Mother&Baby Indonesia
Body Shaming pada Anak, Ini yang Harus Orang Tua Lakukan!

Body Shaming pada Anak, Ini yang Harus Orang Tua Lakukan!

Si gembrot, si kurus, si pesek, si hitam. Moms mungkin familiar ya, dengan panggilan seperti ini sewaktu masih kecil. Mungkin dulu Moms pernah mengalaminya, baik sebagai korban atau pelaku. Mengolok-olok teman karena fisiknya dianggap sebagai bagian dari candaan. Padahal Moms, hal ini termasuk verbal bullying lho, dan korbannya bisa kehilangan rasa percaya diri.

Ya, sengaja maupun tidak, body shaming, atau memberikan komentar negatif terhadap bentuk fisik seseorang sangat mungkin terjadi pada Si Kecil yang masih balita. Ejekan yang berbau fisik bisa saja terlontar saat Si Kecil sedang bermain dengan teman-teman seusianya.

Bagaimana Body Shaming Terjadi pada Anak?

Sama seperti efek hipnotis, anak yang mengalami body shaming pada awalnya akan dibuat percaya jika tubuhnya tidak 'sempurna', misalnya kulitnya yang hitam, bibir tebal, hidung pesek, atau rambut yang keriting.
Nah, jika anak terus-menerus mendengar ejekan tersebut, secara tak sadar ia akan menerima dan menganggap bahwa kondisi fisiknya yang menjadi bahan ejekan itu adalah suatu kekurangan pada dirinya yang harus segera disingkirkan.



Dari sinilah akan timbul rasa kekecewaan terhadap bentuk tubuh sendiri. Jika dibiarkan, kondisi ini akan terus terjadi hingga dewasa nanti, dan membuatnya berusaha menghilangkan 'kekurangan' tersebut dengan berbagai cara. Dari segi psikologis sendiri, body shaming ini bisa menyebabkan Si Kecil merasa rendah diri, mengalami penurunan self image, maupun self concept yang buruk. 

Bagaimana Mengatasinya?

Suatu hari, penyanyi asal Amerika Serikat, Pink, tiba-tiba dikagetkan oleh putrinya, Willow, yang tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya adalah gadis yang jelek. “Mama, aku adalah perempuan terjelek yang aku tahu,” ujarnya saat akan pergi ke sekolah.

Bagi ibu mana pun, tentu perempuan paling cantik baginya adalah anak perempuannya sendiri, dan tentunya sangat mengagetkan saat mendapati putri kesayangannya berpendapat seperti ini. Nah, sebagai orang tua, apa yang baiknya dilakukan ketika mendapati si buah hati menjadi korban body shaming?

1. Dengarkan Keluhannya

Moms, mendengar Si Kecil disakiti, tentu rasanya ingin membalas pelaku, dan ingin langsung saja protes kepada orang tuanya, ya. Tapi, sebisa mungkin, tahan diri dulu dan tetap bersikap tenang meskipun Si Kecil datang kepada Anda dan menangis tersedu-sedu karena hal ini.

Biarkan Si Kecil meluapkan emosinya terlebih dahulu. Moms bisa membuatnya lebih nyaman dengan memberikan pelukan atau mengusap punggungnya. Setelah sama-sama sudah bisa menguasai diri, tanyakan pada Si Kecil bagaimana hal itu bisa terjadi, dengarkan ceritanya dengan seksama, lalu Moms bisa mulai bertanya jika Si Kecil terlihat sudah siap menjawab.

2. Jangan Menyangkal

Satu hal yang paling sering dilakukan para orang tua dan kerap salah kaprah adalah menyangkal saat anak mendapat perlakuan body shaming. Coba ingat-ingat, pernah enggak Moms berkata, “Enggak kok, kamu enggak gendut, enggak hitam, enggak pendek..”. Padahal respons ini sebenarnya kurang tepat lho, Moms.

Lebih baik, jelaskan pada Si Kecil apa adanya, namun beri juga penjelasan agar anak bisa belajar menerima tubuhnya sendiri. Misalnya, saat anak diejek berkulit hitam, katakan saja ia memang berkulit hitam, dan jelaskan kenapa kulit setiap orang berbeda sambil memberikan informasi mengenai kelebihan kulit hitam. Moms juga bisa menambahkan misalnya, “Nih lihat, kulit mama dan papa cokelat gelap, aneh kan, kalau kulit kamu putih sendiran.”

Jadi Nak, kita tidak perlu berubah. Kita menerima kerikil dan kulit kerang tapi kita bisa mengubahnya menjadi mutiara, dan kita bantu orang lain untuk menjadi dirinya sendiri sehingga kita bisa melihat lebih banyak kecantikan dari diri mereka. - Pink

3. Beri Dukungan

Saat mengalami body shaming, secara bersamaan rasa percaya diri Si Kecil juga sedang berada di titik terendah. Jadi, selalu beri dukungan dengan mengatakan kalimat yang bisa membuatnya berharga (karena memang Si Kecil sangat berharga, Moms!).

Jelaskan bahwa setiap orang memang diciptakan berbeda-beda, setiap orang pun istimewa dan tak perlu bersedih karena memiliki kulit, ukuran tubuh, maupun rambut tertentu. Sebutkan kelebihan Si Kecil seperti ia yang jago menari, berbakat main basket, giginya yang putih bersih dan sehat, atau suaranya yang bening seperti malaikat. Tegaskan juga kepadanya bahwa apa yang ia lakukan jauh lebih penting dari penampilan, dan yang paling penting bahwa Moms menyayanginya apa adanya.

4. Beri Solusi

Jika menjelaskan saja belum cukup untuk Si Kecil, Moms tentunya juga bisa memberi solusi. Misalnya, jika Si Kecil diejek karena ukuran tubuhnya yang mungil dan pendek, katakan padanya untuk rajin minum susu, atau tawarkan Si Kecil untuk mengikuti kursus renang yang bisa membantunya agar ia tumbuh optimal, dan berbagai hal lainnya agar ia tetap percaya diri.

5. Ajari Cara Hadapi Pelaku



Langkah pertama tentunya dengan meminta Si Kecil mengabaikan ejekan si pelaku. Namun, jika ia masih menerima body shaming dari temannya, ajarkan anak dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak suka dan merasa terganggu. Tidak perlu memaksa Si Kecil untuk tetap berteman dengan si pelaku. Sarankan pada Si Kecil untuk hanya berteman dengan orang-orang yang bisa membuatnya merasa nyaman.

6. Intervensi Jika Meresahkan

Memang, akan jauh lebih baik jika Si Kecil bisa membela dirinya sendiri, bukan Moms yang membantu membela dirinya agar ia lebih siap untuk mengatasi berbagai tantangan kehidupan yang mungkin saja tak selalu indah. Namun, ketika body shaming sudah mengarah pada level psychological attack dan Si Kecil sudah tak mampu mengatasi situasinya serta cara halus tak bisa membuat body shaming mereda, Moms bisa membantunya melapor kepada sekolah, orang tua, atau bahkan pelaku, tergantung di mana hal tersebut terjadi, sehingga hal ini bisa diselesaikan dengan baik.

Bagaimana Jika...

Anak tak kebal dari perilaku menyimpang. Di luar sana, anak tak hanya menjadi korban body shaming tapi juga kerap menjadi pelaku. Lalu, bagaimana jika ternyata Si Kecil adalah pelaku body shaming? Tentu saja dampaknya akan sama seperti bullying.

Selain bisa membuat Si Kecil jadi public enemy, jika dibiarkan, Si Kecil pun akan sulit menghargai orang lain, menjadi pribadi yang rasis dan sulit menerima perbedaan dari bentuk fisik. Sebagai orang tua, kita bisa segera melakukan hal-hal seperti berikut:

1. Jangan Langsung Memarahi

Cari situasi yang tepat dan tenang, lalu tanyakan maksud dari perbuatan Si Kecil. Cari tahu juga apakah anak mengerti bahwa yang ia lakukan termasuk perundungan dan bukanlah perbuatan yang baik.

2. Jelaskan Tentang Perbedaan

Buat Si Kecil paham dan menghargai perbedaan dengan menceritakan bahwa fisik seseorang tidak menentukan kualitasnya sebagai manusia yang baik atau buruk.

3. Tanamkan Rasa Empati

Wajar jika kadang Si Kecil mengatakan berbagai hal tanpa berpikir akibatnya, dan suatu keharusan bagi semua orang tua untuk mengingatkan mereka. Ajarkan bagaimana Si Kecil berempati dan sampaikan untuk selalu berhati-hati dalam berucap karena kadang bercanda pun dapat berakibat buruk.

4. Segera Minta Maaf

Sengaja ataupun tidak sengaja melakukannya, ajarkan Si Kecil untuk segera minta maaf secara tulus agar si korban tidak berlarut-larut sedih atau sakit hati karena menerima perlakuan tersebut.

5. Saatnya Berkaca

Moms, tak ada salahnya untuk melihat ke dalam diri kita sendiri, jangan-jangan selama ini Moms tak sadar sering menilai orang lain dari fisiknya, atau sering mengeluhkan bentuk tubuh sendiri. Tidak perlu merasa bersalah Moms, masih ada waktu untuk berubah, kok. Jika Moms sudah percaya diri dengan self image, secara tak langsung, Moms juga ikut mengubah pola pikir Si Kecil akan konsep tubuh dan nilai diri. (Nanda Djohan/SW/Dok. Freepik)



Tags: body shaming,   bullying,   verbal bullying,   balita,   anak