Mother&Baby Indonesia
Cara Sederhana Mengajarkan Feminisme pada Anak

Cara Sederhana Mengajarkan Feminisme pada Anak

Setiap orang tua tentu memiliki caranya masing-masing untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehidupan atau ideologi tertentu pada anak-anaknya. Pun tak ada salahnya bila Anda memutuskan untuk membesarkan anak Anda menjadi seorang feminis dengan mengajarkan konsep feminisme sejak kecil.

Pada dasarnya, feminisme merupakan sebuah ideologi yang menginginkan adanya kesetaraan bagi perempuan dalam banyak hal, entah itu politik, budaya, ekonomi, dan masih banyak lagi. Mengajarkan konsep feminisme pada Si Kecil merupakan hal krusial yang harus dilakukan dengan benar.

Melansir laman Times of India, pada rentang usia 3 sampai 5 tahun, anak-anak sudah dapat melihat perbedaan gender dan membentuk opini mereka sendiri, yang selanjutnya dapat membentuk kepribadian mereka. Oleh karena itu, membesarkan putra atau putri feminis, yang memahami pentingnya kesetaraan, harus dimulai sejak dini.



Nah, berikut ini beberapa tips sederhana yang bisa Moms lakukan untuk mengajarkan feminisme pada Si Kecil:

1. Perlihatkan Contoh Sederhana

Anak-anak belajar apa yang salah dan benar dengan mengamati apa yang dilakukan orang tua, orang yang lebih tua darinya, dan keluarga mereka terlebih dahulu. Sebagai orang tua, Anda tak perlu takut untuk melawan stereotip dan melakukan hal yang benar.

Perlihatkan pada Si Kecil bahwa laki-laki bisa memasak dan perempuan bisa memimpin keluarga. Anak-anak juga harus diajari bahwa tidak ada pekerjaan yang dikhususkan untuk jenis kelamin tertentu.

2. Biarkan Anak Melakukan Aktivitas yang Netral Gender

Jika Moms benar-benar ingin membesarkan anak yang bisa lebih menerima dan menyambut dunia yang terus berubah, mulailah dengan menyingkirkan peran khusus gender di rumah. Berikan kebebasan pada putra Anda untuk bermain boneka, sedangkan biarkan putri Anda untuk melakukan olahraga sepakbola atau olahraga lain yang identik dengan olahraga pria.

Dorong mereka untuk menghilangkan stereotip yang sudah ada sebelumnya. Cara lain mungkin Moms bisa mendorong anak laki-laki Anda untuk bermain dengan anak perempuan dan sebaliknya. Jangan batasi interaksi mereka.



3. Gunakan Bahasa yang Benar

Anak laki-laki sering dianggap lemah ketika ia menangis. Mungkin saat putra Anda menangis, Moms akan mengatakan “Masa anak laki-laki nangis”. Nah bila Anda ingin membesarkan seorang putra yang feminis, saat ia merasa kesal atau sedih, biarkan ia menangis dan mengeluarkan emosinya, karena mengekspresikan emosi itu sehat dan bukan sesuatu yang memalukan.

Sedangkan saat putri Anda berlaku seperti anak laki-laki, Moms tidak perlu mengejeknya atau menyuruhnya untuk berlaku lebih feminin, karena anak-anak mencontoh apa yang mereka lihat dan meniru itu. Untuk itu, menanamkan nilai-nilai yang benar sangatlah penting.

4. Hentikan Seksisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Cara menghentikan seksisme dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan membebaskan Si Kecil memilih warna sesuka hatinya. Jadi anak laki-laki tidak selalu harus menggunakan barang yang berwarna biru, begitupun dengan anak perempuan tidak harus selalu memilih warna merah muda.

5. Pastikan Anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri

Mengajari anak-anak tentang sentuhan yang baik dan buruk, serta hak atas tubuh mereka sendiri adalah suatu hal yang penting. Pastikan Anda mengajari Si Kecil bahwa mereka memegang kendali penuh atas tubuh mereka dan tidak ada yang berhak untuk mengatakan hal yang buruk atau melakukan body shaming pada tubuhnya. Moms juga bisa membangun kepercayaan dirinya dan mendorong ia untuk menghargai tubuhnya.

6. Pantau Penggunaan Media

Sekeras apa pun Anda mengajarkan Si Kecil tentang feminisme, di era digital ini anak-anak tetap bisa dengan mudah melihat konten berbau seksis, gender, ataupun kekerasan sekalipun. Selain memantau penggunaan media pada Si Kecil, Moms juga perlu mengajari anak-anak sejak dini bagaimana melihat secara kritis pesan-pesan yang mereka lihat di media. Tak hanya media sosial, saat menonton tv atau membaca majalah, Moms juga bisa mengajaknya untuk mendiskusikan kontennya. (Vonda Nabilla/SW/Dok. Freepik)



Tags: feminisme,   anak,   balita