Mother&Baby Indonesia
Penyakit Seksual Menular yang Perlu Diwaspadai

Penyakit Seksual Menular yang Perlu Diwaspadai

Anda merasakan nyeri atau menemukan ruam atau luka melepuh di area intim dan sekitarnya? Hati-hati, bisa jadi kondisi tersebut menjadi gejala adanya penyakit menular seksual.

Sesuai dengan namanya, penyakit menular seksual merupakan penyakit yang pada umumnya ditularkan melalui hubungan seks, baik secara vaginal, anal, maupun oral. Namun dalam beberapa kasus, penularan penyakit tersebut juga bisa melalui pemakaian jarum suntik secara berulang atau bergantian.



Ibu hamil yang menderita penyakit seksual juga bisa menularkannya ke janin. Pada dasarnya, penyakit menular seksual menyebar melalui darah, sperma, atau cairan tubuh lainnya. Ada cukup banyak jenis penyakit menular seksual. Berikut adalah beberapa penyakit yang perlu Anda waspadai.

1. Sifilis

Sifilis adalah penyakit seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini mempunyai gejala seperti munculnya luka pada alat kelamin atau mulut. Luka ini pada umumnya akan bertahan antara 1 hingga 2,5 bulan tanpa rasa sakit. Meski tidak terasa nyeri, penyakit sifilis sangat mudah menular.

Oleh sebab itu, penyakit sifilis perlu segera ditangani. Jika dibiarkan maka infeksinya akan berlanjut ke tahap berikutnya yang mirip dengan gejala flu serta mengalami kerontokan rambut hingga pitak. Selain itu, sifilis juga bisa menyebabkan kelumpuhan, kebutaan, impotensi, munculnya masalah pendengaran, hingga kehilangan nyawa apabila tidak segera ditangani.



2. Gonore

Gonore merupakan penyakit seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gonore biasa dikenal dengan istilah kencing nanah. Pasalnya, penyakit ini menyebabkan penderitanya mengeluarkan cairan kental berwarna keruh seperti nanah saat buang air kecil sehingga menyebabkan rasa nyeri pada penis atau vagina.

3. Klamidia

Klamidia merupakan penyakit seksual menular yang paling sering terjadi. Penyebabnya adalah bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini bisa menyerang pria maupun wanita melalui kontak seksual. Sering kali penderitanya tidak menyadari telah tertular penyakit ini. Pasalnya, klamidia biasanya tidak menunjukkan gejala hingga 1-2 minggu setelah terinfeksi. Gejalanya cenderung ringan, tapi bila dibiarkan bisa berbahaya. Klamidia bisa menyebabkan nyeri, demam, pembengkakan, hingga menginfeksi serviks (leher rahim). Wanita yang terinfeksi klamidia berisiko mengalami kesulitan untuk hamil.

4. Kutil Kelamin

Kutil kelamin merupakan salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan virus human papilomavirus (HPV) di sekitar alat kelamin. Penyakit yang satu ini tidak menimbulkan rasa sakit. Akan tetapi, akan muncul rasa gatal dan memerah di area yang terinfeksi.

5. Infeksi HIV

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang akan melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Infeksi HIV akan berkembang menjadi penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang sangat mematikan. Obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan.

6. Trikomoniasis

Penyakit menular seksual ini disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Penyakit trikomoniasis bisa menimbulkan keputihan pada wanita atau malah tidak menimbulkan gejala sama sekali.

7. Hepatitis B dan Hepatitis C

Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis dan dapat mengakibatkan gangguan hati kronis hingga kanker hati. Virus hepatitis bisa ditemukan dalam darah atau cairan tubuh penderitanya. Selain melalui hubungan seksual, virus ini bisa menular melalui jarum suntik yang dipakai bersama dan transplantasi organ.

8. Tinea Cruris

Infeksi menular seksual yang disebabkan oleh jamur ini menyerang kulit di sekitar alat kelamin, paha bagian dalam, dan bokong. Tinea cruris ditandai dengan munculnya ruam merah yang terasa gatal pada kulit yang terinfeksi. Penularannya adalah melalui kontak langsung dengan penderita atau menyentuh benda yang telah terinfeksi. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   penyakit seksual,   hiv,   sifilis,   gonore,   hepatitis