Mother&Baby Indonesia
Mitos dan Fakta Seputar Tidur Anak yang Perlu Moms Tahu

Mitos dan Fakta Seputar Tidur Anak yang Perlu Moms Tahu

Benarkah anak harus diberi makan saat akan tidur? Atau memang ya, melewatkan tidur siang akan membuat anak tidur lebih nyenyak pada malam hari? Moms, Anda mungkin pernah mendengar pernyataan-pernyataan semacam itu. Namun tidak semuanya benar lho. Berikut adalah mitos seputar tidur anak seperti dilansir dari situs Motheroflife.

Makan Tepat Sebelum Tidur agar Lebih Nyenyak?

Salah. Sesungguhnya, banyak faktor yang bisa membuat anak tidur nyenyak atau tidak, misalnya lingkungan di sekitarnya, kondisi tempat tidur, bahkan kondisi fisiknya. Membuat perut Si Kecil kenyang sebelum tidur memang bisa membantunya terlelap. Tapi bukan berarti Moms harus memberikan semangkuk sereal padanya tepat saat akan tidur. Ingat ya Moms, perut yang terlalu penuh justru berpotensi membuat anak jadi sulit tidur.

Selama Tidur, Tubuh Anak Jadi Tidak ‘Aktif’

Salah. Beberapa aktivitas pada tubuh Si Kecil justru berlangsung saat ia tertidur lelap, seperti proses pertumbuhan serta metabolisme tubuh. Sistem kekebalan tubuh dan regenerasi organ tubuh juga terjadi ketika anak tengah tidur.



Selain itu, tidur juga merupakan periode sibuk bagi otak anak. Ketika anak tertidur, otaknya akan mengklasifikasi informasi yang dikumpulkan sepanjang hari, dan bekerja mengatur emosinya. Otak anak juga aktif saat ia mengalami REM (Rapid Eye Movement) atau saat bermimpi ketika tidur.

Melewatkan Tidur Siang agar Lebih Mudah Tidur pada Malam Hari

Salah. Tidur siang justru akan membantu anak lebih mudah tertidur pada malam hari. Perlu diketahui, jika anak yang tidak tidur setelah makan siang, maka ia tidak punya kesempatan untuk mengembalikan kebugaran tubuhnya. Alhasil, ia akan sangat kelelahan pada malam hari. Kelelahan semacam ini tidak akan membuat Si Kecil lebih mudah tertidur, melainkan ia akan lebih ‘bersemangat’ bergerak tapi juga mudah marah sehingga terkesan rewel.

Aktivitas Fisik Akan Membantu Anak Tertidur

Tidak juga. Faktanya, aktivitas fisik memang membantu Si Kecil untuk menghabiskan energinya sehingga bisa tidur lebih nyenyak. Namun satu hal yang perlu diingat, aktivitas fisik tersebut dilakukan setidaknya tiga jam sebelum waktu tidur. Terlalu banyak melakukan aktivitas fisik menjelang waktu tidur hanya akan membuat anak terlalu bersemangat sehingga akan mengganggu kualitas tidurnya.

Moms perlu membiasakan anak agar menurunkan aktivitasnya menjelang waktu tidur. Anda bisa mengajak Si Kecil bermain puzzle, menggambar, membaca buku, atau aktivitas lain yang tidak terlalu menguras tenaga, tepat sebelum tidur. Dalam keadaan rileks, anak Anda akan lebih siap untuk tidur.

Menonton TV Membantu Anak Rileks

Tidak. Meski tidak mengeluarkan tenaga berlebih, menonton televisi tidak termasuk kategori kegiatan yang membuat anak rileks sebelum waktu tidur. Pasalnya, saat menonton televisi maka otak Si Kecil akan dibombardir dengan berbagai informasi.



Selain itu, efek cahaya dari layar televisi juga akan menurunkan produksi melatonin, yaitu hormon yang membantu seseorang agar bisa tidur. Alih-alih menonton televisi, Anda dapat membacakan buku atau memperlihatkan album foto kepada Si Kecil guna membantunya rileks sebelum tidur.

Musik Bisa Membuat Tidur Lebih Nyenyak

Sayangnya hal ini hanya mitos. Musik, walau yang bernada lembut, akan memicu kerja otak sehingga anak justru akan semakin sulit tidur dengan nyenyak. Jika Si Kecil terlalu sering tidur dengan kualitas yang kurang baik maka ia berisiko mengalami kelelahan pada siang harinya. Alhasil, anak akan sulit fokus dan mudah marah.

Memang sebagian orang mengaku lebih mudah tertidur saat mendengarkan musik. Hanya saja, Moms sebaiknya menghindarkan kebiasaan mendengarkan musik pada anak karena khawatir akan terbawa hingga ia dewasa. Bukan tak mungkin, ia akan kesulitan tidur tanpa musik karena dari kecil sudah memiliki kebiasaan tersebut.

Tidur Lebih Lama pada Akhir Pekan sebagai Solusi Kurang Tidur

Salah. Anak-anak di bawah usia 16 tahun biasanya membutuhkan waktu tidur sekitar 10-12 jam pada malam hari. Kurangnya waktu tidur secara terus-menerus akan membuat anak mengalami kelelahan dan berujung pada masalah kesehatan dan perilaku.

Jika Si Kecil kurang tidur pada hari-hari biasa, Moms tidak bisa memberikan kompensasi dengan membiarkannya tidur lebih lama pada akhir pekan. Pada dasarnya, anak harus dilatih untuk disiplin dalam hal waktu tidur setiap hari. Nah, Moms bisa mulai melatihnya sejak usia anak sekitar 3 tahun karena di usia inilah kemampuan kognitif mereka telah berkembang dengan baik. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: tidur,   anak,   balita,   mitos fakta