Mother&Baby Indonesia
8 Tantangan yang Dihadapi Ibu Menyusui saat Memberikan ASI

8 Tantangan yang Dihadapi Ibu Menyusui saat Memberikan ASI

Usai Si Kecil lahir, Moms memiliki peran baru, yakni memberikan bayi Anda ASI sebagai asupan utama. Prosesnya mungkin tidak mudah dan ada saja tantangan yang perlu dihadapi. Baik ibu baru ataupun yang sudah pernah menyusui tapi masih bingung di fase menyusui, siapkan diri untuk menghadapi tantangan dan atasi dengan bijak dengan cara berikut ini.

1. ASI Tidak Cukup

Busui umumnya merasa takut dan khawatir jika jumlah ASI tidak mencukupi kebutuhan Si Kecil. Padahal faktanya, hal ini tidak akan terjadi jika Moms menjalani proses menyusui dengan benar. Produksi ASI tergantung pada permintaan Si Kecil yang diketahui melalui seberapa banyak ia mengisap payudara.

2. ASI Tidak Keluar

Inilah keluhan yang paling banyak dialami para ibu baru. Ketika melahirkan, ASI baru keluar dua atau tiga hari berikutnya. Karena takut Si Kecil akan kelaparan, maka tak jarang sang ibu justru memberikan cairan lain seperti air gula atau susu formula. Sayangnya, ini bukanlah pemecah masalah, Moms.



Perlu Anda ketahui, bayi baru lahir mampu bertahan sampai 72 jam tanpa tambahan asupan. Ia masih memiliki bekal makanan yag dibawanya dari rahim Anda. Kalaupun ASI Anda belum keluar di masa 72 jam itu, Moms bisa memilih jalan lain, yaitu donor ASI yang tepercaya dan berkonsultasi dengan ahli laktasi untuk menemukan jalan keluar.

3. Bengkak atau Lecet

Untuk Moms yang baru pertama kali menyusui, ada kemungkinan Anda akan mengalami pembengkakan payudara atau puting lecet. Hal itu sebenarnya disebabkan oleh cara menyusui atau perlekatan yang belum tepat di awal-awal masa menyusui. Moms bisa meminta bantuan ahli laktasi untuk mengatasi hal ini. Biasanya, konsultan laktasi atau dokter akan memberikan ointment atau sejenisnya untuk mengobati lecet tersebut.

4. Kelainan pada Bayi/Sakit

Kelainan pada bayi mungkin menghalangi Moms untuk menyusui. Tetapi, untuk beberapa hal, seperti bayi yang dirawat karena penyakit kuning (jaundice) tetap memungkinkan untuk diberi ASI dengan meminta jeda atau diberikan memakai pipet. Bayi dengan kondisi khusus, misalnya bibir sumbing, juga tetap dapat diberikan ASI dengan menggunakan bantuan alat.

5. Menjadi Ibu Bekerja

Jika Moms bekerja, ASI dapat diberikan dengan cara diperah. Begitu banyak fasilitas pemberian ASI eksklusif (ASIX) yang kini tersedia untuk Moms bekerja, mulai dari pompa ASI, cooler bag, sampai dengan kurir ASI.



6. Timbul Rasa Pesimis

Rasa khawatir yang Moms alami justru bisa membuat ASI yang diproduksi berkurang, lho! Karenanya, selain seberapa banyak isapan pada payudara, keyakinan Moms akan keberhasilan dalam menyusui juga dibutuhkan. Oleh karena itu, hilangkan rasa pesimis Anda. Optimislah demi tumbuh kembang Si Kecil!

7. Relaktasi

Apabila Moms telah berhenti menyusui dan ingin kembali menyusui, keadaan ini disebut sebagai relaktasi. Pada situasi ini, akan sangat dibutuhkan kesabaran ekstra serta alat yang disebut suplementer untuk membantu relaktasi. Sebab, setelah berhenti menyusui, produksi ASI berkurang dan Si Kecil malas menyusu langsung dari payudara karena telah terbiasa menggunakan botol.

8. Hamil Kembali

Meskipun jarang terjadi, kehamilan sebelum masa menyusui selesai juga kerap menimbulkan kekhawatiran untuk tetap menyusui Si Kecil. Banyak ahli yang mengatakan selama kehamilan Moms sehat, teruslah menyusui untuk memberikan nutrisi terbaik buat Si Kecil.

Tubuh Anda secara alami akan memberikan asupan nutrisi yang baik untuk janin sekaligus tetap memproduksi ASI. Namun, jika tiba-tiba terjadi kontraksi, segera konsultasikan masalah ini ke dokter kandungan. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: ibu menyusui,   asi,   air susu ibu,   tantangan memberikan asi