Mother&Baby Indonesia
5 Dampak Negatif Prank bagi Kesehatan Mental Anak

5 Dampak Negatif Prank bagi Kesehatan Mental Anak

Saat ini internet dan video prank bagai dua hal yang sulit terpisah dari kehidupan Anda dan anak. Apakah Anda termasuk orang tua yang suka membuat video prank anak dan memuatnya ke media sosial? Jika ya, coba Anda pikir ulang.

Reaksi anak saat kena prank memang sangat menggemaskan, reaksinya tentu menghibur Anda selaku orang dewasa. Namun tahukah Anda, prank bisa mengganggu kesehatan mental anak lho, Moms. Mari ketahui apa saja dampak negatif prank bagi mental anak.

Trust Issue

Video prank anak yang dipenuhi dengan reaksi lucu mereka mungkin menghibur orang dewasa, namun ini memberikan dampak buruk bagi anak yang memicu trust issue. “Hubungan yang dimiliki anak dan orang tua sangat spesial. Ini menjadi contoh untuk hubungan lainnya di hidup mereka,” jelas Stephanie Zerwas, psikolog, terapis, dan lektor University of North Carolina, pada Mashable.com.



Membangun rasa percaya antara orang tua dan anak bersifat kritis. Ketika orang tua melakukan prank pada anaknya, maka mereka akan merusak rasa percaya itu. Mereka memberi pesan bahwa orang terdekat dan penting bagi anak pun bisa melakukan hal tak terprediksi dan kejam,” tambah Stephanie.

Trauma Berkepanjangan

Demi video beberapa menit, prank yang dilakukan orang tua pada anaknya bisa memberikan trauma hingga ia dewasa! Orang tua seharusnya memberikan rasa nyaman dan aman, bukan rasa cemas dan takut yang membuatnya trauma sepanjang masa.

Tidak Percaya Diri

Anak yang sering dijahili atau kena prank oleh orang tuanya sendiri bisa tumbuh menjadi sosok yang tidak percaya diri dan sensitif. Ia akan berpikir orang lain selalu menganggap dirinya bahan lelucon, yang bisa mempermalukan dirinya kapan saja. Dampak ini sama saja dengan dampak bullying atau perundungan lho, Moms.



Anak Jadi Agresif

Eileen Kennedy-Moore, psikolog anak dan penulis Kids Confidence: Help Your Child Make Friends, Build Resilience, and Develop Real Self-Esteem, mengatakan pada Mashable.com bahwa prank memicu anak jadi agresif.

Prank memiliki tingkat agresivitas, dan saya tidak suka itu, terutama jika dilakukan oleh orang tua pada anaknya. Bukan tugas orang tua untuk membuat anak sedih atau marah tanpa alasan yang baik, yaitu untuk hiburan,” jelas Eileen. Masih banyak cara lain untuk mendapatkan hiburan dan bersenang-senang dengan anak, tanpa harus melakukan prank.

Suka Prank Juga

Ingat dampak akhirnya, anak yang sering kena prank akan tumbuh menjadi anak yang suka melakukan prank pada orang lain juga. “Harus diingat kalau anak kita adalah sosok kecil dengan perasaan besar,” ujar Eileen. Orang tua perlu menunjukkan pada anak cara menjaga hubungan dengan orang lain. “Saya pikir tidak ada orang tua yang mau mengajarkan anak kekejaman,” tutup Eileen. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: prank,   anak,   balita,   mental anak,   kesehatan