Mother&Baby Indonesia
Mitos Seputar Menggendong Bayi dan Fakta Sebenarnya

Mitos Seputar Menggendong Bayi dan Fakta Sebenarnya

Banyak ibu yang percaya salah satu cara agar Si Kecil merasa nyaman dengan lingkungan barunya adalah dengan menggendongnya. Beberapa studi menyebutkan menggendong bayi dapat mengatur suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasannya, serta membangun bonding antara Anda dan Si Kecil.

Aktivitas menggendong bayi memang dapat meningkatkan rasa cinta dan nyaman. Namun, pernahkah Moms mendengar bahwa kebiasaan menggendong yang berlebihan dapat memunculkan kecenderungan Si Kecil untuk terus minta digendong, atau dikenal dengan istilah 'bau tangan' dan menjadi manja?

Anda tentu tak asing dengan istilah tersebut. Padahal ini hanya mitos belaka. Ada banyak lagi mungkin mitos yang Anda dengar ya, Moms. Berikut ini beberapa mitos yang ada seputar menggendong bayi dan faktanya yang perlu Anda ketahui.



1. Bayi akan ‘bau tangan’ dan manja kalau sering digendong

Moms mungkin sering mendengar orang tua yang menyarankan agar jangan terlalu sering menggendong bayi Anda, karena bisa membuatnya jadi ‘bau tangan’, maksudnya Si Kecil akan manja dan selalu minta digendong terus. Faktanya, dilansir dari Livestrong disebutkan bahwa frekuensi menggendong tidak menimbulkan sifat manja pada Si Kecil kelak selama orang tua mendidik anak mereka untuk mandiri.

Perkembangan kemandirian bayi tidak akan terganggu hanya dengan kebiasaan menggendong. Bayi yang lebih sering digendong justru merasa aman dan nyaman. Perasaan ini membuatnya jauh lebih percaya diri menghadapi tantangan. Bahkan, di beberapa negara, para ibu yang menggendong bayi mereka sepanjang hari tidak merasakan efek negatif apa pun. Menurutnya, aktivitas menggendong hanya akan membuat ibu dan bayi menjadi lebih dekat dan memperkuat bonding mereka.

2. Menggendong bayi akan membuatnya terlambat berjalan

Banyak orang bilang bayi yang sering digendong akan mengalami keterlambatan berjalan karena ia cenderung nyaman berada di dalam gendongan dan membuatnya malas belajar berjalan. Faktanya, bayi usia 9 bulan ke atas akan lebih aktif menggerakkan tangan dan kakinya saat ia digendong.

Hal ini menunjukkan bahwa menggendong pun juga bisa menstimulasi kemampuan motorik Si Kecil. Dengan digendong, otot kaki dan lengannya jadi lebih kuat serta terlatih sekaligus menstimulasi pertumbuhan tulang, sehingga saat belajar merangkak, ia akan lebih mudah menggerakkan tangan dan kakinya.



3. Menggendong bisa menyebabkan gangguan tulang belakang pada bayi

Pernah dengar mitos ini, Moms? Menggendong bayi terlalu lama dapat menyebabkan gangguan tulang belakang, karena tulang bayi sebenarnya belum kuat menahan berat tubuhnya sendiri. Menggendong Si Kecil dalam posisi tertentu bahkan bisa menghambat perkembangan tulang bayi.

Faktanya, menurut Dr. Heiner Bierdermann, ahli ortopedi asal Jerman, bayi dengan kondisi tubuh sehat dan normal dapat menanggung semua posisi menggendong, bahkan posisi yang kurang tepat sekalipun. Justru ibulah yang cenderung berisiko mendapatkan gangguan tulang belakang, terutama jika terlalu lama menggendong bayi namun dengan posisi yang salah.

4. Bayi menjadi cengeng karena sering digendong

Banyak Moms yang percaya kebiasaan menggendong hanya akan membuat bayi menjadi cengeng dan manja. Si Kecil hanya mau digendong, dan jika ditaruh, ia akan menangis kencang. Faktanya, dalam jurnal Parenting International disebutkan bahwa bayi baru lahir yang lebih sering digendong justru cenderung lebih jarang menangis, lebih percaya diri, dan lebih mandiri di kemudian hari.

Namun, setelah usia 6 bulan, Moms bisa mulai melatih Si Kecil menenangkan dirinya sendiri. Misalnya, saat ia tiba-tiba terbangun dan menangis di malam hari, Anda tidak harus bergegas menggendongnya, selama semua kebutuhannya sudah terpenuhi, seperti mengganti popoknya yang kurang nyaman dan menyusuinya saat ia haus, kecuali jika bayi Anda dalam keadaan sakit. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   menggendong bayi,   mitos fakta