Mother&Baby Indonesia
Balita Pelit, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Balita Pelit, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sebagai orang tua, Moms tentu ingin Si Kecil dapat tumbuh mejadi pribadi yang baik dan berguna bagi banyak orang, tak terkecuali sebagai pribadi yang murah hati dan senang berbagi. Tapi memang, tak jarang anak berusia di bawah lima tahun terlihat pelit dan terkesan pelit. Lalu, apakah hal ini termasuk normal? Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasi hal ini?

Bagian dari Tahapan Pertumbuhan

Dilansir dari Baby Center, Paul Coleman, psikolog, terapis keluarga, dan penulis buku How to Say It to Your Kids, menyatakan bahwa balita yang pelit merupakan hal yang normal. Ini karena dalam rentang usia ini, Si Kecil masih memikirkan dirinya sendiri dan sangat menghargai kepemilikan pribadi. Jadi, memang wajar bila ia tidak membagikan barang yang dianggap sebagai miliknya.

“Mungkin kita berpikir bahwa mainan hanyalah sebuah boneka Barbie atau tentara plastik, tapi sebenarnya identitas seorang anak terkunci pada mainan tersebut,” ujar Paul. Walau begitu, sikap pelit ini tidak melulu muncul. Pada usia ini, sikap balita masih sering berubah-ubah. Mungkin ia tak mau meminjamkan mainannya, tapi beberapa menit kemudian ia akan menawarkan Anda untuk bermain dengan mainannya.



Cara Hilangkan Pelit pada Balita

Seiring dengan pertumbuhan Si Kecil, rasa empatinya juga akan semakin berkembang sehingga sikap pelit dan egoisnya dapat hilang secara perlahan-lahan. Tapi agar sikap pelitnya bisa benar-benar hilang, balita tak bisa belajar sendiri. Anda perlu membantu Si Kecil dengan mengajarkannya, Moms.

Dilansir dari Baby Center, ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk membantu Si Kecil agar tidak pelit, antara lain:

1. Berikan contoh. Memberi contoh adalah metode pengajaran terbaik, Moms. Jadi misalkan saat waktunya makan, Anda bisa tawarkan makanan Anda kepada Si Kecil. Selain itu, menghabiskan aktivitas bersama yang meninggalkan impresi kemurahan hati juga bisa dilakukan. Anda bisa ajak Si Kecil dengan, “Mama sedang membuat kue, nih. Yuk bantu, Mama.”

2. Diskusikan keinginan dan kebutuhan orang lain. Di tahapan dunia ini, Anda perlu membuka wawasan dunia Si Kecil sehingga ia menyadari bahwa ada orang-orang lain yang juga memiliki keinginan dan kebutuhan yang lain. Sebagai contoh, saat ia meminta susu cokelat, coba tanyakan apa yang orang lain juga inginkan. “Oke, itu yang kamu inginkan. Sekarang, menurutmu apa yang Papa akan suka? Kita harus membawakan Papa apa?”

3. Ajarkan bahwa berbagi dapat bersifat sementara. Si Kecil akan merasa lebih baik saat ia tahu bahwa ia bisa memberikan mainannya kepada kawan dan masih mendapatkannya kembali. Jelaskan bahwa temannya hanya meminjam bonekanya sebentar dan akan mengembalikkannya, boneka tak akan dibawa temannya pulang dan tetap menjadi miliknya.



4. Tunjukkan bahwa Anda tidak menyukai sikap egois. Katakan dengan jelas bahwa Anda tidak menyukai ketika Si Kecil memegang semua mainan untuk dirinya sendiri. Sebisa mungkin jangan berikan hukuman bila ia tetap tidak mau berbagi, karena bukannya membuatnya murah hati hal ini dapat membuatnya semakin menentang Anda.

5. Berikan afirmatif. Pujilah sikapnya saat ia mau berbagi, katakan bahwa sikapnya membuat Anda bahagia atau bangga. Si Kecil akan merasa senang bila tahu ia dapat membuat Anda senang. Tak perlu khawatir bila Anda harus memujinya setiap saat agar Si Kecil tidak pelit, karena sikap murah hati akan muncul secara alami seiring dengan perkembangannya.

6. Tak semua hal perlu dibagikan, Moms. Anda tentu tak benar-benar ingin tetangga mengendarai mobil baru Anda, kan? Atur beberapa hal yang bisa Si Kecil simpan untuk dirinya sendiri. Tidak apa-apa bila Si Kecil tidak mau meminjamkan boneka kelinci kesayangannya, tapi jelaskan bahwa ia harus berbagi dan meminjamkan berbagai mainan lain miliknya.

7. Biarkan ia belajar dari teman sebayanya. Salah satu cara belajar terbaik adalah berinteraksi dengan orang lain. Tahan diri untuk tidak nimbrung saat Si Kecil dan teman-temannya sedang rebutan mainan, karena Si Kecil akhirnya belajar cara berkompromi saat ia menyadari sikap egoisnya dapat menyebabkan teman-temannya tak mau lagi bermain dengannya.

8. Ketahui alasan Si Kecil. Saat Anda pindah rumah atau baru masuk ke dalam lingkungan baru, Si Kecil membutuhkan kenyamanan dan rasa aman ekstra. Dan hal ini bisa ia dapatkan dengan memegang atau bermain dengan hal tertentu. Bila benar alasannya begini, Anda perlu berikan ia sedikit waktu untuk merasa nyaman sebelum mengajarinya untuk berbagi (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: balita,   anak,   balita pelit,   anak pelit










Cover April 2020