkurap