Mother&Baby Indonesia
Post-Weaning Depression, Depresi pada Ibu Setelah Menyapih

Post-Weaning Depression, Depresi pada Ibu Setelah Menyapih

Menyusui adalah proses istimewa antara ibu dan bayinya. Saat menyusui, ada keterikatan erat antara kedua individu tersebut. Saking eratnya ikatan tersebut, tak jarang Si Kecil seakan tak ingin kegiatan menyusui tersebut berakhir. Alhasil, proses menyapih pun akan sulit untuk dilakukan.

Namun sesungguhya, menyapih bukan hanya terasa berat bagi bayi, melainkan juga bagi sang ibu. Jika setelah berhenti menyusui, Anda mengalami kesulitan tidur pada malam hari, tubuh berkeringat tanpa sebab, dan seringkali merasa gugup, bisa jadi Anda mengalami depresi setelah menyapih atau post-weaning depression. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan rasa sedih dan depresi yang dialami sebagian Moms saat berhenti menyusui buah hatinya.

Kondisi ini bisa terjadi akibat adanya fluktuasi hormon dalam tubuh ibu dan stres yang mungkin timbul ketika dirinya sudah tidak memberikan ASI lagi untuk sang bayi. “Gejalanya antara lain, suasana hati atau mood yang mudah berubah, sering menangis, kelelahan, sulit fokus, dan menjelma menjadi sosok yang tertutup,” jelas Gail Saltz, M.D., profesor psikiatri di New York Presbyterian Hospital, Weill Cornell Medical College di kota New York.



Sering Terabaikan

Post-weaning depression adalah istilah yang mungkin kurang populer di kalangan para Moms. Bahkan sering kali, gejala depresi setelah menyapih dianggap sebagai fenomena biasa dan merupakan bagian dari proses menjadi seorang ibu. Di sisi lain, banyak yang mengira rasa gugup atau perubahan mood yang tiba-tiba disebabkan karena rasa lelah akibat mengurus Si Kecil.

Padahal jika diabaikan atau tidak terdiagnosis dengan benar, post-weaning depression berpotensi menimbulkan masalah kejiwaan pada Anda, Moms. Dan imbasnya nanti juga bisa dirasakan oleh sang buah hati.

Efek Hormon

Menurut Dr. Saltz, post-weaning depression memiliki kaitan yang erat dengan adanya perubahan hormon dalam tubuh ibu. “Hormon oksitosin yang meningkat kala menyusui, tiba-tiba menurun drastis setelah menyapih,” ungkapnya seperti dilansir laman Parents.



“Hormon oksitosin membuat ibu merasa terikat dan nyaman saat menyusui. Setelah menyapih, ibu akan merasa kehilangan perasaan menyenangkan yang sebelumnya ditimbulkan oleh oksitosin sehingga muncul perasaan kehilangan dan sedih,” lanjutnya.

Hormon lain yang juga bisa memengaruhi munculnya post-weaning depression adalah prolaktin. Hormon ini juga meningkat saat ibu menyusui dan membantu Moms merasa tenang. “Berkurangnya hormon prolaktin secara drastis saat menyapih bisa memicu timbulnya perasaan tidak enak pada ibu,” kata Dr. Saltz.

Harus Ditangani

Post-weaning depression perlu segera ditangani agar tidak menjadi pemicu masalah kesehatan lainnya. Apabila Moms mulai merasakan gejalanya, sangat disarankan untuk berbicara dengan pasangan atau mungkin sahabat dekat untuk melegakan perasaan Anda. Jika gejala berlanjut dan semakin parah, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter atau ahlinya. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: post-weaning depression,   menyapih,   depresi










Cover Mei-Juni-Juli 2020