Mother&Baby Indonesia
Mom’s Story: Tips Membesarkan Anak Tanpa Sosok Ayah

Mom’s Story: Tips Membesarkan Anak Tanpa Sosok Ayah

Membesarkan anak memang berat, apalagi jika Anda harus melakukannya seorang diri, alias single parent, baik karena pasangan Anda telah meninggal dunia, bercerai, atau bahkan yang terburuk, hilangnya sosok ayah yang dikarenakan kehadiran fisik tanpa peran, tak hanya bagi orang tua, namun juga bagi Si Kecil. Meskipun sudah berusaha sebaik mungkin, rasanya tetap ada kepincangan di dalam keluarga.

Tentunya, tidak ada satu pun pasangan suami-istri yang ingin pisah. Namun, jika hal itu harus terjadi, bagaimana lagi selain bangkit dan menjalani kehidupan baru dengan lebih baik -setuju, kan?

Sebagai seorang single mom, tentunya ada banyak sekali hal yang harus saya pikirkan, seperti menjalin kedekatan dengan anak semaksimal mungkin, memenuhi kebutuhan finansial rumah tangga, hingga bagaimana mencari waktu untuk bisa 'bernapas' sejenak dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Namun, tak bisa dipungkiri, satu pertanyaan yang kerap kali muncul adalah bagaimana cara untuk membesarkan Si Kecil tanpa sosok ayah di rumah.



Belajar menjadi tangguh dan berani dari seorang ibu? Bisa, tapi tentunya tak akan sama saat anak mempelajarinya dari sang ayah. Di saat teman-temannya yang lain belajar naik sepeda bersama ayah, Si Kecil mungkin belajar sendiri. Di saat teman lain main bola bersama ayah, Si Kecil mungkin harus mencari hobi lain yang jauh dari adanya peran ayah, dan sebagainya.

Ya Moms, setiap figur ayah maupun ibu memberikan stimulasi yang berbeda dan masing-masing memiliki perannya untuk memenuhi kebutuhan anak dari sisi yang berbeda juga. Dan tak bisa dipungkiri bahwa peran seorang ayah sangatlah penting dalam tumbuh kembang anak. Banyak manfaat yang bisa diperoleh anak saat kehidupannya ikut didampingi oleh sosok sang ayah.

Lalu, benarkah membesarkan anak tanpa sosok ayah bisa menimbulkan masalah? Prinsip saya Moms, tidak ada masalah yang tak bisa dihadapi. Jadi, jika Moms saat ini sedang menjalani kondisi yang sama, Moms bisa mencoba tips berikut:

1. Dahulukan Kepentingan Anak

Jika Anda berpisah dengan suami karena perceraian, saat membicarakan tentang hak asuh, tentu Anda ingin Si Kecil selalu ikut bersama Anda. Kalau mau egois, Moms juga tak mau mengizinkan Si Kecil tinggal dengan ayahnya ataupun melakukan pembagian waktu yang adil antara Moms dan mantan suami.

Namun, hal itu tentu saja tak mungkin, kecuali mantan suami Anda memang hilang lenyap tak ada kabar sama sekali, atau tak bertanggung jawab bahkan merasa terganggu ketika Si Kecil menghubungi. Kehadiran figur semua orang tua sangatlah penting, karena itu, marilah menekan ego demi kebutuhan Si Kecil ya, Moms.

2. Jelaskan Mengenai Konsep Keluarga

Salah satu kekhawatiran yang bisa muncul saat terjadi perceraian terjadi adalah bagaimana jika sang ayah ternyata tidak memberikan waktu untuk Si Kecil sehingga suatu saat nanti Si Kecil bisa saja merasa tidak percaya diri dengan kondisi keluarganya yang berbeda dengan keluarga teman-temannya.

Bagaimana menjelaskan pada Si Kecil bahwa tak ada yang salah dengan keluarga tanpa sosok ayah di dalamnya? Triknya adalah, jelaskan pada Si Kecil bahwa konsep keluarga itu tidak harus selalu ada ayah, ibu, dan anak. Keluarga adalah kumpulan orang-orang yang saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Tekankan pada Si Kecil bahwa ia sekarang dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintai dan mendukungnya. Dan itu cukup, kok!

3. Cari Figur Pengganti

Untuk mengurangi efek buruk dari tidak hadirnya sosok ayah dalam kehidupan Si Kecil, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengganti figur seorang ayah untuk Si Kecil dari orang lain, seperti kakek, paman, hingga teman-teman Moms.



Biarkan Si Kecil sesekali bermain, belajar atau sekadar berjalan-jalan bersama mereka sehingga ia bisa mendapatkan figur ayah. Yang perlu Moms perhatikan, pastikan bahwa kedekatan Si Kecil dengan laki-laki lain berada di dalam batasan-batasan yang aman dan sesuai koridor, ya.

4. Berperan Sebagai Ayah

Pola asuh ibu dan ayah sudah pasti berbeda. Sebut saja, cara bermain. Jadi sebisa mungkin, misalnya Anda memiliki anak laki-laki, penuhi keinginannya saat ia meminta untuk menjadi robot, atau ikut serta dalam permainan yang biasanya dimainkan oleh anak laki-laki. Ya Moms, sebagai ibu, Anda harus strong dan serba bisa, ya!

As a single mom, I’m juggling a lot and working long hours. Yes, it costs them a little, but what my children get in return is a mother who is energized and content." - Edie Falco

5. Jangan Sembunyikan Fakta

Tak ada gunanya menutup-nutupi kondisi yang terjadi. Toh, cepat atau lambat, Si Kecil pun akan tahu. Kalau prinsip saya sih, lebih cepat tentunya akan lebih baik, yang penting, jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti Si Kecil, sesuai dengan usianya.

Misalnya Anda bercerai, ya katakan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa Anda dan sang ayah sudah tidak bisa lagi tinggal bersama karena jika itu terus dipertahankan, Anda berdua bisa terus bertengkar dan tentunya Si Kecil juga tak akan suka melihat hal itu.

Intinya, jangan pernah berbohong pada anak mengenai perceraian atau perpisahan yang Anda alami dengan mantan suami Anda. Tapi, jangan juga menjelek-jelekkan sang Ayah ya, Moms.

6. Berikan Waktu Lebih Banyak untuk Anak

Tak bisa dipungkiri, buat saya inilah hal terberat. Menjadi orang tua tunggal yang harus membiayai seluruh kebutuhan anak maupun Anda sendiri 'memaksa' saya untuk mencurahkan nyaris seluruh waktu saya untuk pekerjaan. Tapi tetap saja, sesibuk apa pun Anda, luangkanlah waktu lebih banyak untuk Si Kecil, karena saat ini anak sangat butuh kasih sayang dan perhatian.

Pada hakikatnya, yang Anda lakukan adalah untuk anak, jadi paksakan diri untuk set boundaries dari pekerjaan di luar jam kerja dan di hari libur. Sulit memang, tapi bisa dilakukan, kok. Percayalah bahwa semua usaha Anda akan dibayar 'lunas' di kemudian hari. Semangat terus ya, Moms! (Nanda Djohan/SW/Dok. Freepik)



Tags: moms story,   single mom,   parenting,   orang tua tunggal,   perceraian,   single parent