Mother&Baby Indonesia
Awas Ortoreksia! Gangguan Makan Akibat Obsesi Makanan Sehat

Awas Ortoreksia! Gangguan Makan Akibat Obsesi Makanan Sehat

Di tengah pandemi virus corona seperti saat ini, menerapkan gaya hidup sehat adalah pilihan terbaik agar tak mudah sakit. Untuk memulainya, langkah termudah adalah menerapkan pola makan sehat, seimbang, dan tentunya bergizi.

Ya, pola makan sehat memang baik bagi tubuh, namun jangan sampai Anda terobsesi dengan pola makan sehat berlebihan, karena itu bisa menyebabkan ortoreksia lho, Moms! Yuk, baca lebih lanjut untuk tahu lebih banyak mengenai gangguan makan yang satu ini.

Apa Itu Ortoreksia?




Umumnya para pengidap ortoreksia hanya ingin menerapkan pola makan yang lebih sehat, yang serba alami, dan dengan proses masak yang lebih sehat juga. Namun saking sempurnanya niat untuk menerapkan pola makan sehat, orang tersebut pun sampai terobsesi dengan makanan sehat, hingga akhirnya justru membuatnya tidak sehat.

Menurut penjelasan Alina Petre, MS, RD, pakar gizi, pada Healthline, yang disebut ortoreksia adalah orthorexia nervosa, suatu gangguan makan akibat obsesi tidak sehat dengan pola makan sehat. Tidak seperti gangguan makan lain, pengidap ortoreksia umumnya hanya terobsesi dengan kualitas makanan dan nutrisi optimal, bukan kuantitas. Sedangkan pada pengidap anoreksia atau bulimia, fokus utama mereka adalah menurunkan berat badan.

Pengidap ortoreksia sangat teliti dengan kualitas makanan yang akan dikonsumsi. Semua yang ia makan harus serba organik, juga sudah ditimbang kandungan gizinya. Mereka menghabiskan waktu yang lama untuk meneliti semua bahan masakan yang akan ia makan, apakah sayurnya pakai pestisida, apakah dagingnya disuntik hormon, apakah ditumis dengan minyak zaitun, dan sederet keraguan lainnya pada makanan.

Parahnya, mereka memilih tidak makan sama sekali daripada harus mengonsumsi makanan yang tidak berkualitas tinggi. Ini bisa menyebabkan penurunan berat badan drastis, yang tentunya tidak sehat bagi tubuh.

Apa Penyebab Ortoreksia?

Walau awalnya hanya ingin menerapkan pola makan sehat agar tubuh semakin sehat dan tak mudah sakit, namun fokus ini perlahan bisa semakin ekstrem dan membahayakan diri. Salah satu faktor risiko ortoreksia adalah perfeksionisme, kecemasan berlebih, atau keinginan untuk mengontrol kesehatan secara berlebih.

Beberapa studi juga menyebutkan bahwa mereka yang fokus pada kesehatan demi karier, memiliki risiko lebih tinggi mengalami ortoreksia. Contoh pekerjaan yang sering mementingkan kesehatan demi karier adalah pekerja kesehatan, penari balet, dan atlet.

Apa Gejala Ortoreksia?

Mengutip Healthline, beberapa tanda untuk mendiagnosis ortoreksia adalah:

 • Pikiran yang salah. Sikap kompulsif membuat pengidap ortoreksia percaya kalau hanya makanan sehat yang bisa mengoptimalkan kesehatannya. Makanan yang menurutnya tidak sehat membuatnya cemas berlebih dan merasa mudah sakit.

 • Cemas karena memaksakan diri. Membuat aturan ketat untuk makan sehat dan memaksakan diri untuk menaatinya membuat pengidap ortoreksia cemas, malu, takut sakit, dan berbagai sensasi negatif pada fisiknya.

 • Aturan ketat. Pengidap ortoreksia memaksakan aturan ketat dan seringkali nyaris mustahil tentang pola makan sehatnya. Aturan ketat ini bahkan bisa terus meningkat hingga ia tidak mau makan beberapa jenis makanan yang menurutnya kurang sehat.



Apa Dampak Ortoreksia?

Tentu saja dampak negatif ortoreksia lebih banyak dibandingkan dampak positifnya, seperti:

• Gangguan makan

• Masalah pencernaan

• Ketidakseimbangan hormon dan elektrolit

• Kesehatan tulang menurun

• Penurunan berat badan

• Kehidupan sosial buruk

• Waktu terbuang untuk riset makanan

• Kemampuan problem-solving berkurang

• Tidak fokus pada keluarga dan pekerjaan. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: ortoreksia,   orthorexia,   gangguan makan,   kesehatan