Mother&Baby Indonesia
Anak Adopsi, Haruskah Diberi Tahu? Ini Jawaban Psikolog Anak

Anak Adopsi, Haruskah Diberi Tahu? Ini Jawaban Psikolog Anak

Bagi pasangan yang belum dikaruniai momongan, mengadopsi anak adalah cara tepat untuk mencurahkan kasih sayang Anda pada seorang anak. Umumnya anak pun diadopsi sejak bayi, atau bahkan sejak baru lahir, meskipun banyak juga yang mengadopsi anak dengan usia lebih besar.

Walau tidak lahir dari rahim sendiri, tetapi kasih sayang yang diberikan tidak berbeda dengan anak kandung. Tidak ada lagi status anak adopsi di dalam hati Anda, karena hati dan pikiran sudah menganggap Si Kecil seperti darah daging sendiri.



Masalah mungkin mulai muncul ketika Si Kecil sudah semakin besar, begitu juga dengan cinta Anda padanya. Hati mulai gundah, haruskah ia diberi tahu perihal adopsi? Jika ya, bagaimana cara tepat memberi tahunya? Untuk menjawabnya, kami telah bertanya langsung pada Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psikolog, seorang pakar psikologi anak dan keluarga. Simak penjelasannya, yuk!

Haruskah Diberi Tahu?

Harus diberi tahu atau dibiarkan saja seumur hidup? Ini mungkin menjadi dilema terbesar bagi para orang tua yang mengadopsi anak. Menurut Anna Surti yang akrab disapa Nina, jawabannya adalah: Harus diberi tahu! Ya, anak harus tahu kalau orang tua yang selama ini merawatnya bukanlah orang tua biologisnya. “Perlu disadari bahwa seseorang itu punya asal, ada sesuatu yang mengikat secara genetik. Itu sesuatu yang harus disyukuri, bukan untuk disembunyikan,” ujar Nina saat InstaLive bersama Novita Angie, Editor in Chief Mother&Baby Indonesia di akun Instagram @motherbabyind.

Semakin Cepat Semakin Baik

Menurut Nina, semakin cepat Anda memberi tahu Si Kecil, hal tersebut akan semakin baik. Tentunya ada tahapan yang tepat untuk memberi tahu fakta adopsi ini ya, Moms. Cara terbaik untuk memulai wacana adopsi adalah dengan mengenalkan konsep adopsi terlebih dahulu. Nina menyarankan untuk memulainya dengan membacakan buku cerita mengenai anak yang diadopsi dan betapa keluarga yang mengadopsinya benar-benar merawatnya dengan cinta.



“Cerita seperti ini akan menimbulkan kesan positif di benak anak. Bahwa setiap anak punya hak untuk hidup, punya hak untuk dicintai. Lewat cerita seperti itu juga orang tua bisa menyematkan pesan bahwa anak tersebut bisa memberi kebahagiaan bagi keluarga yang mengadopsinya, dan begitu juga keluarga tersebut bisa memberi kebahagiaan bagi anak yang diadopsi,” jelas Nina.

Bagaimana Jika Dirahasiakan?

Sebagian orang tua mungkin memilih untuk merahasiakan fakta adopsi pada Si Kecil. Menurut Nina, dampaknya akan semakin buruk jika di kemudian hari anak mengetahui fakta ini dari orang lain. Karena akan selalu ada sosok yang bisa bilang, “Kayaknya enggak pernah hamil, kok tahu-tahu sudah punya anak?”

Jika di kemudian hari anak mengetahui fakta adopsi dari orang lain, maka ada banyak dampak negatif yang mungkin terjadi. Masalah kepercayaan atau trust issue adalah hal yang paling dirasakan anak, ia akan merasa dibohongi oleh keluarganya sendiri. Menurut Nina, trust issue ini akan mengganggu konsep diri anak, yang kemudian akan berkembang menjadi rentetan masalah, seperti:

• Mengurangi rasa percaya diri anak.

• Menimbulkan perilaku menyimpang.

• Anak menjadi pemberontak.

• Timbul rasa ingin kabur dari rumah untuk mencari orang tua biologisnya.

Rentetan masalah di atas bisa semakin jauh ketika anak merasa tidak didukung dalam mencari orang tua atau keluarga kandungnya. Jika rasa tidak didukung ini sudah mulai muncul, maka anak bisa melakukan hal yang membahayakan dirinya atau orang lain. “Kemungkinan seperti itu akan selalu ada, maka salah satu cara yang disarankan adalah memberi tahunya sejak masih kecil,” saran Nina. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   anak adopsi,   keluarga