Mother&Baby Indonesia
Benarkah Ibu dengan Mata Minus Tak Boleh Melahirkan Normal?

Benarkah Ibu dengan Mata Minus Tak Boleh Melahirkan Normal?

Ada banyak mitos maupun perdebatan seputar dunia kehamilan dan persalinan. Salah satu yang mungkin Moms pernah dengar adalah larangan bagi ibu dengan mata minus untuk melakukan persalinan normal atau normal vaginal delivery (NVD). Hal ini tentu menjadi perhatian tersendiri, terutama bagi Anda yang sedang hamil, bersiap melahirkan, dan memiliki kondisi mata minus. Lalu apakah hal ini benar? Bahayakah ibu dengan mata minus untuk melahirkan secara normal atau NVD? Simak penjelasannya berikut, Moms.

Penelitian tentang Persalinan pada Ibu dengan Mata Minus

Sejak lama dokter kandungan, bidan, serta dokter spesialis mata dan penglihatan memiliki kekhawatiran yang sama seputar mata minus atau miopi (terutama minus yang besar) dan metode persalinan yang tepat. NVD yang spontan oleh ibu dengan mata minus tinggi ditakutkan dapat menyebabkan terjadinya ablasio retina, dan berujung pada kebutaan.

Sebenarnya hingga kini belum ditemukan penelitian medis yang membuktikan bahwa NVD tak bisa dilakukan oleh ibu dengan mata minus. Tidak ada cukup bukti ilmiah yang dapat membuktikan kebenaran tentang kekhawatiran ini. Sebaliknya, beberapa penelitian menemukan bahwa NVD tetap dapat direkomendasikan bagi para ibu yang memiliki mata minus.



Sebuah penelitian asal Jerman pada tahun 1997 menyatakan bahwa peningkatan intraokular selama tahapan kedua persalinan menyebabkan badan kaca pada mata (vitreous body) ditekan terhadap retina. Hal ini dapat mengurangi risiko retina robek (retina tear) maupun lepas dari jaringan penopangnya (retinal detachment).

Pada sebuah literatur yang dimuat di jurnal Deutsches Arzteblatt International tahun 2014, disebutkan bahwa persalinan normal melalui vagina tidak berkaitan dengan ablasio retina (retina detachment) pada perempuan yang memiliki miopi tinggi.

Selain itu, menurut sebuah survei yang dimuat di Journal of Current Ophthalmology, 73% dokter spesialis mata di Iran menyetujui dilakukannya persalinan normal pada ibu yang memiliki kondisi miopi tinggi, sedangkan 100% dokter kandungan setuju bahwa rekomendasi dokter spesialis mata dibutuhkan untuk menentukan metode persalinan. Tidak ada dokter spesialis mata partisipan survei ini yang merekomendasi aborsi akibat miopi yang tinggi.



Risiko Retina Robek

Meskipun demikian, kondisi mata saat hamil dapat mengalami perubahan dan tak sedikit yang baru mendapatkan gejala miopi saat trimester akhir kehamilan. Melansir Kompas, dr. Iwan Soebijantoro, Sp.M(K), menyatakan bahwa seseorang yang memiliki minus mata yang tinggi berisiko besar mengalami perobekan pada retina mata. “Banyak ditemui dalam klinis, ternyata (pada) retinanya sudah ada robekan kecil atau rengat (retak bergaris) pada orang dengan minus mata tinggi,” kata dr. Iwan.

Selain itu, kondisi mata setiap orang sangatlah berbeda. Risiko retina robek atau lepas dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Terdapat pula banyak faktor lainnya, seperti kondisi diabetes atau tekanan darah tinggi yang sangat memengaruhi penentuan metode persalinan yang tepat, sekalipun bagi ibu yang memiliki miopi tinggi.

Maka dari itu, memeriksakan kondisi mata secara rutin selama masa kehamilan sangat dianjurkan bagi Anda yang memiliki minus mata tinggi. Tindakan ini perlu dilakukan untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Moms bisa kontrol ke dokter spesialis mata setiap tiga bulan sekali sebagai tindakan waspada yang tepat. Jangan lupa konsultasikan hasil kontrol mata Anda dengan dokter kandungan ya, Moms! (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: hamil,   ibu hamil,   mata minus,   miopi,   persalinan,   ibu melahirkan