Mother&Baby Indonesia
Waspada, Parental Burnout Rentan Terjadi Selama Pandemi

Waspada, Parental Burnout Rentan Terjadi Selama Pandemi

Sudah lebih dari satu tahun, anak-anak di Indonesia menjalankan sistem pembelajaran jarak jauh atau PJJ. Adanya pandemi COVID-19 membuat mereka terpaksa hanya belajar di rumah saja. Tidak bertemu teman-teman dan guru secara langsung tentunya membuat anak-anak sedih. Tapi efeknya bukan hanya pada anak-anak. Orang tua juga bisa dibuat stres dengan kondisi seperti saat ini.

Orang tua, khususnya para Moms, menghadapi penambahan serta perubahan tugas dan aktivitas sehari-hari. Sedangkan ketidakpastian mengenai kondisi saat ini juga secara tidak langsung menambah pikiran Moms dan Dads.



"Berdasarkan data yang dilansir Pew Research, sebanyak 52 persen orang tua dengan anak berusia di bawah 12 tahun mengalami kesulitan dalam menjalankan pengasuhan selama tahun 2020. Situasi ini membuat orang tua rentan mengalami parental burnout atau kondisi kelelahan yang sangat intens dalam menjalankan pengasuhan,” ungkap Saskhya Aulia Prima, M.Psi, Psikolog, dalam kegiatan LazBaby Media Briefing pada 9 Maret 2021.

“Ketika mengalami kondisi ini, orang tua dapat merasa jauh secara emosional dengan anak sehingga meragukan kemampuan diri dalam menjalani peran sebagai orang tua,” imbuh psikolog anak dan co-founder Tiga Generasi itu.

Survei yang dilakukan Lazada dan Babyologist kepada lebih dari 400 ibu juga menunjukkan kondisi tersebut juga dialami oleh para Moms di Indonesia. Berdasarkan survei tersebut, 84 persen ibu merasakan kelelahan mental dan fisik selama masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Selain itu, 87 persen mengaku menjadi lebih sensitif serta pernah merasa tidak percaya diri maupun gagal dalam mengasuh anak.

Karakteristik Parental Burnout dan Cara Mengatasinya

Sering kali parental burnout tidak disadari oleh para orang tua hingga kondisi ini mengganggu hubungan antara Moms dan buah hati. Oleh sebab itu, karakteristik parental burnout perlu dideteksi sejak dini sehingga bisa segera ditangani. Berikut ini beberapa karakteristik parental burnout yang bisa dialami orang tua:

• Orang tua mengalami kelelahan fisik dan mental dalam menjalani peran mengasuh anak.

• Tidak menemukan kesenangan dan kebahagiaan ketika mengasuh anak.



• Kerap merasa menjadi orang tua yang gagal atau tidak baik.

• Menjauhkan diri secara emosional dengan anak-anak.

Untuk menghindari sekaligus mengatasi parental burnout, Moms bisa melakukan beberapa langkah berikut ini:

1. Mengatur kembali rutinitas harian.

2. Menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga.

3. Latihan menyadari emosi-emosi yang terjadi pada diri sendiri.

4. Menyediakan alone time atau me time untuk melakukan sesuatu yang Anda sukai.

5. Memperkuat support system yang positif.

6. Mengeksplorasi indra-indra guna membantu meregulasi emosi sehari-hari.

Dukungan Lazada

Menyadari para orang tua, khususnya Moms, membutuhkan dukungan dalam menjalankan peran sehari-hari di masa pandemi COVID-19, Lazada menggelar serangkaian edukasi parenting melalui Lazada Baby & Kids Festival selama Maret 2021. “Kami bekerja sama dengan Babyologist dan berbagai brand, untuk menampilkan para ahli di bidangnya masing-masing, seperti dokter anak, psikolog, hingga konselor keluarga untuk mengangkat topik yang disesuaikan dengan kebutuhan orang tua pada masa pandemi,” kata Lia Kurtz, VP FMCG Lazada Indonesia.



Selama 10-12 Maret 2021, ada 10 talk show yang bisa disaksikan di Instagram @thebabyologist. Selain seminar edukasi, Lazada juga menawarkan berbagai promo menarik selama Lazada Baby & Kids Festival berlangsung. Moms bisa menikmati diskon hingga 50 persen, ribuan voucher, hingga gratis ongkir, ketika berbelanja perlengkapan ibu, bayi, dan anak khusus di Lazada Baby Flagship. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik, Lazada)



Tags: parental burnout,   keluarga,   pandemi