Mother&Baby Indonesia
Waspada Moms, Inilah Kondisi Kehamilan Berisiko Tinggi

Waspada Moms, Inilah Kondisi Kehamilan Berisiko Tinggi

Kehamilan dan persalinan bukan proses yang mudah. Sementara itu, kondisi tertentu akan meningkatkan risiko seorang ibu dan janin untuk mengalami masalah menjelang proses melahirkan.

Kehamilan berisiko tinggi adalah suatu kondisi kehamilan yang bisa mengancam kesehatan dan keselamatan ibu beserta janin yang berada dalam kandungannya. Kondisi ini bukan hanya bisa disebabkan komplikasi saat kehamilan, tapi juga karena suatu kondisi medis yang sudah dimiliki ibu sejak belum hamil. Ibu hamil yang mengalami kondisi ini perlu lebih rajin memeriksakan diri dan membutuhkan pengawasan serta perawatan ekstra dari dokter.

Usia menjadi salah satu faktor utama penentu apakah ibu akan melalui kehamilan berisiko tinggi atau tidak. Jika Anda hamil di atas usia 35 tahun atau justru terlalu muda (misalnya saat remaja), risiko Anda untuk mengalami masalah kesehatan pun meningkat. Berikut adalah kondisi lain yang membuat ibu harus menghadapi kehamilan berisiko tinggi. 



1. Memiliki Masalah Medis

• Gangguan darah. Jika Anda memiliki kelainan darah, seperti penyakit sel sabit atau thalassemia, kehamilan justru bisa memperburuk kondisi Anda. Gangguan darah juga bisa meningkatkan risiko bayi selama kehamilan. Selain itu, bayi juga memiliki risiko mengidap penyakit yang sama setelah dilahirkan.

• Penyakit ginjal kronis. Pada umumnya, kehamilan bisa memberi tekanan besar pada ginjal Anda. Namun pada ibu yang menderita penyakit ginjal kronis, kondisi ini bisa meningkatkan risiko keguguran karena menyebabkan tekanan darah tinggi dan pre-eklampsia, sehingga kemungkinan Anda untuk melahirkan bayi lebih awal akan semakin besar.

• Depresi. Depresi yang tidak diobati atau beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi depresi memiliki risiko terhadap kesehatan dan keselamatan bayi. Anda harus berkonsultasi dengan dokter jika hamil dalam kondisi mengalami depresi.

• Tekanan darah tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan janin Anda tumbuh lambat dan meningkatkan risiko kelahiran prematur. Komplikasi lain yang terkait dengan tekanan darah tinggi adalah pre-eklampsia dan abrupsio plasenta, suatu kondisi serius saat plasenta terpisah sebagian dari rahim sebelum bayi lahir.

• HIV/AIDS dan penyakit Lupus atau penyakit autoimun lainnya bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur.

• Kegemukan. Memiliki indeks massa tubuh berlebihan sebelum kehamilan membuat Anda berisiko lebih besar terkena diabetes gestasional, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi selama kehamilan. Kondisi ini membuat Anda kemungkinan besar harus menjalani operasi caesar.

• Penyakit tiroid. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko keguguran, pre-eklampsia, bayi terlahir prematur, dan memiliki berat badan rendah.

• Diabetes. Jika tidak dikendalikan, diabetes dapat meningkatkan risiko cacat lahir, tekanan darah tinggi, melahirkan bayi prematur, dan bayi terlahir dengan berat badan berlebih.




2. Gaya Hidup

Moms yang merokok atau mengonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol sebelum serta selama masa kehamilan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi. Faktor ini tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, melainkan juga meningkatkan risiko janin mengalami masalah kesehatan.

3. Komplikasi Kehamilan

Kehamilan berisiko tinggi juga dihadapi ibu saat muncul kondisi tertentu selama masa kehamilan, seperti:

• Hamil anak kembar

• Mengalami diabetes gestasional

• Perkembangan janin lambat

• Pre-eklampsia

• Cacat pada janin yang diketahui melalui USG.

Guna menghindari adanya masalah pada ibu dan janin, Moms yang menghadapi kehamilan berisiko tinggi perlu rajin berkonsultasi dengan dokter. Selain itu, Anda juga harus menjalani pola hidup sehat guna mencegah terjadinya komplikasi. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   kehamilan berisiko tinggi,   pre-eklampsia,   darah tinggi,   diabetes










Cover Mei-Juni-Juli 2020