Mother&Baby Indonesia
Kapan Saatnya Intervensi Nutrisi pada Bayi yang Sedang ASI?

Kapan Saatnya Intervensi Nutrisi pada Bayi yang Sedang ASI?

Tidak terbantahkan, ASI merupakan sumber gizi utama bagi bayi, terlebih lagi bayi yang baru lahir. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serima dengan World Health Organization (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif untuk bayi sampai berumur 6 bulan dan kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih.

Sebabnya, ASI mengandung berbagai gizi yang sesuai dan dibutuhkan oleh bayi. Mulai dari kadar lemak baik yang tinggi hingga antibodi untuk memperkuat ketahanan tubuh Si Kecil. Tapi ada kalanya bayi membutuhkan intervensi nutrisi walau sedang ASI sekali pun. Simak penjelasannya berikut, Moms!

Parameter Bayi Butuh Lebih dari ASI

Menurut dr. I.G.A.N. Partiwi, SpA, MARS, pemberian ASI perlu disertai dengan monitor berat badan bayi. “Nutrisi ASI sebetulnya cukup untuk usia 0-6 bulan, secara teori. Tapi praktiknya apakah cukup atau tidak, sebetulnya harus memonitor berat badan,” tutur dokter spesialis anak yang dipanggil dr. Tiwi ini.



Pada bayi berusia 1-3 bulan, komposisi ASI biasanya masih sangat baik dan sangat mencukupi kebutuhan bayi. Kecukupan gizi oleh ASI dibilang baik bila kenaikan berat badan bayi optimal, yakni antara 600 gram hingga 1 kg per bulan. “Jadi apakah cukup atau tidak, tentu saja harus dievaluasi setiap bulannya,” kata dr. Tiwi.

Ada beberapa momen rawan di mana Moms perlu memperhatikan perkembangan berat badan bayi. Pada dua minggu pertama kehidupannya, Moms mungkin belum bisa mengukur seberapa banyak produksi ASI Anda serta belum fasih menyusui. Maka pada masa ini berat badan bayi yang menurun belum menjadi masalah besar, asalkan pada hari ke-14 berat badannya kembali ke berat lahir. Setelah itu beratnya kembali dievaluasi, setidaknya berat badannya perlu naik sebanyak 20 gram per hari.

Saat usia bayi menginjak bulan ke-2 dan ke-3, bayi sudah bisa melakukan lebih banyak aktivitas, contohnya membalikkan tubuh dan melihat. Periode rawan selanjutnya adalah ketika bayi menginjak usia 4 bulan. Sebabnya pada usia ini ibu sudah bisa kembali bekerja, sehingga dapat menjadi tantangan tersendiri untuk menyediakan ASI perah (ASIP). Pada rentang usia ini, berat badan bayi perlu naik sekitar 450-600 gram per bulan.

Kiat Mencukupkan Gizi Bayi Menyusu

Dr. Tiwi mengatakan bahwa pemberian ASI perlu disesuaikan, jangan sampai menghambat atau mengorbankan kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang. Artinya, Moms perlu bantu menambah asupan gizi Si Kecil.

Beberapa cara untuk menyiasati bayi menyusu yang berat badannya kurang, antara lain:



1. Lihat kapan berat badannya tidak naik. Menurut dr. Tiwi, berat badan bayi berhenti seringkali di saat ibu mulai kembali bekerja. Pada momen ini ibu seringkali kesulitan untuk memanajemen ASIP. Tapi bila produksi ASI cukup, maka ibu perlu mengatur kembali jadwal memerah ASI-nya.

2. Pemberian ASI donor pada bayi usia cukup bulan tidak perlu dilakukan, terlebih lagi pada bayi yang berusia 3-4 bulan. Bila tetap ingin diberikan, maka screening ASI donor perlu dilakukan dengan hati-hati. “Karena ASI itu sama seperti darah, bisa menularkan penyakit. Ada beberapa penyakit yang bisa di-screening, tapi ada juga yang tidak. Maka perlu hati-hati,” kata dr. Tiwi.

3. Memberikan susu formula pada bayi berusia 3-4 bulan yang masih menyusu ASI tapi berat badan rendah adalah saran utama dari dr. Tiwi.

4. Memberikan MPASI pada bayi berat badan rendah berusia 4 bulan bisa dilakukan. Pemilihan bahan MPASI perlu didiskusikan dengan dokter terlebih dahulu agar dapat efektif menaikkan berat badan bayi. Pemberian MPASI tetap perlu dibarengi dengan pemberian ASI maupun ASIP.

Berikut tanda bayi menyusu yang perlu intervensi nutrisi dan siasat menanganinya. Moms juga bisa tonton video seputar intervensi nutrisi pada bayi yang menyusu ASI berikut! (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)




Tags: bayi,   asi,   kurang gizi,   nutrisi