Mother&Baby Indonesia
Sering Memaksakan Kehendak pada Anak? Ini Dampak Negatifnya

Sering Memaksakan Kehendak pada Anak? Ini Dampak Negatifnya

Dengan alasan ingin memberikan yang terbaik bagi anak, orang tua kerap merasa berhak memaksakan kehendaknya pada Si Kecil. Berbagai peraturan tak masuk akal pun mulai terbentuk, ada orang tua yang tidak mengizinkan anak makan malam kalau belum selesai membaca buku yang diberikan, bahkan ada juga yang tidak mengizinkan anak tidur malam sebelum ia berhasil menghafal pelajaran.

Umumnya, sikap suka memaksakan kehendak ini lebih sering dilakukan oleh orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter atau authoritarian parenting. Mereka berharap Si Kecil bisa menjadi sosok yang disiplin dan mudah diatur. Namun tentu saja ini bukan pola asuh yang sehat, Moms. Mari ketahui dampak negatif sering memaksakan kehendak pada anak.

1. Sulit Membuat Keputusan

Terbiasa dengan menjalankan semua keputusan orang tua, maka anak dari orang tua otoriter seringkali sulit membuat keputusan sendiri. Mereka terbiasa mengikuti semua hal yang sudah diatur keras oleh orang tuanya, dan ia tidak pernah diberi kesempatan untuk menolak atau mengatakan tidak karena hukuman sudah siap menantinya. Ketika anak dewasa kelak, ia akan tumbuh menjadi orang yang tidak bisa membuat keputusan dan hanya diam menanti perintah.



2. Sulit Berpendapat

Sering memaksakan kehendak pada anak justru mematahkan kemampuan anak untuk bisa berpendapat. Anak yang tumbuh dengan penuh paksaan orang tua jadi tidak mengenali pendapatnya sendiri, karena semua yang keluar dari mulutnya harus atas arahan atau izin dari orang tuanya. Bayangkan dampak sulit berpendapat ketika anak sudah dewasa kelak, Moms. 

3. Agresif

Bukannya disiplin, anak yang sering dipaksa oleh orang tuanya justru bisa tumbuh menjadi anak yang agresif lho, Moms. Meniru orang tuanya, anak dari orang tua otoriter juga akan bersikap keras dan suka memaksa pada orang lain. Ia merasa sikap agresif adalah sikap yang benar, seperti yang dilakukan oleh orang tuanya. Jadi, jangan kaget kalau anak agresif rentan menjadi pelaku bullying, Moms.



4. Penakut

Anak tentu ingin mencoba berbagai hal baru dan bermain bebas dengan teman-temannya. Namun rasa takut dengan hukuman-hukuman yang sering mengancamnya membuat Si Kecil tumbuh diselimuti rasa takut. Jangankan berani mencoba hal kreatif yang ia sukai, berani untuk berbicara mengutarakan pendapat dengan orang tuanya saja tidak. Sikap penakut ini akan terus menghantuinya hingga dewasa kelak, di mana ia akan takut melakukan berbagai hal yang membantunya untuk berkembang.

5. Rentan Depresi

Tidak hanya mengganggu perkembangan karakter anak, sering dipaksa juga bisa mengganggu kesehatan mental anak. Sikap orang tua otoriter yang bisa dibilang ‘control freak’ cenderung membuat Si Kecil tidak bahagia dan rentan mengalami depresi. Ingat, segala hal baik harus dilakukan dengan penuh cinta dan kebahagiaan, bukan dengan tekanan dan paksaan ya, Moms. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   pola asuh,   orang tua,   balita