Mother&Baby Indonesia
Begini Cara Deteksi ADHD pada Anak dan Penanganannya

Begini Cara Deteksi ADHD pada Anak dan Penanganannya

Memang wajar bagi anak-anak, terutama balita, bila mereka selalu berlarian ke sana kemari atau tak bisa duduk diam dan tenang saat makan. Tapi tak bisa fokus, impulsif, dan hiperaktif dapat menjadi beberapa tanda attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak.

Melansir Help Guide, ADHD sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang bisa muncul sejak kecil, biasanya sebelum anak berusia 7 tahun. Apakah Si Kecil dapat kesulitan dengan kondisi ini? Tentu saja. ADHD membuatnya sulit memahami instruksi, tak bisa fokus, bahkan dapat dicap sebagai anak nakal dan pembuat onar.

Pentingnya Deteksi Dini ADHD pada Anak

Jangan khawatir Moms, karena deteksi dini dapat membantu Si Kecil menjalani kehidupannya dengan maksimal. Semakin dini ADHD dideteksi, maka semakin cepat juga Si Kecil mendapatkan bantuan yang ia perlukan.



Melansir Healthy Children, terdapat 3 macam gejala umum ADHD, yakni inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Setiap macam gejala dapat muncul dalam tindakan atau gejala yang lebih spesifik. Berikut penjelasannya, Moms.

1. Inatensi

Si Kecil dapat mengalami:

• Sulit berkonsentrasi di kelas, suka melamun

• Sering terlihat tidak menyimak atau mendengarkan

• Mudah teralihkan, baik saat mengerjakan sesuatu maupun bermain

• Seringkali terlihat tak peduli pada detail sehingga sering ceroboh

• Tidak mengikuti perintah atau tidak menyelesaikan tugas

• Berantakan

• Sering kehilangan hal-hal penting

• Sering lupa

• Seringkali menghindar agar tidak melakukan hal-hal yang membutuhkan upaya mental.

2. Hiperaktif

Si Kecil dapat mengalami:

• Selalu bergerak

• Tidak bisa duduk diam

• Seringkali terlihat menggeliat dan gelisah



• Terlalu banyak bicara

• Berlari, melompat, dan memanjat walau sudah dilarang

• Tidak bisa main dengan tenang.

3. Impulsif

Si Kecil dapat mengalami:

• Bertindak dan bicara tanpa berpikir terlebih dahulu

• Dapat berlari ke jalan tanpa melihat sekeliling dan kondisi jalanan

• Sering bermasalah untuk bergantian

• Tidak bisa menunggu

• Sering menjawab sebelum pertanyaan selesai dibacakan

• Sering menginterupsi.

Bila Anda sudah menemukan beberapa tanda di atas pada Si Kecil, maka Moms perlu segera konsultasikan hal ini dengan dokter. Pasalnya, diagnosis tak bisa dilandaskan pada satu macam tes saja dan beberapa tanda perilaku dapat saja menunjukkan kondisi atau masalah lain.

Dokter biasanya akan melakukan beberapa tahapan dan mencoba memperoleh informasi dari berbagai macam sumber, seperti sekolah, keluarga, dan lingkungan pertemanan. Dokter juga akan menanyakan gejala apa saja yang Si Kecil punya, sejak kapan ia berperilaku seperti itu, dan dampak perilaku itu pada diri Si Kecil sendiri dan keluarga.

Melansir WebMD, dokter biasanya akan mendiagnosis ADHD apabila Si Kecil menunjukkan setidaknya 6 gejala spesifik dalam kurun waktu 6 bulan pada 2 lingkungan. Dokter juga akan melakukan tes fisik, mempelajari riwayat medis, bahkan scan otak.

Penanganan yang Tepat

Penanganan umum ADHD biasanya meliputi program edukasi, intervensi psikologis, dan medikasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perawatan jangka panjang dengan kombinasi medikasi dan terapi perilaku dapat sangat membantu Si Kecil mengatur perilaku hiperaktif, impulsif, inatesi, serta gejala gelisah dan depresi. Selain itu, kombinasi perawatan ini juga mendukung anak untuk memiliki kemampuan sosialisasi yang sangat baik.

Namun tidak ada satu cara penanganan yang bisa diaplikasikan pada seluruh anak dengan ADHD. Sebabnya, setiap anak memiliki kebutuhan dan riwayat yang berbeda-beda. Konsultasikan cara penanganan yang tepat dengan dokter Si Kecil. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: adhd,   anak,   balita,   deteksi adhd