Mother&Baby Indonesia
Kenali 7 Jenis Buta Warna yang Bisa Terjadi pada Anak

Kenali 7 Jenis Buta Warna yang Bisa Terjadi pada Anak

Mayoritas manusia bisa melihat dan mengenali jutaan warna di dunia. Indahnya warna-warni yang bisa Anda pandangi merupakan ‘hadiah’ dari kerja keras tiga sel kerucut atau reseptor warna yang mengirimkan pesan ke otak.

Sayangnya pada beberapa orang, mungkin hanya dua sel kerucut yang bisa bekerja dengan baik. Akibatnya, terjadilah kondisi yang disebut dengan buta warna. Menurut Colour Blind Awareness, buta warna lebih sering dialami pria. Sekitar 8 persen populasi pria dan 1 persen wanita di dunia mengalami buta warna.

Walau disebut buta warna, namun bukan berarti penderitanya benar-benar tidak bisa melihat warna atau hanya bisa melihat hitam putih saja, Moms. Ada beberapa jenis buta warna yang sering terjadi. Kenali jenisnya, yuk!



Trikromasi

Ini adalah sebutan untuk kemampuan melihat warna dengan baik, karena ketiga sel kerucut atau reseptor warnanya bekerja dengan sempurna. Orang yang memiliki kemampuan trikromasi disebut dengan trikromat ya, Moms.

Trikromasi Anomali


Ketika satu dari tiga sel kerucut tidak bekerja optimal, maka terjadilah kondisi yang disebut trikromasi anomali. Umumnya hanya satu dari tiga sel kerucut yang bekerja kurang baik, dan beda kerucut yang bermasalah maka beda pula hasil penglihatannya. 

• Protanomali: Ini adalah kekurangan sensitivitas untuk melihat warna merah.

• Deuteranomali: Kekurangan sensitivitas untuk melihat warna hijau. Ini contoh buta warna yang paling sering terjadi.

• Tritanomali: Kekurangan sensitivitas untuk melihat warna biru. Kasus ini sangat jarang terjadi.

Pada tiga jenis buta warna di atas, derajatnya cukup beragam, mulai dari kurang jelas melihat warna merah, hijau, atau biru, hingga tidak bisa mengenali warna-warna tersebut sama sekali. Mereka yang mengalami deuteranomali dan protanomali biasanya disebut buta warna merah-hijau, dan umumnya kesulitan membedakan warna merah, hijau, cokelat, dan oranye. Mereka juga sering kesulitan membedakan warna-warna turunan biru dan ungu.



Sedangkan pada buta warna tritanomali, umumnya mereka kesulitan membedakan warna biru dan kuning, ungu dan merah, juga hijau dan biru. Bagi mereka, dunia ini dipenuhi warna merah, pink, hitam, putih, abu-abu, dan turquoise.

Dikromasi

Penderita dikromasi hanya memiliki dua sel kerucut untuk mengolah warna, dan satu kerucutnya tidak ada atau tidak berfungsi sama sekali. Dikromasi sendiri terbagi menjadi tiga berdasarkan sel kerucut yang rusak, yaitu:

• Protanopia: Ini terjadi ketika reseptor warna merah tidak ada atau tidak berfungsi. Jenis buta warna ini cukup membingungkan karena anak melihat warna agak samar, seperti hitam terlihat agak kemerahan, cokelat gelap terlihat kehijauan, oranye gelap, dan merah gelap. Ia juga melihat biru memiliki semburat merah, ungu, dan pink gelap.

• Tritanopia: Ini terjadi ketika sel kerucut yang tidak ada atau tidak berfungsi mengolah warna biru dan kuning. Umumnya anak tritanopia kesulitan membedakan warna biru dengan abu-abu, ungu gelap dengan hitam, hijau gelap dengan biru, dan oranye dengan merah.

• Deuteranopia: Ini terjadi ketika reseptor warna hijau pada retina anak tidak ada atau tidak berfungsi. Akibatnya anak kesulitan membedakan warna hijau terang dengan kuning, pink pucat dengan abu-abu muda, biru terang dengan ungu muda.

Monokromasi (Akromatopsia)

Ini adalah jenis buta warna total yang jarang terjadi, yaitu tidak mengenal warna sama sekali. Penderitanya hanya bisa melihat warna hitam, putih, abu-abu, dan warna-warna monokrom di antaranya. Ya, persis seperti ketika Anda melihat film hitam putih tempo dulu.

Kasus ini juga disebut dengan akromatopsia, yang hanya terjadi pada 1 dari 33.000 kasus. Dokter mata anak umumnya akan menyarankan untuk memakai kacamata gelap ketika anak beraktivitas di kondisi cahaya normal. (Tiffany/SW/Dok. Freepik, Color Blind Awareness)



Tags: buta warna,   penglihatan,   mata,   anak,   balita,   ophthalmology