Mother&Baby Indonesia
Mitos Alat Kontrasepsi? Ini Fakta dari Dokter Kandungan

Mitos Alat Kontrasepsi? Ini Fakta dari Dokter Kandungan

Bagi Moms yang ingin memberikan jarak antar kehamilan, penggunaan kontrasepsi pasti menjadi salah satu prioritas Anda. Memilih alat kontrasepsi memang agak membingungkan ya, Moms, terlebih begitu banyak mitos dan fakta yang beredar di luar sana.

Namun, jangan keburu bingung dulu, Moms! Yuk, ketahui fakta di balik beberapa mitos seputar kontrasepsi yang sering beredar! Fakta-fakta menarik ini didapat langsung dari pakarnya, yaitu dr. Arie Aldila Pratama, SpOG, dari Primaya Evasari Hospital. Simak penjelasan dr. Arie saat InstaLive bersama M&B, Moms.

Mitos: Pil KB adalah alat kontrasepsi paling tidak efektif

Ada pil kombinasi yang isinya estrogen dan progesteron. Ada juga mini pil, isinya 1 hormon yaitu progesteron aja. “Angka keberhasilan pil KB tinggi sekali, jika digunakan dengan baik, hanya 1 dari 1000 orang yang gagal. Jadi sangat sangat efektif nih, efektivitasnya,” jelas dr. Arie.



Menurutnya, alat kontrasepsi yang paling tidak efektif adalah kondom. “Dari 1.000 pengguna kondom, sekitar 200 orangnya bisa hamil. Jadi angka kegagalannya termasuk tinggi, angka keberhasilannya hanya 80 persen dan kegagalannya 20 persen cukup tinggi, ya,” ujar dr. Arie.

Mitos: KB suntik membuat rahim kering

“Sebenarnya bukan rahimnya kering, ya, tetapi cara kerja KB suntik itu adalah menipiskan dinding rahim. Jadi kalau kita bicara mengenai menstruasi, itu terjadi ketika dinding rahim menebal, dan kemudian luruh. Dengan diberikan KB suntik yang dilakukan per 3 bulan itu tadi, maka dinding rahim akan tipis terus, dan akhirnya tidak jadi menstruasi. Jadi bukan bikin kering rahim, ya, tetapi cara kerjanya saja yang memang menipiskan dinding rahim,” papar dokter obgyn di balik akun @spog.arie ini.

Mitos: Spiral bisa hilang di dalam rahim

"Kalau memasangnya benar dan kondisi rahim juga baik saat itu, maka spiral pasti akan tetap di situ. Kalau ada yang bilang spiral atau IUD bisa jalan-jalan berpindah posisi, mungkin yang dimaksud adalah keluar dari vagina. Kondisi ini disebut dengan ekspulsi, yaitu keluarnya IUD dari rahim melalui vagina. Ini terkadang saat keluar tidak terasa, sehingga saat diperiksa, spiralnya sudah hilang,” jelas dr. Arie.



Mitos: Pakai spiral mengganggu kesuburan

Menurut dr. Arie, salah satu keuntungan memakai kontrasepsi spiral atau IUD adalah tidak mengganggu kesuburan. “Spiral tidak bermain dengan hormon. Begitu kita copot spiralnya, asalkan sama-sama subur, sperma bagus, sel telur bagus, bisa langsung hamil,” ujar dr. Arie.

Mitos: Pil KB menekan produksi ASI

"Ingat, tidak semua kontrasepsi memengaruhi ASI. Adapun kontrasepsi yang memengaruhi seperti yang ada hormon estrogennya. Seperti suntikan yang 1 bulan sekali itu memengaruhi ASI karena ada estrogennya. Pil kombinasi yang ada estrogen dan progesteron itu juga memengaruhi ASI,” jelas dr. Arie. 

Karena itu, jika ibu ingin memakai kontrasepsi tanpa memengaruhi produksi ASI, maka dr. Arie menyarankan untuk memilih spiral atau IUD, suntikan 3 bulan, pil mini, dan implan atau KB susuk. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: kontrasepsi,   kesuburan,   spiral,   iud,   pil kb,   kehamilan,   fertilitas










Cover Mei-Juni-Juli 2020