Mother&Baby Indonesia
Moms Perlu Tahu, Kapan Demam Bisa Berbahaya untuk Bayi?

Moms Perlu Tahu, Kapan Demam Bisa Berbahaya untuk Bayi?

Tidak sedikit orang tua yang langsung panik saat mendapati suhu tubuh bayi mereka naik dan mengalami demam. Ya, demam merupakan keluhan yang paling sering ditemui pada bayi dan menyebabkan kekhawatiran orang tua.

Demam sendiri bukanlah penyakit, melainkan pertanda atau gejala dari suatu penyakit. "Penyebab paling umum dari anak demam adalah infeksi," ujar Dr. Elia Maalouf, dokter anak dan neonatologis di Portland Hospital, London. 

Ketika terjadi infeksi di dalam tubuh Si Kecil, tubuhnya akan mengeluarkan yang disebut dengan inflammatory response untuk melawan infeksi. Sirkulasi darah akan meningkat di sekitar area yang terinfeksi dan membawa antibodi yang dibutuhkan untuk meredakan infeksi.



Hal tersebut menyebabkan suhu tubuhnya meningkat, yang dapat membunuh bakteri dan virus yang tidak tahan panas. Jadi ketika termometer menunjukkan suhu tubuh yang di atas normal, Anda bisa mengambil sisi positifnya. "Itu menjadi indikasi tubuh anak Anda mengumpulkan respons efektif untuk melawan infeksi," kata Dr. Elia.

Banyak orang tua masih percaya bahwa semakin tinggi suhu tubuh anak, maka semakin parah sakitnya. Padahal tidak begitu. Bayi dengan suhu tubuh 38 derajat Celsius bisa saja merasa nyaman dan masih aktif bermain, sementara yang suhu tubuhnya di bawah itu malah rewel dan tampak lesu.

Bayi yang tampak nyaman meski sedang demam sesungguhnya tidak memerlukan obat penurun panas. Sebaliknya, anak yang menjadi lebih rewel, tidak aktif, lesu, atau mau makan dan minum perlu segera diberikan penanganan meski demamnya tidak terlalu tinggi, Moms.

Kapan Demam Bisa Berbahaya untuk Bayi?

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) seperti dikutip dari laman IDAI.or.id, pada sebagian besar anak, demam dapat diobservasi di rumah. Akan tetapi, orang tua perlu mengetahui kapan saat yang tepat membawa anak yang demam ke dokter.

Menurut IDAI, secara umum anak yang demam harus dibawa ke dokter jika:

• Usia anak kurang dari 3 bulan tanpa memandang keadaan anak secara umum

• Anak usia 3-36 bulan yang demam lebih dari 3 hari atau terdapat tanda bahaya

• Anak usia 3-36 bulan dengan demam yang tinggi (mencapai atau lebih dari 39 derajat Celsius)

• Anak semua usia yang suhunya lebih dari 40 derajat Celsius

• Anak semua usia dengan kejang demam

• Anak semua usia yang demam berulang lebih dari 7 hari walaupun demam hanya berlangsung beberapa jam saja

• Anak semua usia dengan penyakit kronik seperti penyakit jantung, kanker, lupus, penyakit ginjal

• Anak yang demam disertai ruam.

Selain itu, Si Kecil harus sesegera mungkin dibawa ke dokter jika ditemui tanda-tanda bahaya sebagai berikut:



• Tidak merespons atau susah dibangunkan atau tidak bisa bergerak

• Kesulitan bernapas

• Bibir, lidah, dan kuku tampak kebiruan

• Ubun-ubun terlihat membonjol atau cekung

• Ada kekakuan di leher

• Nyeri kepala hebat

• Nyeri perut hebat atau muntah-muntah

• Terdapat ruam atau bintik-bintik berwarna keunguan seperti memar

• Tidak mau makan atau minum dan terlihat terlalu lemah untuk minum

• Menangis terus-menerus

• Anak gelisah

• Posisi tubuh condong ke depan dan tidak dapat mengontrol air liur

• Buang air kecil menjadi sedikit atau jarang.

Jadi tidak perlu panik berlebihan jika bayi Anda demam ya, Moms. Namun juga jangan menyepelekan demam pada anak. Cek terus demam anak secara rutin, sehingga Anda tahu, apakah Si Kecil hanya perlu istirahat di rumah atau harus segera dibawa ke dokter. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   anak,   demam










Cover Mei-Juni-Juli 2020