Mother&Baby Indonesia
Ini 7 Tanda Stres pada Balita dan Penyebabnya

Ini 7 Tanda Stres pada Balita dan Penyebabnya

Masa balita bisa dibilang merupakan momen Si Kecil yang sedang lucu-lucunya. Anda bisa dibuatnya kagum bukan kepalang ketika mendapatinya mampu memeluk temannya yang menangis atau berbicara dengan kosakata yang terus bertambah setiap harinya.

Tapi pada masa ini juga Si Kecil menghadapi berbagai tantangan baru yang berat, terutama dengan perkembangan mental dan tubuhnya. Ia seringkali dapat sangat sensitif terhadap dunia di sekitarnya sehingga rentan mengalami stres. Sayangnya, beberapa orang tua mungkin tak memahami hal ini. Untuk itu, M&B sudah merangkum beberapa tanda dan penyebabnya. Simak penjelasan berikut, Moms!

Tanda Stres pada Balita

Setiap anak dapat mengalami gejala ataupun tanda stres yang berbeda-beda. “Setiap anak adalah unik dan akan menunjukkan gejala stres yang personal,” tutur Elizabeth Pantley, penulis buku The No-Cry Separation Anxiety Solution dilansir dari Parents.



Namun, bila Moms memberikan perhatian lebih pada tutur kata dan perilakunya, maka Anda bisa mendapati beberapa tandanya. Berikut beberapa hal yang bisa menjadi tanda stres pada balita:

• Berubahnya kebiasaan atau jadwal tidur dan makan

• Suasana hatinya mudah berubah

• Tantrum atau menangis menjadi lebih sering terjadi

• Sering mimpi buruk atau merasa ketakutan saat tidur

• Gangguan kesehatan fisik, seperti pusing atau sakit perut

• Sering bergerak dengan gelisah, batuk, dan cemas

• Munculnya kebiasaan baru yang ia andalkan saat cemas, seperti mengunyah rambut atau mengisap jempol.



Menurut Elizabeth, walaupun beberapa gejala di atas tak melulu menandakan stres, tapi dapat berkaitan dengan perilaku, kebiasaan, dan perkembangan yang menyimpang. Bila hal ini semakin buruk, maka dapat saja menandakan sesuatu yang lebih buruk pula.

Penyebab Stres pada Balita

Ada pun beberapa penyebab stres pada balita antara lain:

Separation Anxiety

Rene Hackney, Ph.D., psikolog perkembangan anak dan pelopor Parenting Playgroups and Parenting by Dr. Rene, mengatakan, “Walau memang separation anxiety adalah respons yang sehat dari perpisahan, hal ini dapat menjadi reaksi terhadap pemicu stres lainnya, seperti day care yang baru.”

Dinamika Keluarga

Perubahan yang besar dalam kehidupan keluarga, seperti kematian, perceraian, hilangnya mata pencaharian orang tua, atau pindah rumah dapat menjadi alasan stres pada balita. “Kombinasi dari peningkatan dinamika emosi, jadwal rutinitas yang terganggu, dan rutinitas yang baru dapat membuat seorang anak yang santai menjadi penuh tekanan,” ujar Elizabeth.

Bahkan perubahan yang positif, seperti kelahiran adik, juga dapat menjadi tekanan tersendiri bagi balita karena ia perlu menyesuaikan diri lagi.

Potty Training

Rene mengatakan bahwa potty training dapat menjadi pemicu stres bagi balita ketika orang tua memaksakan anaknya sebelum ia siap. Bila potty training terasa seperti sebuah permasalahan kedisiplinan, maka Moms perlu evaluasi kesiapan Si Kecil. Ini mungkin caranya untuk memberi tahu Anda bahwa ia belum siap. Semakin lama perjalanan potty training Si Kecil, maka semakin besar pula stres yang dirasakan oleh Si Kecil.

Jadwal yang Melelahkan

Jadwal yang terlalu ketat dan padat oleh berbagai macam kegiatan dapat menjadi alasan Si Kecil mengalami stres. Sebabnya, pada masa ini Si Kecil sedang menggunakan banyak waktunya untuk menjelajahi dunia di sekitar mereka.

Kejadian yang Tidak Diharapkan

Hal-hal besar dan mengerikan, seperti bencana alam dan serangan teroris, atau paparan terhadap kekerasan (bahkan adegan kekerasan pada tayangan televisi) dapat sangat berdampak pada mental Si Kecil. Hal-hal seperti paparan yang tak sengaja atau tayangan iklan televisi yang mengerikan dapat sangat berpengaruh pada Si Kecil. Maka dari itu, menjaga Si Kecil dari gambar maupun tayangan yang mengerikan adalah langkah yang tepat. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   stres,   mental