Mother&Baby Indonesia
Pentingnya Skrining Hipotiroid pada Bayi Baru Lahir

Pentingnya Skrining Hipotiroid pada Bayi Baru Lahir

Apakah Moms pernah mendengar istilah hipotiroid? Dalam istilah medis, hipotiroid atau hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup.

Kelenjar tiroid adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Kelenjar ini berfungsi memproduksi hormon tiroid yang bermanfaat untuk mengatur metabolisme tubuh, menjaga suhu tubuh tetap hangat, serta menunjang kinerja organ-organ tubuh, seperti otak, jantung, dan otot.

Saat seseorang mengalami hipotiroid, artinya fungsi tubuhnya pun akan terganggu. Penyakit ini bisa dialami siapa saja, mulai dari bayi hingga lansia. Pada bayi yang baru lahir, kelainan ini disebut dengan istilah hipotiroid kongenital.



Kondisi hipotiroid kongenital ditemukan pada 1 dari 2.000 bayi yang lahir di Indonesia. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya hipotiroid kongenital, tapi yang paling umum adalah kurangnya asupan yodium ibu pada masa kehamilan.

Gejala Hipotiroid Kongenital

Bayi dengan hipotiroid kongenital ringan mungkin tidak menunjukkan gejala-gejala yang jelas. Namun pada kasus yang cukup berat, wajah bayi akan terlihat sembap atau bengkak dengan lidah yang tebal dan besar. Tanda-tanda lain dari bayi yang mengalami hipotiroid kongenital adalah:

• Kulit dan mata menguning

• Kesulitan saat makan

• Perut membengkak dan terkadang pusar terlihat menonjol

• Otot lesu dan lemah

• Rambut kering dan rapuh

• Lengan dan tungkai terlihat lebih pendek.

Jika melihat tanda-tanda tersebut, Moms perlu segera melakukan pemeriksaan atau skrining pada Si Kecil yang baru saja dilahirkan. Pasalnya jika tidak ditangani, hipotiroid kongenital berpotensi untuk mengganggu pertumbuhan anak di kemudian hari. Anak dengan kondisi ini akan memiliki tubuh pendek atau cebol, mengalami retardasi mental, dan sulit berbicara.

Pentingnya Skrining Hipotiroid

Pada sebagian besar kasus hipotiroid kongenital (lebih dari 95 persen), bayi tampak normal pada beberapa pekan pertama sejak dilahirkan. Hal itu disebabkan karena selama dalam kandungan, bayi mendapatkan hormon tiroid dari ibunya melalui plasenta. Alhasil, bayi tidak menunjukkan gejala yang khas sehingga sering luput dari pengamatan. Dalam kasus seperti ini, tanda adanya penyakit hipotiroid kongenital baru akan terlihat setelah beberapa bulan sehingga terlambat untuk ditangani.

Tanpa pengobatan, bayi dengan kelainan hipotiroid kongenital lambat laun akan terlihat:



• Kurang aktif

• Malas bergerak

• Malas menyusui

• Mengalami penyakit kuning dalam periode yang lama

• Tangan dan kaki jarang bergerak

• Lidah semakin membesar sehingga sering menyebabkan tersedak saat diberi ASI

• Perut buncit

• Kulit terlihat kering dan burik

• Bayi mudah kedinginan.

Pada tahap yang sudah parah, bayi akan mengalami masalah tumbuh kembang. Oleh sebab itu, Moms disarankan untuk segera melakukan skrining atau pemeriksaan hipotiroid pada bayi saat berumur 48 hingga 72 jam, atau sebelum bayi meninggalkan rumah sakit.

Skrining hipotiroid dilakukan melalui pengambilan sampel darah dan hasilnya bisa diketahui kurang dari 1 minggu. Di negara maju, skrining hipotiroid merupakan bagian dari prosedur rutin setelah kelahiran. Namun di Indonesia, prosedur ini masih jarang dilakukan. Moms, guna mencegah efek lebih parah dari adanya gangguan tiroid pada bayi, sebaiknya Anda segera melakukan skrining hipotiroid, ya. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: hipotiroid,   kelenjar tiroid,   skrining,   bayi










Cover Mei-Juni-Juli 2020