Mother&Baby Indonesia
Masalah Sel Telur yang Bisa Berefek pada Kehamilan

Masalah Sel Telur yang Bisa Berefek pada Kehamilan

Keinginan untuk hamil bagi setiap wanita tentu baru bisa terjadi jika sel telur ada dalam kondisi baik serta sperma yang sehat dan berkualitas. Namun pada kenyataannya, kondisi sel telur yang tidak sempurna bahkan rusak ini bisa menimbulkan gangguan tertentu.

Setidaknya terdapat tiga masalah yang bisa timbul akibat rusaknya sel telur dan berefek pada kehamilan. Meski begitu, ketiga gangguan kehamilan ini bisa diatasi dengan pemeriksaan dan Anda dapat menjalani gaya hidup yang sehat.

Kehamilan Anembryonic

Salah satu kondisi tersebut dikenal dengan hamil kosong atau kehamilan anembryonic. Hal ini terjadi karena adanya kelainan kromosom yang berada di dalam inti sel, sehingga wanita tampak hamil namun tanpa janin di dalam rahimnya yang terus bertumbuh. Kondisi yang juga disebut belighted ovum ini memiliki tanda yang serupa dengan kehamilan normal.



Anda akan merasakan nyeri pada payudara, mual, muntah, tidak haid, hingga positif saat menjalani tes kehamilan. Seiring waktu, rahim dan plasenta yang bertumbuh tanpa janin pun akan terhenti. Hal ini menyebabkan kadar hormon kehamilan menurun drastis dan menunjukkan tanda keguguran, seperti pendarahan pada vagina, adanya bercak merah, hingga kram pada perut. 

Masalah ini mungkin saja tidak berulang dan bahkan calon ibu bisa hamil lagi. Namun, berbeda dengan keguguran yang bisa terjadi berulang kali, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter kandungan untuk mencegahnya di kemudian hari.


Mutasi Gen Bawaan

Saat pembuahan, sel telur dan sel sperma akan bergabung dan membentuk bakal janin di dalam kandungan. Pada proses ini, mungkin saja terjadi perubahan atau mutasi pada salah satu gen di dalam sel telur atau sel sperma. Kondisi ini tentu bukan sepenuhnya kesalahan yang dilakukan calon ibu atau ayah, karena hal ini terjadi saat di dalam perut. 

Tetapi, hal ini memang bisa membuat calon bayi yang terbentuk memiliki gangguan atau kecacatan. Akibatnya, mutasi genetik bawaan ini bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Penyakit yang bisa timbul ini di antaranya hemofilia, Down syndrome, atau tumor Wilms.



Kehamilan Anggur

Kelainan yang terjadi pada sel telur diduga menjadi penyebab terjadinya kehamilan anggur. Kondisi tersebut didasari oleh faktor jumlah kromosom pada DNA yang ada pada sel telur dan sel sperma. Apabila ada kekurangan atau kelebihan kromosom, maka kehamilan anggur atau dikenal juga dengan kehamilan mola bisa muncul.

Ada dua kondisi berbeda yang terjadi pada kehamilan mola, yaitu:

• Kehamilan mola parsial: terjadi ketika janin terbentuk namun tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna.

• Kehamilan mola lengkap: terdapat sel abnormal yang terbentuk di dalam rahim, sehingga tidak ada perkembangan atau pembentukan janin sama sekali.

Kondisi ini umumnya tidak menunjukkan gejala khusus, tetapi akan terjadi pendarahan atau munculnya cairan berwarna cokelat kemerahan dari vagina pada usia kandungan 8-14 minggu. Dan jika sudah terdeteksi, hampir selalu berakhir dengan keguguran. Dokter akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan jaringan di dalam rahim dengan prosedur kuret untuk mencegah komplikasi lanjutan. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   hamil,   sel telur