Mother&Baby Indonesia
Waspada Hipospadia, Kelainan Kelamin pada Bayi Laki-laki

Waspada Hipospadia, Kelainan Kelamin pada Bayi Laki-laki

Setelah dilahirkan, pemeriksaan kondisi tubuh dan fungsi organ bayi secara menyeluruh sangatlah penting. Hal ini biasanya dilakukan oleh dokter anak yang pertama kali memeriksa bayi. Sebagai orang tua, Anda pun perlu bersikap kritis jika melihat sesuatu yang ‘berbeda’ pada tubuh Si Kecil.

Pada bayi laki-laki, salah satu organ tubuh yang kerap luput dari perhatian orang tua adalah bagian penis. Padahal bagian ini juga bisa mengalami kelainan bawaan yang membuat uretra (lubang kencing) tidak berada di ujung kepala penis. Kelainan ini disebut dengan istilah hipospadia.

Hipospadia merupakan kelainan kondisi pada bayi laki-laki, di mana lubang kencing tidak berada di ujung kepala penis, tetapi di bawah, di batang, atau di antara buah zakar, disertai penis bengkok atau kulit penis tidak lengkap. Kasus seperti ini biasanya ditemukan pada 1 dari 300 bayi laki-laki.



Pada bayi yang menderita hipospadia, penisnya akan tampak melengkung ke arah bawah. Hipospadia juga sering disertai dengan beragam kelainan bawaan, seperti mikropenis (penis kecil), testis retraktil (testis sudah mengalami penurunan sempurna, namun tidak berada di tempat yang sesuai), kriptorkismus (testis turun), dan sebagainya.

Penyebab Hipospadia

Sampai sekarang, penyebab hipospadia belum diketahui secara pasti. Namun banyak dugaan kalau kelainan ini dipengaruhi oleh faktor genetik, kekurangan mineral tertentu, paparan infeksi dan obat-obatan saat kehamilan, hingga mengganggu proses perkembangan alat kelamin di dalam kandungan. Dr. Adam G. Baseman, MD, seorang ahli ilmu urologi, mengatakan bahwa kondisi ini terjadi karena beberapa faktor, seperti genetik, lingkungan, dan hormonal.

Gejala Hipospadia

Kondisi hipospadia yang dialami bayi bisa berbeda-beda. Pada sebagian besar kasus, lubang kencing terletak di bagian bawah kepala penis, dan sebagian lain memiliki lubang kencing di bagian bawah batang penis. Posisi lubang kencing juga bisa berada di area skrotum (buah zakar), tetapi kondisi ini jarang terjadi.

Akibat letak letak lubang kencing yang tidak normal, bayi yang mengalami kelainan hipospadia akan mengalami gejala-gejala seperti berikut:

• Urine tidak memercik dengan normal saat buang air kecil.



• Bentuk penis melengkung ke bawah.

• Kulit penis tidak lengkap dan hanya menutupi bagian atas kepala penis.

Penanganan Hipospadia

Pada dasarnya, penis memiliki 2 fungsi, yaitu fungsi pengeluaran air seni atau urine dan fungsi seksual. Hipospadia dapat menyebabkan Si Kecil kesulitan buang air kecil dan jika tidak ditangani sejak dini, akan sangat berpengaruh pada fungsi seksualnya ketika ia sudah dewasa nanti.

Banyak kasus hipospadia yang membutuhkan tindakan operasi, meskipun beberapa di antaranya, terutama yang bersifat minor, tidak memerlukannnya. Contohnya, jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi yang seharusnya, dan bentuk penis tidak melengkung, penanganan tidak diperlukan. Namun bila letak lubang kencing jauh dari posisi normalnya, operasi perlu dilakukan.

Operasi yang biasa dilakukan adalah rekonstruksi posisi lubang kencing. Setelah lubang dalam posisi yang normal, diharapkan anak dapat tumbuh normal seperti anak lainnya. Para dokter anak ahli urologi menyarankan operasi dilakukan ketika Si Kecil berumur 4 bulan, sebab semakin cepat ditangani, semakin cepat pula perbaikannya.

Jika Anda menemukan hipospadia pada bayi Anda, dr. Baseman menyarankan agar Anda segera konsultasi ke dokter saat ia berusia 0-2 bulan. Jika ia mengalami testis turun bersamaan dengan hipospadia, harus dilakukan pemeriksaan darah untuk evaluasi masalah endokrin dan kondisi kesehatan lainnya. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   hipospadia,   alat kelamin,   penis