Mother&Baby Indonesia
Waspada Resistensi Antibiotik! Ini Bahayanya, Moms

Waspada Resistensi Antibiotik! Ini Bahayanya, Moms

Di masyarakat kita, penggunaan antibiotik sudah sangat akrab untuk mengobati penyakit, dikarenakan antibiotik ampuh melawan bakteri penyebab infeksi serta penyakit yang dialami. Akan tetapi, Moms mesti paham bahwa pemakaian antibiotik untuk pengobatan harus sesuai indikasi dan mengikuti aturan yang dianjurkan oleh dokter. Tidak semua penyakit harus disembuhkan dengan antibiotik lho, Moms.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat justru berisiko membuat bakteri menjadi kebal, sehingga antibiotik tidak lagi efektif melawan bakteri dan menyebabkan kegagalan dalam membantu penyembuhan penyakit. Kegagalan ini dikenal dengan istilah resistensi antibiotik.

Apa Itu Resistensi Antibiotik?

Dilansir dari Kompas.com, resistensi antibiotik merupakan kondisi di mana bakteri tidak lagi bisa dimatikan dengan antibiotik, sehingga hal ini bisa mengancam kemampuan tubuh dalam melawan penyakit infeksi yang dapat berakibat pada kecacatan atau bahkan kematian.



Dalam kasus resistensi antibiotik, bakteri masih tetap hidup walaupun telah diserang oleh antibiotik. Bakteri ini berhasil mengubah dirinya sehingga menggagalkan kinerja antibiotik yang telah dirancang untuk membasminya. Hal ini berujung dengan bakteri terus berkembang biak walaupun Anda tengah di masa pengobatan dan berisiko menciptakan komplikasi lain di dalam tubuh.

World Health Organization (WHO) bahkan menyatakan resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman global terbesar dalam dunia kesehatan masyarakat. Saat ini, resistensi antibiotik diperkirakan mengakibatkan 700 ribu kematian di seluruh dunia. Jika tidak ada tindakan yang diambil, resistensi antibiotik diperkirakan akan mengakibatkan sekitar 10 juta kematian secara global, setiap tahunnya, pada 2050.

Apa Penyebab Resistensi Antibiotik?

Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya resistensi antibiotik, yaitu pemakaian antibiotik secara berlebihan, minum antibiotik tanpa anjuran dari dokter, dan tidak mematuhi petunjuk penggunaan antibiotik, misalnya antibiotik harus rutin diminum dan dihabiskan, tapi anjuran ini tidak dipatuhi oleh penderita penyakit.

Selain itu, pemakaian yang tidak tepat sasaran juga bisa memicu terjadinya resistensi antibiotik, contohnya memakai antibiotik untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti pilek, sakit tenggorokan, sinus, infeksi telinga, dan masih banyak lagi. Jangan menggunakan antibiotik untuk menyembuhkan penyakit ini, karena bisa saja malah mempercepat terjadinya resistensi antibiotik pada tubuh.



Mencegah Resistensi Antibiotik

Resistensi antibiotik sangat berbahaya karena tidak bisa diobati, Moms. Jika Anda terkena penyakit yang memiliki bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik, yang dapat dilakukan adalah menggunakan antibiotik lainnya guna membunuh bakteri jahat ini.

Karena itu, penting untuk mengetahui cara mengonsumsi antibiotik yang tepat. Saat Anda sakit, misalnya, jangan langsung membeli obat antibiotik guna menyembuhkan penyakit. Anda sebaiknya ke dokter. Saat bekonsultasi dengan dokter, Anda bisa beritahu riwayat penyakit serta obat yang Anda minum. Ingatkan pula apabila Anda punya riwayat alergi obat tertentu. Moms juga perlu mengetahui apakah penyakit Anda harus diobati dengan antibiotik atau bisa sembuh tanpa perlu mengonsumsi obat antibiotik.

Jika dokter memberikan obat antibiotik, konsumsi obat tersebut dengan dosis yang disarankan oleh dokter. Minum obat yang diberikan bersama dengan air putih. Jenis minuman beralkohol, susu, maupun jus tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi saat minum antibiotik. Selain itu, jangan menghentikan konsumsi obat hanya karena Anda merasa lebih baik, ya.

Yang tak kalah penting, lakukan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah pertumbuhan kuman dan bakteri yang bisa menyebabkan Anda sakit dan harus mengonsumsi antibiotik. Salah satu kebiasaan yang mudah dilakukan adalah rutin mencuci tangan. (Oktavia Putri/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   resistansi antibiotik,   obat,   bakteri