Mother&Baby Indonesia
Makna di Balik Lomba 17 Agustus yang Perlu Anda Tahu

Makna di Balik Lomba 17 Agustus yang Perlu Anda Tahu

Ada yang berbeda pada perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun ini. Ya, karena adanya pandemi COVID-19, maka sejumlah acara atau kegiatan lomba 17 Agustus pun terpaksa ditiadakan.

Padahal banyak sekali keseruan yang terjadi dalam berbagai lomba tersebut. Meski tahun ini tak ada lomba, tak ada salahnya jika Moms tetap memperkenalkan Si Kecil dengan lomba-lomba yang biasa digelar untuk merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia beserta maknanya.

1. Lomba Makan Kerupuk

Lomba makan kerupuk adalah jenis lomba yang paling diminati anak-anak kecil. Aturannya sederhana, pesertanya harus menghabiskan kerupuk yang digantung dengan tangan terikat di belakang. Namun sesungguhnya, kisah lomba makan kerupuk ini cukup miris karena merupakan simbol keprihatinan zaman dulu saat rakyat sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Pada zaman penjajahan, banyak rakyat Indonesia yang hidup miskin sehingga hanya mampu makan dengan nasi dan kerupuk.



2. Lomba Balap Karung

Mengikuti atau menonton lomba balap karung memang seru. Dalam lomba balap karung, peserta diwajibkan melompat dengan kaki berada di dalam karung goni, hingga mencapai garis finis. Penggunaan karung goni adalah sebagai pengingat bahwa pada zaman penjajahan Jepang, banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan baju dari karung goni karena tak mampu membeli pakaian yang layak.

3. Lomba Tarik Tambang

Lomba tarik tambang biasanya diikuti oleh orang dewasa atau anak-anak yang sudah lebih besar. Peraturannya, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Lantas kedua kelompok tesebut harus saling menarik tali tambang hingga kelompok di salah satu ujung tambang tak mampu menahan tali tersebut. Lomba ini diadakan untuk mengenang keadaan pada zaman penjajahan Belanda yang penuh dengan kerja paksa, salah satunya adanya dengan menarik benda-benda berat menggunakan tali tambang.

4. Lomba Panjat Pinang

Lomba yang satu ini bisa dibilang yang paling seru. Biasanya, panitia penyelenggara menggelar lomba panjat pinang pada akhir acara atau sebagai permainan di puncak acara. Meski pesertanya beragam, mulai anak-anak hingga ibu-ibu, sesungguhnya panjat pinang termasuk lomba yang cukup sulit. Pasalnya, para peserta diwajibkan memanjat batang pinang yang tingginya sekitar 10 meter dengan badan yang sudah dilumuri oli. Sudah terbayang kan, sulitnya? 



Walaupun sulit, tapi pesertanya tetap antusias, lho. Pasalnya, hadiah yang ditawarkan dan ditaruh di puncak pinang biasanya lumayan menggiurkan, seperti pakaian, rice cooker, hingga sepeda.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa lomba panjat pinang sesungguhnya adalah lomba 17 Agustus yang bertujuan untuk mengenang pahitnya zaman penjajahan Belanda. Nama lombanya pun diambil dari bahasa Belanda, yaitu “De Klimmast” yang berarti panjat tiang.

Lomba ini dibawa oleh para penjajah asal Belanda ke Indonesia. Namun pesertanya adalah pribumi yang kala itu sulit memenuhi kebutuhan pangan maupun sandang. Oleh sebab itu, Belanda mengadakan lomba ini dengan memperebutkan beras, tepung, pakaian, atau hadiah lainnya. Bagi penjajah Belanda, lomba panjat pinang merupakan hiburan. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: 17 agustus,   lomba,   hut ri 75,   hari kemerdekaan