Mother&Baby Indonesia
Waspada KDRT, Ini 6 Tanda Pasangan Melakukan Kekerasan Mental

Waspada KDRT, Ini 6 Tanda Pasangan Melakukan Kekerasan Mental

Tidak ada pernikahan yang sempurna, namun tindakan kekerasan tetap bukanlah sebuah hal yang baik dan normal di dalam rumah tangga. Mungkin kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering dikenali dengan perilaku yang kasar atau penyiksaan secara fisik, namun KDRT sebenarnya tidak melulu seperti itu.

KDRT dapat berbentuk kekerasan mental dan sama bahayanya dengan kekerasan fisik. Kekerasan mental dapat menghancurkan rasa percaya diri, kemandirian, dan harga diri korbannya sehingga dapat berujung pada depresi, kecemasan, keinginan untuk bunuh diri, serta post-traumatic stress disorder (PTSD).

Sayangnya banyak pasangan yang tidak menyadarinya sehingga terlambat untuk mendapat bantuan. Untuk itu, Anda perlu mendeteksi secara dini kekerasan mental dalam rumah tangga, Moms. Dilansir dari WebMD, berikut ini beberapa tanda pasangan Anda telah melakukan kekerasan mental.

Posesif, Mudah Cemburu, dan Perilaku Mengontrol

Pasangan yang melakukan kekerasan mental biasanya mudah cemburu. Ia menganggap sikap posesif adalah hal yang baik. Selain itu, dalam hubungan dengan kekerasan mental, maka sikap cemburu ini dapat berubah menjadi perilaku mengontrol seperti:

• Berharap Anda langsung menjawab pesan dan telepon, tak peduli bagaimana kesibukan Anda.

• Selalu menanyakan kegiatan apa yang sedang Anda lakukan, bersama siapa, dan di mana.

• Tidak menyukai teman-teman Anda berdasarkan gendernya.

• Tidak menyukai orang-orang di kehidupan Anda dan mengisolasi Anda dari mereka.

• Menuduh Anda selingkuh tanpa bukti.

Pasangan juga dapat mencoba mengontrol Anda dengan uang atau akses terhadap apa saja yang Anda butuhkan. Hal ini ia lakukan untuk mengetahui segala yang Anda lakukan. Ia juga dapat mengurangi akses terhadap kendaraan atau telepon untuk mencegah Anda beraktivitas atau menghubungi orang-orang yang tidak ia suka.

Mengganti Kesalahan dan Gaslighting

Gaslighting terjadi ketika seseorang membuat Anda kebingungan dengan realita dan kewarasan Anda. Sebagai contoh, pasangan bisa saja menyalahkan Anda atas hal-hal yang ia lakukan. Ia juga dapat menyalahkan Anda karena membuatnya marah atau memperlakukannya tak sesuai dengan keinginannya.

Beberapa bentuk gaslighting lainnya, antara lain:

• Menuduh Anda mengalami hal-hal yang tidak terjadi.

• Mengatakan bahwa Anda gila.

• Mengatakan bahwa orang-orang berbohong kepada Anda.

• Menyatakan kebohongan.

• Invalidasi identitas Anda.

Manipulasi dan Ultimatum

Pasangan dapat memanipulasi Anda dengan berbagai cara. Dalam kasus yang parah, ia dapat mengancam untuk bunuh diri, melukai diri sendiri, atau melukai orang lain untuk mengontrol Anda tetap melakukan hal-hal tertentu. Ia juga dapat membuat pernyataan yang menyiratkan bahwa kasih sayangnya bergantung pada perilaku Anda.

Lelucon Jahat, Mempermalukan, dan Cibiran

Kekerasan mental terkadang dimulai dengan pasangan yang tidak memperlakukan Anda dengan baik. Ia dapat mengejek Anda, membuat lelucon tentang Anda, merendahkan Anda, atau mempermalukan Anda di depan banyak orang. Ketika Anda mengatakan kepadanya bahwa ia telah berlaku kasar, ia dapat saja menuduh Anda sebagai orang yang terlalu serius atau terlalu sensitif.

Merasa Malu tentang Cara Pasangan Memperlakukan Anda

Beberapa orang yang berada di dalam hubungan dengan kekerasan mental merasa malu bahwa ia berada di dalam hubungan yang demikian. Hal ini membuat korban semakin mengasingkan diri dari teman dan keluarga. Korban tidak mau orang-orang melihat cara pasangannya memperlakukannya dengan buruk.

Hukuman Emosi

Pasangan yang melakukan kekerasan mental akan menggunakan silent treatment atau menjauhkan diri sebagai hukuman. Silent treatment adalah ketika pasangan tidak ingin berbicara dengan Anda atau tidak menganggap kehadiran Anda. Pada kasus tertentu, pasangan bisa saja tetap berbicara dengan Anda namun menjauhkan diri secara emosional.

Jika Moms mendapati hal-hal di atas dalam rumah tangga Anda, segera cari bantuan dari teman, keluarga, atau tenaga ahli dan profesional. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   kdrt,   kekerasan mental