Mother&Baby Indonesia
Ini Dia Alergi yang Sering Dialami oleh Balita!

Ini Dia Alergi yang Sering Dialami oleh Balita!

Bersin-bersin, kulit gatal dan ruam, hingga diare bisa muncul sebagai gejala alergi. Bahkan, dalam kasus terburuk, alergi dapat menyebabkan sesak napas! Maka, Moms perlu cermati dan waspada dengan kondisi Si Kecil. M&B telah merangkum beberapa alergi yang umum terjadi pada balita, simak penjelasan berikut.

1. Alergi Makanan


Menurut Centers for Disease Control (CDC), empat hingga enam persen anak-anak di Amerika Serikat memiliki alergi makanan, dengan jumlah bayi dan balita lebih banyak daripada anak-anak yang lebih tua. Berbeda dari intoleransi makanan (food intolerance), alergi makanan dapat menyebabkan reaksi pada sistem imun yang memengaruhi beberapa fungsi organ tubuh.



Food and Drug Administration mewajibkan para produsen makanan untuk membuat daftar tentang delapan bahan makanan yang umum menimbulkan alergi. Adapun delapan makanan yang sering menyebabkan alergi adalah 

• Susu

• Telur

• Kacang tanah

• Kacang pohon, seperti almond, kacang mete, dan walnut

• Ikan, umumnya kakap, kod, dan flounder

• Hewan laut bercangkang, seperti kepiting, lobster, dan udang

• Kedelai

• Gandum.

Terdapat beberapa reaksi alergi makanan yang umum terjadi, antara lain:

• Kulit: eksim, bengkak pada wajah atau anggota tubuh lain, rasa gatal dan bengkak pada bibir dan lidah, dan sebagainya.

• Sistem pencernaan: mual, muntah, sakit perut, diare

• Sistem pernapasan: hidung meler atau hidung tersumbat

• Sistem kardiovaskuler: pingsan, kepala terasa ringan.

Tak perlu khawatir berlebih, karena daya tahan tubuh Si Kecil akan berkembang sempurna sehingga alergi terhadap makanan cenderung akan hilang dengan sendirinya. Menurut Kids Health, ada kabar baik bagi Si Kecil yang alergi makanan, antara lain:

• 80% anak alergi susu mampu tumbuh mengatasi alergi ini.

• Dua pertiga anak dengan alergi telur mampu tumbuh mengatasi alergi ini.



• 80% anak dengan alergi gandum atau kedelai akan mengatasi alergi di umurnya yang kelima.

• 20% anak dengan alergi kacang tanah akan tumbuh tanpa alergi.

• 10% anak dengan alergi kacang akan tumbuh mengatasi alergi.

2. Alergi Musim


Alergi terhadap musim tertentu, atau yang sering disebut sebagai hay fever, merupakan salah satu bentuk alergi yang muncul saat perubahan musim, biasanya saat tumbuhan menyebarkan serbuk sari ke udara. Menurut American College of Allergy, Asthma & Imunology, alergi ini dialami oleh lebih dari enam juta anak di Amerika Serikat. Bila Si Kecil mengalami flu di bulan atau masa yang sama setiap tahunnya, ini dapat menjadi tanda bahwa Si Kecil memiliki alergi musiman. Beberapa gejala yang umum muncul, antara lain bersin-bersin, hidung atau tenggorokan yang terasa gatal, hidung tersumbat, mengeluarkan lendir atau ingus, dan batuk.

Bila gejala-gejala di atas disertai dengan mata yang memerah, gatal, dan berair, maka Si Kecil mengalami alergi konjungtivitis. Selain itu, bila Si Kecil mengalami gejala-gejala di atas disertai sesak napas atau napasnya pendek, alergi dapat berujung atau menyebabkan asma. Moms perlu hubungi dokter untuk berkonsultasi soal cara penanganan yang tepat. Dokter mungkin akan menyarankan untuk mengambil uji coba alergi atau darah.

3. Alergi Hewan


Menurut Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA), 30% penderita alergi memiliki alergi terhadap kucing dan anjing. Melansir Every Day Health, alergi terhadap hewan disebabkan oleh protein yang ditemukan pada urine, air liur, atau dander (kulit mati yang sudah terkelupas), bukan oleh bulu. Protein ini dapat menempel di dinding rumah, furnitur, atau pakaian dalam jangka waktu lama.

Adapun beberapa gejala akibat reaksi alergi terhadap hewan yang umum muncul, antara lain hidung tersumbat, mata gatal dan berair, sesak napas, serta asma.

Cara terbaik untuk mencegah alergi ini adalah dengan merelakan kepergian hewan peliharaan. Berkonsultasi dengan dokter juga dapat membantu memecahkan masalah. Walau begitu, ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk mengatasi alergi pada hewan tanpa ‘menelantarkan’ peliharaan, antara lain:

• Pastikan ruangan Si Kecil bebas hewan peliharaan dan selalu bersih.

• Ganti lapisan kain penutup barang dengan bahan non kain atau yang mudah dicuci, untuk turunkan risiko dander menempel pada perabot.

• Konsultasikan dengan dokter hewan tentang perawatan untuk mengurangi dander. Mandikan hewan peliharaan secara rutin untuk menjaga kebersihan bulu-bulunya.

• Pilih jenis hewan dengan dander yang sedikit. Jenis anjing yang dapat cocok bagi Si Kecil antara lain anjing poodle, schnauzer, dan Portuguese water (anjing air portugal).

4. Alergi Dalam Ruangan

Rumah atau perabot rumah tangga dapat memiliki alergen tersendiri bagi Si Kecil, hal ini sering disebut sebagai indoor allergy. Hal-hal di dalam rumah yang sering menyebabkan alergi antara lain debu, dander hewan, jamur, dan kecoak.

Gejala reaksi alergi dalam ruangan yang sering muncul adalah hidung gatal dan mampet; lendir hidung yang bening; mata yang terasa gatal, berair, bengkak dan memerah; bersin-bersin; tenggorokan gatal dan bengkak; batuk; serta dada terasa sesak

Cara penanganan pertama yang bisa Moms lakukan adalah dengan menjaga kebersihan ruangan. Bila gejala tampak sangat parah, maka konsultasi dengan dokter adalah cara terbaik untuk mengenali penyebab alergi dan langkah penanganannya. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: alergi,   balita,   penyakit