Mother&Baby Indonesia
Mengenal D-MER, Perasaan Cemas dan Sedih saat Menyusui

Mengenal D-MER, Perasaan Cemas dan Sedih saat Menyusui

Menjadi ibu baru merupakan pengalaman yang membahagiakan bagi seorang wanita, melihat bayi Anda lahir dengan selamat, lalu memeluknya erat saat momen menyusui Si Kecil tiba sambil membangun ikatan yang kuat di antara Anda berdua.

Namun, tidak semuanya berjalan dengan sempurna dan menyenangkan ketika waktu menyusui bayi tiba. Beberapa ibu terkadang mendapati perasaan negatif menerpa dirinya saat hendak memberi ASI pada Si Kecil. Tiba-tiba saja muncul perasaan seperti gelisah, cemas, sedih, bahkan takut, dan berbagai emosi negatif lainnya sesaat sebelum ASI keluar.

Tidak sedikit para ibu menyusui yang mengalami hal ini. Gelombang emosi yang melanda tersebut umumnya berlangsung tidak lama, sekitar 30 detik hingga 2 menit. Sebenarnya, apa yang mereka alami bukanlah baby blues atau depresi pasca persalinan. Kondisi ini dikenal dengan istilah Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER), dan jika tidak diatasi bisa menjadi masalah serius bagi para ibu menyusui. Yuk, kenali lebih jauh seputar D-MER berikut ini, Moms!



Apa Itu Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER)?

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di International Breastfeeding Journal, Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER) merupakan suatu kondisi di mana ibu menyusui mengembangkan emosi negatif yang dimulai sesaat sebelum refleks pengeluaran ASI. Kondisi ini berlangsung kurang dari beberapa menit.

Disforia sendiri didefinisikan sebagai keadaan tidak tenang atau gelisah yang mendalam. Pada kondisi ini, ibu menyusui mengalami periode singkat disforia yang dimulai sesaat sebelum refleks pengeluaran ASI dan berlanjut selama tidak lebih dari beberapa menit. Kondisi ini bisa terjadi setiap kali Anda mengeluarkan ASI atau hanya di awal menyusui.

D-MER selalu menghadirkan reaksi emosional, juga bisa menimbulkan perasaan hampa atau bergejolak di perut. Ketika mengalami D-MER, Moms dapat mengalami emosi yang tidak menyenangkan, mulai dari depresi hingga kecemasan dan kemarahan. Masing-masing emosi ini dapat dirasakan pada tingkat intensitas yang berbeda, tapi hanya berlangsung kurang dari beberapa menit.

Penyebab D-MER pada Ibu Menyusui

D-MER baru dikenal beberapa tahun belakangan ini, dan alasan pasti penyebabnya juga belum diketahui. Namun, beberapa teori mengungkapkan fakta bahwa dopamin merupakan penyebab utama munculnya gangguan ini. Hal tersebut merupakan respons fisiologis yang terkait dengan penurunan tiba-tiba zat kimia dopamin sebelum ASI keluar.



Ketika ASI akan keluar, tubuh ibu menyusui melepaskan prolaktin, hormon yang memberikan sinyal kepada tubuh dan merangsang untuk memproduksi ASI. Menurut penelitian, agar kadar prolaktin naik untuk menghasilkan lebih banyak ASI, kadar dopamin harus turun. Namun, pada ibu menyusui yang mengalami D-MER, dopaminnya akan turun lebih cepat dari biasanya, yang bisa menyebabkan disforia dan mengganggu emosi ibu menyusui dengan cara negatif.

Mengatasi D-MER pada Ibu Menyusui

Karena tidak diketahui secara pasti penyebab D-MER, tidak ada obat untuk mengatasinya. Namun bagi sebagian ibu menyusui, memompa ASI secara rutin dapat membantu meminimalkan kesedihan yang mereka rasakan ketika ASI keluar.

Namun, dikutip dari Parents, banyak ibu menyusui mengakui bahwa D-MER yang mereka rasakan hilang setelah bayi berusia beberapa bulan. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya tingkat hormon yang stabil atau durasi dan kualitas tidur yang membaik.

Namun jika kasusnya parah, Moms perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter untuk memperoleh penanganan lebih serius guna mengatasi D-MER secara lebih efektif. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: ibu menyusui,   dysphoric milk ejection reflex,   d-mer










Cover Mei-Juni-Juli 2020