Mother&Baby Indonesia
Ini Cara agar Anak Berani Mengekspresikan Diri

Ini Cara agar Anak Berani Mengekspresikan Diri

Sebagai orang tua, tentu Anda menginginkan Si Kecil menjadi anak yang komunikatif, yang bisa mengekspresikan diri dan perasaannya. Hal ini di karenakan bila Si Kecil memiliki karakter tersebut tentu akan sangat memperlancar komunikasi di antara Anda dan anak. Namun membangun karakter tersebut pada Si Kecil tidaklah mudah, perlu adanya usaha keras dari Moms dan Dads sendiri.

Agar Si Kecil menjadi anak yang komunikatif, orang tua bisa memulai dengan menciptakan interaksi yang berkualitas dalam sebuah keluarga. Interaksi ini tentunya akan tercipta lewat komunikasi yang terjadi antara anak dan orang tua, serta sesama anak dengan anak lainnya di dalam keluarga.

Tantangan menciptakan interaksi berkualitas dalam keluarga

Namun menurut Nabila Dian Nirmala, Psikolog Anak dan Pendidikan, keluarga Indonesia memiliki tantangan dalam membangun pola komunikasi yang terbuka di antara anggota keluarga, karena secara budaya, mayoritas keluarga Indonesia memiliki pola komunikasi intrinsik alias tidak langsung.



Tantangan lainnya, berdasarkan riset terbaru di DKI Jakarta, ada perbadaan antara harapan anak terhadap interaksi keluarga dengan realitanya. Di mana realitanya, kebanyakan orang tua sudah merasa cukup mengungkapkan kasih sayang pada anak dengan memberi barang.

“Sementara anak mengharapkan kehadiran orang tua atau saudara yang utuh dan ada bersama mereka, sehingga ada ruang atau tempat untuk mereka mengungkapkan isi hati mereka,” ujar Dian pada acara Virtual Press Conference Kampanye #SayItWithOreo, (01/07/2020).

Kegiatan berbasis aktivitas mendorong keterbukaan dalam keluarga

Meski tak dipungkiri adanya tantangan, Moms dan Dads tetap bisa meningkatkan kualitas interaksi antara Anda dan Si Kecil. Anda sebagai orang tua masih memegang peranan sentral atau penting, di mana Anda harus bisa memancing anak untuk bercerita. Anda bisa menggunakan salah satu pendekatan yang paling efektif, yaitu melalui kegiatan yang berbasis aktivitas. “Seluruh anggota keluarga beraktivitas bersama-sama dengan suasana yang menyenangkan, memberikan anak stimulisasi untuk kreatif,” jelas Dian.



Menurut sebuah penelitian, membangun suasana yang menyenangkan penting karena dapat berdampak pada tumbuh kembang anak dan relasinya itu sendiri. “Tumbuh kembang anak bisa terasah karena pengetahuan anak lebih banyak, keterampilannya berkreasi dan menciptakan gagasan semakin terasah. Paling tidak anak juga tahu apa yang menjadi minatnya,” tuturnya.

Sedangkan dari sisi relasi, kegiatan yang berbasis aktivitas yang menyenangkan menjadi salah satu jembatan menuju interaksi yang lebih dalam atau bonding. ”Rasa saling percaya antar anak dan orang tua dilandasi oleh bonding. Nah, rasa saling percaya ini bisa terwujud ketika anak dan orang tua sedang beraktivitas bersama-sama,” tambahnya.

Dengan melakukan aktivitas bersama-sama, diharapkan para anggota keluarga akan mengemukakan pendapat, ide, kompromi, atau mengungkapkan ketidaksetujuan. “Bila dalam sebuah keluarga telah terbiasa bertukar gagasan, maksud dan pendapat memang kita akan lebih nyaman untuk memulai mengungkapkan perasaan terdalam kita,” kata Dian.

Nah, tujuan akhir dari sebuah interaksi berkualitas yang terjadi dalam sebuah keluarga adalah para anggota keluarga termasuk Si Kecil menjadi terbuka, memiliki rasa bebas, dan juga menjadi pribadi yang jujur. (Vonda Nabilla/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   komunikasi,   anak komunikatif