Mother&Baby Indonesia
Waspada, Stres pada Ibu Hamil Bisa Memengaruhi Janin!

Waspada, Stres pada Ibu Hamil Bisa Memengaruhi Janin!

Menjalani kehamilan tidak selamanya menyenangkan. Perubahan hormon yang dialami saat hamil ditambah dengan padatnya aktivitas sehari-hari, semua itu terkadang bisa memicu stres pada ibu hamil.

Secara tidak langsung, stres pada ibu hamil bisa berpengaruh terhadap janin lho, Moms. Berdasarkan hasil penelitian terkini yang dipublikasikan oleh Medical Journal JAMA Open Network, disebutkan bahwa stres yang dialami oleh ibu hamil bisa memengaruhi perkembangan otak bayi yang berada dalam kandungannya.



Janin dari ibu dengan tingkat stres yang tinggi lebih berisiko mengalami gangguan perkembangan otak yang mengatur kemampuan kognitif, emosi, serta kontrol perilaku. “Tingkat kecemasan ibu yang sudah memasuki level berbahaya akan berpengaruh secara langsung terhadap bagaimana pembentukan otak janin. Pasalnya, apa yang dialami ibu hamil juga akan dirasakan oleh bayi dalam kandungannya,” ujar Catherine Limperopoulos, peneliti dari Developing Brain Institute di Children’s National di Washington DC.

Dalam penelitian sebelumnya juga ditemukan fakta bahwa anak yang terlahir dari ibu dengan tingkat stres yang tinggi, kemungkinan besar akan mengalami:

• Kemampuan koordinasi motorik yang buruk

• Respons emosi yang berlebihan

• Terlambat berbicara

• Kemampuan berperilaku yang tidak sebaik anak-anak seusianya.



Sebuah studi juga menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat stres yang tinggi selama masa kehamilan akan memengaruhi perkembangan hippocampus janin. Perlu diketahui, hippocampus merupakan area di otak yang berperan dalam membentuk ingatan serta terkait dengan kemampuan belajar dan mengontrol emosi.

Memicu Kelahiran Prematur

Selain memengaruhi perkembangan otak bayi, stres pada ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko bayi terlahir prematur atau sebelum waktunya. Pada umumnya, ibu yang mengalami tingkat kecemasan yang berlebihan akan kesulitan untuk makan, minum, dan bahkan tidur. Hal inilah yang nantinya akan berimbas pada janin.

Kondisi ibu yang kelelahan serta kurang mendapatkan asupan nutrisi ini akan memengaruhi kesehatannya sendiri serta kondisi janin. Hal inilah yang nantinya bisa memicu terjadinya kelahiran secara prematur.

“Bayi yang terlahir secara prematur memiliki risiko lebih besar mengalami masalah setelah lahir, termasuk masalah kesehatan fisik dan risiko mengalami cacat, ketimbang bayi yang lahir melewati HPL,” ungkap Christine Dunkel Schetter, profesor psikologi dan psikiater yang melakukan penelitian di Stress Processes and Pregnancy Lab di University of California.

Stres Sebelum Kehamilan

Sementara itu, disebutkan bahwa tingkat stres pada ibu yang terlalu tinggi, bahkan sebelum masa kehamilan, juga dapat memengaruhi janin. Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang mengalami stres, bahkan sebelum terjadinya pembuahan, bisa memperpendek ukuran telomer bayi. Telomer merupakan bagian dari DNA yang terletak di ujung kromosom manusia dan berfungsi untuk melindungi sel-sel dari penuaan saat beregenerasi. Ukuran telomer yang terlalu pendek disinyalir bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit jantung, kanker, dan berusia lebih pendek.

Menghindari Stres

Mengingat betapa besar efek stres terhadap janin, ibu hamil diharapkan untuk lebih bisa mengelola pikiran dan perasaan selama masa kehamilan. Caranya antara lain dengan:

• Cukup beristirahat

• Mendapatkan nutrisi yang baik

• Tetap melakukan hobi yang bisa menyenangkan hati

• Meminta bantuan support system kala stres melanda

• Rutin melakukan relaksasi, bermeditasi, atau yoga ibu hamil, demi ketenangan pikiran

• Berolahraga sesuai dengan anjuran dari dokter.

“Anda perlu memperhatikan masalah kesehatan mental selama masa kehamilan karena kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tapi juga akan berefek pada anak selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah lahir,” kata Limperopoulos. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   stres,   janin,   perkembangan otak