Mother&Baby Indonesia
Waspada, Moms! Bell

Waspada, Moms! Bell's Palsy Sering Menyerang Ibu Hamil

Tidak sedikit penyakit yang muncul kala seorang wanita berada dalam kondisi hamil. Bell’s Palsy adalah salah satunya. Penyakit yang satu ini biasanya dialami ibu yang kehamilannya memasuki trimester ketiga.

Bell’s palsy merupakan penyakit yang menyerang saraf wajah nomor tujuh (Carnial Nerve VII) sehingga menimbulkan kelemahan sementara pada salah satu sisi otot wajah. Saat terserang bell’s palsy, biasanya bagian wajah tersebut terlihat seperti melorot.

Saraf yang rusak pada bagian wajah akan berdampak pada indra perasa dan cara tubuh menghasilkan air mata serta ludah. Umumnya, bell’s palsy datang secara tiba-tiba dan membaik dalam hitungan minggu. Berikut adalah gejala yang dialami saat seseorang terkena serangan bell’s palsy.



• Nyeri telinga pada sisi wajah yang lumpuh

• Berdengung di salah satu telinga atau keduanya

• Penurunan atau perubahan pada indra perasa

• Bagian mulut yang terpengaruh akan mudah berliur

• Mulut terasa kering

• Rasa sakit pada area di sekitar rahang

• Sakit kepala dan pusing

• Kesulitan untuk makan, minum, dan berbicara.

Walau gejalanya mirip dengan stroke, tapi bell’s palsy tak ada hubungannya dengan penyakit tersebut. Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab bell's palsy. Namun pemicu bell’s palsy bisa beraneka ragam, termasuk:

• Kelumpuhan wajah turunan. Kondisi ini terjadi pada anak yang terlahir dengan kelemahan atau kelumpuhan wajah.

• Cedera karena kecelakaan. Terjadi akibat adanya luka robek pada dagu atau retak pada tulang tengkorak.



• Cedera pada operasi. Kondisi ini umumnya terjadi saat menjalani operasi kelenjar parotid.

• Infeksi virus, seperti herpes zoster, herpes simplek, cytomegalovirus, dan lain-lain.

Faktor Risiko

Ada beberapa golongan orang yang memang berisiko tinggi mengalami bell’s palsy. Mereka adalah:

• Orang berusia 15-60 tahun

• Penderita diabetes atau penyakit pernapasan bagian atas

• Penderita HIV AIDS

• Ibu hamil, khususnya trimester ketiga.

Serangan pada Ibu Hamil

Berdasarkan salah satu penelitian, ditemukan bahwa kasus bell’s palsy 3,3 kali lebih banyak terjadi pada wanita yang tengah hamil dibandingkan pada wanita yang tidak berada dalam kondisi tersebut. Hasil ini dikaitkan dengan komposisi cairan ekstraseluler yang tinggi, inflamasi virus, serta karakteristik imunosupresi selama kehamilan.

Namun hipotesis tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Hingga kini belum diketahui secara pasti apa penyebab ibu hamil kerap mengalami penyakit bell’s palsy.

Adapun pengobatan bell’s palsy pada umumnya menggunakan kortikosteroid dan fisioterapi. Akan tetapi penggunaan kortikosteroid pada ibu hamil tidak dianjurkan. Oleh sebab itu, fisioterapi menjadi pilihan utama.

Apabila Moms mengalami bell’s palsy pada masa kehamilan, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Umumnya bell’s palsy bersifat sementara. Akan tetapi tanpa penanganan yang tepat, kelumpuhan di saraf wajah tersebut bisa berpotensi menjadi permanen. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: bell's palsy,   ibu hamil,   kesehatan,   gangguan kehamilan










Cover Mei-Juni-Juli 2020