Mother&Baby Indonesia
7 Tips Menahan Emosi Kala Anak Berulah

7 Tips Menahan Emosi Kala Anak Berulah

Moms, menjadi seorang ibu terbukti tidak mudah, ya. Selain harus lihai dalam mengatur semua kebutuhan rumah tangga, Anda juga dituntut untuk bersabar menghadapi tingkah laku anak.

Maklum, Si Kecil sesekali juga bisa membuat Anda kesal. Apalagi saat pandemi COVID-19 di mana ruang gerak anak sangat terbatas sehingga tingkahnya mungkin membuat Anda semakin geregetan.

Saking kesalnya, tak jarang Anda kesulitan mengontrol emosi di depan anak. Jika terjadi terus-menerus, emosi berlebihan yang Anda perlihatkan kepada Si Kecil bisa mengganggu perkembangan mentalnya, lho. Yuk, simak tips berikut ini agar Moms lebih bisa menahan emosi ketika anak mulai berulah.



1. Perlukah Marah?

Sebelum Anda berkata-kata dengan nada tinggi, coba tanyakan kepada diri Anda sendiri “Perlukah Anda marah melihat ulah Si Kecil?”. Tidak semua kenakalan Anak perlu mendapatkan respons berupa kemarahan. Jadi sebelum Anda marah, tetapkan dulu mana sikap anak yang memang perlu mendapat teguran keras dan hukuman, serta mana yang masih bisa dibicarakan dengan baik-baik. 

2. Menenangkan Diri

Ketika melihat Si Kecil melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati Anda, coba diam sejenak dan tenangkan diri Anda. Ada kalanya, keinginan untuk marah tersebut justru timbul karena Moms tengah dilanda stres atau merasa lelah. Jika begitu, maka hal sepele pun bisa membangkitkan amarah Anda.

Jadi untuk menghindari luapan emosi, Moms bisa melakukan berbagai cara guna membuat diri menjadi lebih tenang. Anda bisa menarik napas panjang lalu perlahan mengembuskannya. Lakukan metode ini beberapa kali. Atau Anda juga bisa sejenak menjauh dari Si Kecil.

3. Kendalikan Nada Bicara

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat Anda semakin tenang berbicara maka semakin mudah untuk menenangkan perasaan dan menahan emosi. Sebaliknya, jika Moms menggunakan kata makian atau bentakan, maka emosi Anda juga semakin meningkat. Kendalikan cara bicara dan coba bicara kepada Si Kecil sehangat mungkin. Semakin sering dilatih, Moms akan lebih bisa menguasai diri dan membuat anak mengerti bahwa perilakunya salah.

4. Pelajari Penyebabnya

Ketika anak melakukan kesalahan atau perbuatan yang membuat Anda kesal, coba pikirkan dulu kira-kira apa yang sebenarnya membuat Si Kecil melakukan hal tersebut. Luangkan waktu selama kurang lebih sepuluh menit untuk mencari tahu alasannya.



Jangan-jangan, ia melakukan hal tersebut hanya untuk menarik perhatian Anda yang terlalu sibuk dengan gadget. Dengan mempelajari alasan anak melakukan tindakan tertentu, Moms bisa menempatkan diri di posisi Si Kecil dan tidak langsung menuduh macam-macam kepadanya. Perlu diperhatikan, tuduhan Anda bisa membuat Si Kecil sakit hati dan justru semakin menunjukkan sikap memberontak.

5. Pikirkan Efeknya

Memarahi atau berteriak hingga Si Kecil terdiam, mungkin terasa melegakan bagi Anda. Namun perlu diketahui, tindakan ini hanya memiliki efek sesaat. Bukan tak mungkin anak justru akan merasa sedih dan kecewa berkepanjangan, atau bahkan menaruh dendam terhadap Anda yang telah memakinya.

Jika demikian, anak akan selalu mengingat perbuatan Anda. Hal tersebut tentu akan memengaruhi hubungan Anda dengan Si Kecil. Jadi pikirkan dulu apa efeknya bagi anak sebelum Anda memakinya.

6. Hindari Hukuman Fisik

Terkadang, Anda sangat marah terhadap perbuatan Si Kecil hingga muncul keinginan untuk memukul atau mencubitnya. Ketahuilah Moms, hukuman fisik hanya akan memberikan efek negatif pada perkembangan mental Si Kecil.

Jadi sekesal apa pun, hindari memberikan hukuman fisik kepada anak. Akan lebih baik jika Anda memberikan peringatan kepada anak terlebih dahulu, sebelum menjatuhkan hukuman seperti tidak boleh menonton televisi pada sore hari atau membatasi jatah penggunaan gadget-nya.

7. Tetapkan Batas

Terapkan batas tegas antara sikap disiplin dan kasih sayang. Mengakui perasaan dan menghibur anak setelah kemarahan tidak berarti harus menyerah pada kemauan mereka. Meski terlihat sulit, tapi tindakan ini akan membantu anak menghadapi tantangan emosional dalam kehidupannya. Selain itu, anak juga akan menjadi sosok yang tangguh dan mampu memecahkan permasalahannya di kemudian hari. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   anak,   menahan emosi