Mother&Baby Indonesia
Ketahui Chemical Pregnancy, Haid Setelah Positif Hamil

Ketahui Chemical Pregnancy, Haid Setelah Positif Hamil

Tentu sangat membingungkan bila setelah seminggu Anda dinyatakan hamil, lalu Anda mengalami haid. Namun sebenarnya kondisi ini umum terjadi lho, Moms! Hal ini dikenal dengan istilah chemical pregnancy atau kehamilan kimiawi.

Chemical pregnancy merupakan keguguran yang terjadi pada awal masa kehamilan. Melansir laman Alodokter, umumnya chemical pregnancy terjadi pada usia kehamilan kurang dari 5 minggu di mana lewat pemeriksaan USG pun belum bisa terlihat tanda kehamilan sama sekali.

Chemical pregnancy terjadi ketika sel sperma berhasil membuahi sel telur dan terjadi pembuahan yang menyebabkan hasil testpack positif, namun sel telur tidak dapat bertahan dan akhirnya mengalami keguguran.



Bagaimana gejala wanita yang mengalami chemical pregnancy?

Chemical pregnancy sebenarnya tidak memiliki gejala. Bahkan beberapa wanita mengalami keguguran dini tanpa menyadari bahwa mereka sedang hamil. Hal ini dikarenakan perdarahan yang terjadi mirip haid yang terlambat datang, namun sedikit lebih berat dengan disertai rasa nyeri perut dan perdarahan lebih banyak.

Melansir laman Healthline, perdarahan setelah tes kehamilan positif tidak selalu berarti chemical pregnancy. Pendarahan juga sering terjadi selama implantasi, yaitu saat embrio menempel pada rahim. Proses ini dapat memecah atau merusak pembuluh darah kecil di sepanjang lapisan rahim, sehingga menghasilkan pelepasan darah.

Bercak seperti keputihan berwarna merah muda atau kecokelatan ini sering muncul dan hal ini normal terjadi pada 10 hingga 14 hari setelah pembuahan.

Apa yang menyebabkan chemical pregnancy?

Hingga kini, penyebab chemical pregnancy belum diketahui secara pasti. Namun dalam kebanyakan kasus, keguguran biasanya disebabkan oleh masalah dengan embrio dan rendahnya kualitas sperma atau sel telur. Selain itu penyebab lain yang memungkinan terjadi chemical pregnancy di antaranya:

• Kadar hormon abnormal,

• Kelainan rahim,



• Implantasi di luar rahim,

• Infeksi seperti klamidia atau sifilis.

Risiko mengalami chemical pregnancy juga lebih besar terjadi pada wanita berusia di atas 35 tahun, sama seperti risiko masalah medis tertentu, misalnya pembekuan darah dan gangguan tiroid.

Bagaimana penanganan chemical pregnancy?

Meski tidak ada penanganan khusus untuk menangani jenis keguguran ini, ada beberapa opsi untuk membantu Anda bisa hamil kembali. Jika Anda memiliki riwayat chemical pregnancy lebih dari satu kali, dokter akan melakukan tes untuk mendiagnosis kemungkinan penyebab yang mendasari chemical pregancy yang Anda alami. Jika dokter dapat mengobati penyebabnya, ini dapat mengurangi risiko kehamilan kimiawi berikutnya.

Jika keguguran dini disebabkan oleh infeksi yang tidak terdiagnosis, biasanya dokter akan memberikan antibiotik untuk membersihkan infeksi sehingga dapat meningkatkan peluang Anda untuk hamil dan melahirkan secara sehat kembali. Jika keguguran disebabkan oleh masalah dengan rahim Anda, prosedur bedah mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah ini sehingga nantinya Anda bisa menjalani kehamilan yang sehat.

Bila Anda mengalami chemical pregnancy, bukan berarti tubuh Anda tidak bisa memiliki kehamilan yang sehat. Jika Anda mengetahui alasan keguguran dini pada kehamilan Anda, tentu Anda dapat mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan begitu penyebab chemical pregnancy yang Anda alami dapat ditangani dengan baik. (Vonda Nabilla/SW/Dok. Freepik)



Tags: chemical pregnancy,   kehamilan kimiawi,   haid setelah hamil,   hamil,   kehamilan