Mother&Baby Indonesia
Bayi sangat sensitif? Waspadai Tanda Gangguan Sensorik!

Bayi sangat sensitif? Waspadai Tanda Gangguan Sensorik!

Moms, apakah bayi Anda sering rewel dan terlihat tak nyaman tanpa sebab tertentu? Gejala-gejala tersebut mungkin saja mengindikasikan bahwa Si Kecil mengalami gangguan sensorik.

Gangguan sensorik atau yang biasa disebut sensory processing disorder (SPD) adalah suatu kondisi di mana otak kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui pancarindra.

Beberapa anak dengan gangguan sensorik sangat sensitif terhadap hal-hal di sekitar mereka. Suara yang biasa saja atau umum akan terasa berlebihan dan mungkin menyakitkan bagi mereka. Sentuhan ringan dari pakaian juga berpotensi melukai kulit Si Kecil yang memiliki gangguan sensorik.



Tanda-Tanda Bayi Mengalami Gangguan Sensorik

Gangguan sensorik bisa terjadi pada orang dewasa. Namun, seringkali tanda-tandanya sudah mulai terlihat sejak balita atau bahkan ketika masih bayi. Gangguan sensorik bisa terjadi dalam bentuk hipersensitif (anak terlalu sensitif terhadap sesuatu rangsangan) atau hiposensitif (tidak responsif terhadap stimulasi pada indra tertentu).

Biasanya, masalah ini terjadi pada bayi yang memiliki gangguan spektrum autisme. Gejala adanya gangguan sensorik pada bayi sebagai berikut:

• Bayi sering rewel meski sudah kenyang atau diganti popoknya.

• Terlalu sensitif terhadap suara, sentuhan, bau, cahaya, dan lain sebagainya pada kasus hipersensitif, atau sebaliknya, justru tak merespons stimulasi pada kasus hiposensitif.

• Si Kecil selalu bergerak, tapi gerakannya tak terkoordinasi dengan baik.

• Menghindari stimulasi visual.

• Sering terjatuh saat bayi mulai belajar merangkak atau berjalan sebagai efek dari pergerakan yang tidak terkontrol.

• Tanpa disadari, menggunakan tenaga besar saat memegang sesuatu.

• Mengalami kolik, GERD, dan nyeri kembung saat bayi.



• Sering mengalami sembelit dan masalah pencernaan.

• Sering mengalami infeksi telinga dan sinus.

• Mengalami tortikolis (gangguan pada leher otot yang mengakibatkan kepala miring) dan plagiocephaly (sindrom kepala peyang pada bayi).

Penyebab SPD

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab bayi bisa mengalami SPD. Namun penelitian menunjukkan bahwa anak yang lahir dari orang tua dengan spektrum autis memiliki risiko gangguan sensorik yang lebih tinggi. Begitu pula dengan bayi yang lahir prematur atau mengalami malnutrisi (kekurangan gizi) sehingga berpotensi memicu adanya gangguan sensorik.

Selain itu, cedera lahir traumatis pada bagian leher atas dan area batang otak juga disinyalir bisa memicu terjadinya gangguan sensorik pada bayi. Cedera yang dimaksud bisa diakibatkan karena bayi terjatuh, perkembangan yang kurang sempurna karena penggunaan baby walker, jumper, atau car seat yang tidak sesuai dengan anjuran.

Jangan Dibiarkan

Jika bayi Anda menunjukkan gejala-gejala gangguan sensorik, Moms sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau ahlinya. Gangguan sensorik memang tidak bisa diobati. Akan tetapi dengan terapi khusus yang disesuaikan dengan masalah yang muncul, Si Kecil akan bisa mengatasi masalah tersebut seiring dengan bertambahnya usia. Tujuan utama dari terapi tersebut adalah untuk:

• Mengembangkan intelektual, kemampuan sosial, dan emosi anak.

• Meningkatkan kepercayaan diri ketika anak mulai besar.

• Mempersiapkan badan dan pikiran Si Kecil agar lebih siap untuk belajar.

• Membantu Si Kecil untuk berinteraksi dengan positif terhadap lingkungan sekitar. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   gangguan sensorik,   hipersensitif,   hiposensitif,   spektrum autis,   sensory processing disorder