Mother&Baby Indonesia
Apakah Janin Bisa Menangis saat di Dalam Kandungan?

Apakah Janin Bisa Menangis saat di Dalam Kandungan?

Saat hamil, Moms mungkin merasa penasaran, apa sih, yang dilakukan janin selama di dalam kandungan? Well, Anda tak sendirian Moms, karena banyak orang tua lain yang juga penasaran akan hal ini, tak terkecuali para ilmuwan!

Namun, dengan kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan, para ilmuwan mampu mengungkap banyak misteri seputar aktivitas janin di dalam rahim. Kini para peneliti bahkan bisa menjawab, apakah janin bisa menangis saat di dalam kandungan? Yuk, ketahui lebih banyak soal ini dengan membaca penjelasan berikut, Moms!



Menurut Penelitian

Ya, faktanya bayi dapat menangis saat berada di dalam rahim, Moms. Meskipun begitu, tangisannya tidaklah bersuara dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu Anda khawatirkan.

Hal pertama yang harus dimengerti adalah menangis tidak hanya ditandai dengan keluarnya suara tangisan yang tersedu-sedu, tapi respons tubuh secara keseluruhan. Tangisan bayi tidak akan terdengar hingga ia terpapar dengan udara. Maka dari itu, para peneliti meneliti aktivitas fisik kompleks dan respons yang menyebabkan tangisan janin.

Pada tahun 2005, para peneliti asal New Zealand melakukan penelitian untuk memeriksa aktivitas janin di dalam rahim. Penemuannya, janin menangis di dalam rahim dalam bentuk beberapa langkah, atau dalam rangkaian pergerakan tubuh dan ritme bernapas.



Sebelum penelitian ini dilakukan, hanya terdapat 4 kondisi janin (fetal states) yang terbukti terjadi, yakni diam, aktif, tidur, dan bangun. Kini, janin juga terbukti dapat menangis dan dikelompokkan menjadi satu dengan 4 kondisi janin lain yang terlebih dahulu ditemukan.

Penelitian ini menemukan bahwa di usia 20 minggu, janin dapat menunjukkan berbagai perilaku yang dibutuhkan untuk menangis, yakni menjulurkan lidah, mengoordinasikan upaya bernapas yang lebih rumit, membuka rahang, menggerakkan mulut, menggetarkan dagu, dan menelan. Pada usia 24 minggu atau lebih, bayi dapat menangis.

Studi ini juga melaporkan bahwa tangisan janin dapat terdengar hingga luar rahim sebagai sebuah fenomena yang sangat langka. Fenomena ini disebut sebagai vagitus uterinus. Pada peristiwa ini, udara menyelip masuk ke dalam rahim saat pembedahan dilakukan, sehingga janin kemudian terpapar oleh udara dan tangisannya dapat terdengar.

Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal akademis PLOS ONE pada tahun 2011 juga menemukan bahwa ekspresi wajah janin bisa menjadi indikator kunci respons menangis. Para peneliti studi ini juga setuju bahwa perilaku non-vokal yang menandakan tangisan sudah terbentuk sejak janin masih berada di dalam rahim.

Jadi, Apa Maksudnya?

Pada dasarnya, janin di dalam rahim sedang berlatih untuk menangis. Para peneliti juga menemukan bahwa janin menangis dalam waktu 15-20 detik. Kedua penelitian di atas juga menunjukkan bahwa janin dapat merespons stimulus negatif dan bereaksi terhadap hal tersebut.

Namun Anda tidak perlu khawatir Moms, karena menurut para peneliti, tangisan janin tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bahaya. Meskipun begitu, Moms bisa mengajak janin berbicara, menyanyikannya lagu kesukaan Anda, membacakannya cerita, atau mengusap-usap perut untuk membuat janin merasa nyaman dan bereaksi positif. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   janin