Mother&Baby Indonesia
Terinfeksi COVID-19 Setelah Divaksinasi, Kok Bisa?

Terinfeksi COVID-19 Setelah Divaksinasi, Kok Bisa?

Sudah mendapatkan vaksin, tapi kenapa bisa terinfeksi virus corona? Tak sedikit masyarakat yang mempertanyakan hal semacam ini sehingga meragukan efektivitas pemberian vaksin dalam usaha menghentikan pandemi COVID-19.

Hal pertama yang harus diketahui adalah fakta bahwa pemberian vaksin merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko tertular COVID-19. Bukan otomatis membuat Anda kebal terhadap penyakit tersebut.



Pemberian vaksin juga bisa meminimalisasi efek atau gejala saat Anda terinfeksi virus corona melalui kekebalan tubuh yang terbentuk dalam badan Anda. Kekebalan tersebut baru muncul setelah sekitar 12 hari setelah seseorang divaksin. Jangan lupa, dibutuhkan dua kali vaksinasi guna membentuk kekebalan tubuh tersebut.

Mengapa Tetap Terinfeksi?

Di Indonesia ternyata cukup banyak terjadi kasus seseorang terjangkit COVID-19 meski sudah mendapatkan vaksin, salah satunya adalah Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, dan Wakil Bupati Ciamis, Yana D. Putra. Menurut Kepala Bidang Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Ciamis, Bayu Yudiawan, Herdiat positif terinfeksi virus corona usai mendapatkan vaksinasi pertama pada 16 Februari 2021. Sedangkan Yana positif COVID-19 setelah menjalani dua kali vaksinasi, yaitu pada 1 Februari dan 16 Februari 2021.

Lantas mengapa fenomena ini bisa terjadi? Jawabannya ada dua kemungkinan. Pertama seseorang bisa dinyatakan positif COVID-19 setelah divaksin karena sebelumnya mereka telah lebih dulu terinfeksi virus corona. Hanya saja, gejalanya baru timbul tidak langsung timbul.



Perlu diketahui, masa inkubasi infeksi COVID-19 selama 1 hingga 14 hari. Sehingga saat pertama kali terpapar virus corona, seseorang belum tentu langsung menunjukkan gejala. Dalam banyak kasus, gejala COVID-19 baru muncul pada hari kelima masa inkubasi. Alasan kedua mengapa seseorang bisa terinfeksi virus corona meski sudah menerima vaksin adalah karena kekebalan tubuhnya belum terbentuk. 

Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Spa(K), MTropPaed selaku Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) mengatakan bahwa kekebalan tubuh tidak langsung tercipta usai penyuntikan pertama, dan kalaupun ada sangatlah rendah. Kekebalan baru akan tercipta sepenuhnya dalam kurun waktu 28 hari setelah penyuntikan kedua. “Meskipun sudah divaksinasi, dalam dua minggu ke depan sangat amat rawan terpapar,” tuturnya, seperti dikutip dari Sehat Negeriku, portal berita resmi Kementerian Kesehatan RI.

Prof Hindra menambahkan vaksin COVID-19 membutuhkan dua kali dosis penyuntikan. Suntikan pertama ditujukan untuk memicu respons kekebalan awal. Sedangkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang terbentuk.

Lebih lanjut, dr. Hindra menjelaskan bahwa vaksinasi merupakan upaya tambahan untuk melindungi seseorang dari potensi penularan COVID-19, sehingga terap membutuhkan protokol kesehatan untuk memberikan perlindungan yang optimal. “Vaksinasi itu tidak menjamin 100 persen (tidak akan tertular), namun sebagai upaya tambahan untuk mengurangi risiko terpapar/terinfeksi,” jelasnya.

Senada dengan Prof Hindra, dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan yang juga Direktur Pencegahan Penyakit Menular Langsung mengingatkan agar meskipun sudah divaksinasi COVID-19 tetap disiplin protokol kesehatan, karena seseorang masih berisiko terpapar virus COVID-19. “Bagi seluruh masyarakat saya berpesan, dengan adanya vaksinasi kita juga masih punya kewajiban menjalankan protokol kesehatan,” ucapnya.

Tetap Jaga Protokol Kesehatan

Mengingat pemberian vaksin tidak mutlak membuat Anda kebal terhadap virus corona, maka Anda tetap harus menerapkan protokol kesehatan walau telah mendapatkan vaksinasi. Penggunaan masker, terutama di tempat umum, adalah wajib guna mencegah penularan COVID-19. Jangan lupa untuk menjaga asupan gizi, rajin membersihkan tangan, menjaga jarak, dan sebisa mungkin tetap diam di rumah selama masa pandemi COVID-19 belum berakhir. 

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui periode jangka panjang dari perlindungan vaksin COVID-19. Menurut Koordinator Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Prof. Kusnadi Rusmil, kemungkinan besar vaksinasi COVID-19 akan diulang 1-2 tahun. Pasalnya, virus corona seperti influenza yang pencegahannya perlu dilakukan secara berkala. Oleh sebab itu, terus jaga kesehatan Anda guna mencegah penularan virus corona. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   vaksin,   covid-19,   virus corona,   kekebalan tubuh