Mother&Baby Indonesia
Zwitsal Moms Soiree: 1000 HPK Bebas Tantrum

Zwitsal Moms Soiree: 1000 HPK Bebas Tantrum

Bagi Moms yang memiliki anak balita, tantrum tentu menjadi pemandangan yang sudah tidak asing lagi buat Anda. Tantrum merupakan ekspresi emosi anak yang meledak-ledak, dan paling sering terjadi pada anak usia 2-3 tahun.

Kalau anak sudah mulai tantrum, Moms pasti langsung pusing dibuatnya, karena tak jarang tantrum terjadi di tempat umum. Masalah ini harus ditangani dengan baik lho, Moms, karena tantrum yang dibiarkan dapat mengganggu optimalisasi tumbuh kembang anak di 1000 hari pertama kehidupannya.

Nah, mengetahui pentingnya mengenal serba-serbi tantrum pada anak, M&B dan Zwitsal mempersembahkan Moms Soiree “1000 HPK Bebas Tantrum” pada Jumat, 5 Februari 2021. Acara ini menghadirkan Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog – Psikolog Klinis Anak dari Rumah Dandelion, untuk berbagi ilmu dan tips seputar tantrum pada anak dan dampak yang harus diwaspadai bagi 1000 HPK anak. Simak keseruannya, yuk!



Tantrum vs 1000 HPK


Acara Moms Soiree “1000 HPK Bebas Tantrum” diawali dengan sambutan dari Novita Angie, Editor in Chief Mother&Baby Indonesia yang juga menjadi host acara ini. Menurut Angie, tantrum merupakan masalah yang paling dikhawatirkan orang tua, karena terjadinya bisa kapan saja, di mana saja, dan tanpa alasan yang jelas. Maka sangat penting untuk mengenali pemicu tantrum pada anak agar Moms dapat mencegahnya.

Seraya dengan Angie, Kara Darusman, Senior Brand Manager Zwitsal sekaligus ibu 1 anak, juga merasakan hal yang sama. Menurut Kara, anaknya yang berusia hampir 3 tahun juga sedang memasuki masa sering tantrum, maka ia sangat concern dengan isu tantrum yang dapat mengganggu 1000 HPK anak.

“Zwitsal sebagai brand bayi mengangkat tema 1000 hari pertama Si Kecil karena ini merupakan golden period, di mana 80 persen sel-sel otak anak berkembang di fase ini. Menurut kami, sangat penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak di 1000 HPK. Harus seimbang antara asah, asih, dan asuh. Acara Moms Soiree ini merupakan salah satu inisiatif Zwitsal Indonesia untuk bertukar pikiran sambil curhat, karena happy Moms raise a happy kid. Itulah kenapa Moms Soiree ini diadakan sebagai bagian dari campaign 1000 HPK Zwitsal, karena kita mau memastikan ibu-ibu di Indonesia menjadi ibu yang bahagia, memiliki bekal yang cukup untuk membesarkan insan-insan yang cemerlang.”

Tantrum 101


“This too shall pass,” begitulah ‘mantra’ dari Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog, yang akrab disapa Febi, setiap kali menghadapi anak yang sedang tantrum. Menurutnya, tantrum merupakan ekspresi emosi yang berlebihan, terutama emosi marah dan frustrasi. “Kalau ekspresi emosi saja tidak masalah, tetapi ini meluap-luap. Perilaku umum tantrum pada toddler dan preschooler adalah teriak-teriak, menangis, menjatuhkan diri ke lantai, menendang, memukul, melempar, bahkan yang ekstrem ada yang sampai menahan napas,” papar Febi.

Apakah wajar jika anak tantrum? Menurut Febi, dari hasil penelitian, rata-rata anak usia 1-4 tahun memang bisa mengalami tantrum, dan puncaknya di usia 2-3 tahun. Selain usia, durasi anak tantrum juga perlu diperhatikan, biasanya tidak lebih dari 15 menit, dengan kisaran 2-5 menit. Frekuensi tantrum pada anak pun akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia anak. Nah, jika tantrum pada anak masih dalam batas seperti yang disebutkan di atas, maka Febi menyebutnya sebagai tahapan perkembangan sosial-emosional.

Dampak Tantrum pada 1000 HPK


Seperti yang telah disebutkan, tantrum paling sering terjadi di usia 2-3 tahun. Ini adalah usia golden period, di mana otak anak berkembang pesat di 1000 hari pertama kehidupannya. “Stimulasi berbagai aspek perkembangan di 1000 HPK ini akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, jadi kalau tantrum di masa ini tidak ditangani dengan tepat, maka bisa berkembang menjadi masalah lain yang membuat tumbuh kembang anak tidak optimal,” jelas Febi. 



Bagaimana caranya menangani tantrum dengan tepat? Cara terbaiknya adalah mencegah agar tantrum tidak berulang. Ya, tantrum bisa dicegah dengan melakukan BATTLE lho, Moms!

B: Berubah itu tidak menyenangkan. Salah satu pemicu tantrum adalah situasi baru atau perubahan kegiatan. Terlebih jika perubahan terjadi ketika anak mengantuk, lapar, atau lelah.

A: Aku frustrasi. Anak juga bisa frustrasi, seperti ketika anak mau mengatakan sesuatu tapi kemampuan berbahasanya belum baik. Atau anak ingin melakukan banyak hal tapi kemampuannya belum bisa, anak jadi kesal sendiri.

T: Turuti mauku! Ini karena keinginan anak tidak dituruti, maka terjadilah tantrum. Anak usia ini sedang mengembangkan ego, mengenali kemauan diri, dan mulai memiliki kontrol diri, yang pecah menjadi tantrum jika keinginannya tidak dituruti.

T: Tidak mau lakukan itu! Misalnya anak menolak makan, mandi, tidur, padahal sudah waktunya. Ketika anak menolak melakukan sesuatu dan Moms memarahinya, maka ini bisa menjadi pemicu tantrum.

L: Lihat aku dong! Ini terjadi ketika anak meminta perhatian, anak mencoba berkomunikasi, dan mau menyampaikan kalau ada kebutuhan emosinya yang belum terpenuhi. Tetapi karena keterbatasan bahasa, maka anak menyampaikannya dengan emosi meledak-ledak.

E: Examples atau contoh. “Tantrum adalah ekspresi emosi, maka contohkan cara mengatasi stres dengan baik. Ketika contoh tidak ada atau tidak tepat, maka ini dapat menjadi contoh yang memicu tantrum,” jelas Febi.

Bagi-bagi Hadiah!


Setelah mengenal dampak tantrum bagi 1000 HPK Si Kecil, para Moms pun tak sabar memasuki sesi curhat dengan psikolog. Tiap peserta Moms Soiree kali ini memiliki ‘perang’ masing-masing dengan tantrum anaknya. Bentuk tantrum dan cara menghadapinya pun berbeda-beda. Setelah puas curhat dengan psikolog dan berbagi kisah dengan Moms lainnya, tiba waktu yang paling dinanti, yaitu bagi-bagi hadiah untuk 10 Moms beruntung yang telah mendaftar di link Zwitsal Moms Soiree. Seru! Bagi Moms yang belum berkesempatan mengikuti acara ini, sampai jumpa di Zwitsal Moms Soiree berikutnya, ya. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: tantrum,   balita,   zwitsal