Mother&Baby Indonesia
Mikrosefali, Kondisi Kelainan Kepala Bayi Berukuran Kecil

Mikrosefali, Kondisi Kelainan Kepala Bayi Berukuran Kecil

Ada banyak sekali gangguan kesehatan yang bisa dialami seorang bayi, salah satunya adalah kondisi mikrosefali. Mikrosefali merupakan kondisi medis di mana otak dan kepala bayi berukuran lebih kecil daripada ukuran kepala bayi pada umumnya dengan usia dan jenis kelamin yang sama.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mikrosefali dapat terjadi karena otak bayi tidak berkembang dengan normal selama masa kehamilan atau berhenti berkembang setelah lahir. Mikrosefali dapat hadir tanpa gejala lain atau sebagai kombinasi dengan cacat lahir lainnya.

Penyebab Mikrosefali

Penyebab mikrosefali dalam banyak kasus belum benar-benar diketahui. Beberapa bayi memiliki mikrosefali akibat adanya gangguan genetik. Tapi pada kasus mikrosefali yang parah, ada beberapa hal yang dialami selama hamil sebagai faktor penyebab, antara lain:



• Infeksi penyakit oleh virus maupun parasit, seperti rubella, toksoplasmosis, cytomegalovirus, dan virus zika.

• Malnutrisi yang parah, akibat kurangnya nutrisi atau makanan selama hamil.

• Paparan terhadap substansi berbahaya, seperti alkohol, obat-obatan tertentu, atau bahan kimia tertentu.

• Terhambatnya aliran darah menuju otak bayi selama perkembangan janin.

Penanganan Mikrosefali

Anak dengan mikrosefali cenderung akan memiliki dampak jangka panjang. Tapi hal ini sangat ditentukan oleh penyebab otak berhenti berkembang. Anak-anak dengan mikrosefali yang tidak parah bisa tidak memiliki gangguan besar dalam pertumbuhan, sehingga dapat tumbuh dengan normal hingga dewasa.

Tapi pada anak-anak dengan mikrosefali yang parah, mereka dapat mengalami berbagai gangguan pertumbuhan. Maka, mereka umumnya juga mengalami keterlambatan dalam proses perkembangan kemampuan hidup sehari-hari, mulai dari gangguan bergerak, berbicara, dan belajar.

Hingga kini tidak ada penanganan yang bisa mengembalikan ukuran kepala bayi menjadi normal. Penanganan berfokus pada pengurangan dampak yang disebabkan oleh gangguan bentuk kepala serta disabilitas neurologis.

Terapi fisik, berbicara, dan okupasi biasanya dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan anak dan mengurangi disfungsi tubuh. Medikasi yang sering diberikan adalah obat untuk mengontrol kejang, hiperaktif, dan gejala neuromuskular.



Cara Mencegah Mikrosefali

Melansir WebMD, ada beberapa cara yang bisa dilakukan selama hamil untuk menurunkan risiko anak lahir dengan kondisi mikrosefali, antara lain:

• Konsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bernutrisi. Jaga pola makan sehat seimbang dan lengkapi kebutuhan gizi dengan mengonsumsi suplemen vitamin tertentu.

• Hindari minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

• Hindari paparan langsung terhadap bahan kimia yang berbahaya.

• Jaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan, serta segera konsultasikan diri pada dokter bila mendapati diri Anda merasa tidak enak badan atau sakit.

• Bila Anda memelihara kucing, hindari kontak langsung dengan feses kucing atau minta orang lain untuk membersihkan kotoran kucing. Kotoran kucing dapat menyebarkan parasit yang menyebabkan toksoplasmosis.

• Jaga lingkungan rumah dari nyamuk.

Bila Anda memiliki anak dengan mikrosefali dan ingin hamil kembali, konsultasikan dengan dokter tentang hal ini untuk menimbang risiko di kehamilan selanjutnya. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: mikrosefali,   bayi,   kepala bayi