Mother&Baby Indonesia
Mengenal Proses Bayi Tabung, Solusi Masalah Kesuburan

Mengenal Proses Bayi Tabung, Solusi Masalah Kesuburan

Pada 1987, seorang bayi bernama Louise Brown dilahirkan di Inggris. Istimewanya, Louise adalah bayi hasil dari in vitro fertilisation (IVF) atau yang biasa disebut bayi tabung. Bayi tabung lahir untuk mengatasi permasalahan infertilisasi yang dialami oleh banyak pasangan. Disebut bayi tabung, karena proses pembuahan terjadi di dalam sebuah piring kaca berbentuk tabung.

Kini, setelah lebih dari 3 dasawarsa, semakin banyak orang yang berusaha mendapatkan bayi lewat proses ini. Bersama dr. Ivan R. Sini, Sp.OG., seorang ahli bayi tabung, yuk kita mengenal seluk beluk bayi tabung yang sekarang sudah menjadi harapan banyak pasangan di Indonesia saat ini, Moms.

Untuk Siapa Bayi Tabung?

Dr. Ivan mengatakan bahwa semua pasangan yang kesulitan mendapatkan anak secara alami berhak mengikuti program bayi tabung, meski dokter memerlukan indikasi medis tertentu sebelum memberikan anjuran program tersebut. Indikasi bayi tabung:



• Calon ayah memiliki jumlah sperma yang sangat sedikit atau azoospermia.

• Saluran telur calon ibu mampat dan tidak bisa diperbaiki melalui operasi.

• Kista atau endometriosis.

• Usia calon ibu (biasanya, semakin tua, semakin sulit untuk hamil).

• Alergi terhadap sperma.

Jika masalah terjadi, satu-satunya cara mempertemukan telur dengan sperma adalah dengan program bayi tabung. Bagaimana prosedurnya?

Prosedur Nyaman

Sekarang proses bayi tabung sudah semakin nyaman dan mudah. Dulu, proses bayi tabung membutuhkan waktu 3 bulan, sedangkan sekarang hanya butuh waktu 2 minggu. Dulu, untuk mengambil telur, dokter harus melakukan pembedahan. Sekarang, proses pengambilan telur hanya butuh waktu 3 jam.

“Bahkan di luar negeri ada pelayanan bayi tabung di basement sebuah gedung perkantoran. Jadi pengambilan telur bisa dilakukan pada saat jam makan siang. Begitu mudahnya,” ungkap dr. Ivan.

Ketidaknyamanan paling berat dalam proses bayi tabung adalah perubahan kestabilan emosi yang harus dirasakan pasien sampai akhir proses yang pastinya tidak mudah dan tidak pasti hasilnya.



“Pasien akan memulai proses dengan sebuah harapan, ini membuat emosi menjadi naik turun. Ketika ternyata telur hanya sedikit, mungkin harapan berkurang. Harapan naik lagi ketika telurnya bagus-bagus. Perasaan diaduk kembali ketika ternyata embrio tak terlalu bagus, dan seterusnya,” ucap dr. Ivan.

Untuk itu, sebelum masuk program bayi tabung, pola pikir pasien harus dipersiapkan dengan baik, sehingga bisa mengatur emosi dan harapan mereka terhadap program ini. Dalam hal ini, manusia hanya bisa berusaha sampai 1 titik tertentu.

Selain itu, pasangan juga harus mempersiapkan fisiknya dengan berolahraga secara rutin dan mengonsumsi makanan yang bergizi, seperti sayuran dan buah-buahan. Pasangan juga mesti siap secara keuangan karena bagaimanapun juga, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk program ini.

Kendala Keberhasilan

Ada banyak faktor yang menghambat keberhasilan program bayi tabung. Faktor terbesar adalah kualitas embrio, yang sayangnya tidak bisa dilihat secara kasat mata. Embrio yang di hari-hari awal terlihat bagus, belum tentu bisa menempel dengan baik di rahim. Ada hal-hal yang bisa menjadi kendala, seperti kista, atau hal-hal di luar teknis yang sulit diprediksi.

Usia juga memengaruhi keberhasilan program bayi tabung. Di atas usia 35 tahun, kemungkinan keberhasilan semakin berkurang. Meskipun begitu, angka keberhasilan program ini juga semakin meningkat dan antusiasme pasangan yang mengikuti bayi tabung juga cukup tinggi.

Prosedur Bayi Tabung

1. Program bayi tabung akan diawali dengan penyuntikan hormon untuk menghasilkan telur yang lebih banyak demi meningkatkan peluang kehamilan.

2. Begitu matang dan mencapai ukuran yang diinginkan, telur-telur itu akan dikumpulkan dengan menggunakan jarum khusus yang ditempelkan pada alat ultrasonografi khusus yang dimasukkan melalui vagina.

3. Telur itu kemudian dikeluarkan dari kulitnya.

4. Ketika kulit telur sudah tidak ada, sel sperma diletakkan pada telur agar terjadi pembuahan. Jika pembuahan sudah terjadi, maka embrio akan tumbuh.

5. Setelah mengalami pembelahan selama 5-6 hari, embrio akan dipindahkan ke dalam uterus dan selanjutnya akan menempel pada dinding uterus. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   bayi tabung,   in vitro fertilisation,   ivf,   infertilisasi